Friday 23rd October 2020,

Konferwil VII PWNU Bali 2020; Gerak Langkah Generasi Menuju Seabad NU

Konferwil VII PWNU Bali 2020; Gerak Langkah Generasi Menuju Seabad NU
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Nahdlatul Ulama sebagai Organisasi Masyarakat (Ormas) terbesar di dunia sedang menginjak usia matang. Organisasi berlandaskan ideologi Islam Nasionalis dengan dasar Pancasila yang memiliki jumlah anggota diperkirakan mencapai angka 90 juta ini akan berumur 100 tahun pada 2026 mendatang.

Berbagai lika-liku proses pendewasaan telah dilalui NU sejak didirikan di Surabaya pada tahun 1926 silam oleh para ulama yang dikomandoi KH Hasyim Asy’ari.

Perjalanan ormas dengan anggota mayoritas kalangan masyarakat menengah ke bawah ini tidak selalu berjalan mulus di setiap fase generasi yang dilewatinya, penuh keprihatinan sejak masa pra kemerdekaan, pasca proklamasi, orde lama, orde baru, bahkan di masa reformasi. Terlihat saat NU memegang pucuk pimpinan negeri dengan terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden RI, badai politik yang menghadang pun mencapai puncaknya hingga tergulingnya Gus Dur dari kursi Presiden secara tidak wajar.

Bukanlah NU jika mudah baperan. Sejak saat itu, dengan berkaca dari pengalaman berpuluh tahun sebagai pejuang perekat bangsa, NU semakin kokoh menancapkan simpatinya di hati masyarakat. Anggotanya tidak pernah berkurang malah semakin bertambah dengan pesat saat pasca reformasi. Semua ini tidak lepas dari manajemen organisasi yang visioner dan progresiv diterapkan secara cerdas serta maksimal oleh petinggi-petingginya di setiap tingkatan. Di era ini pula NU meluaskan jangkauannya hingga ke mancanegara dengan PCINU.

Tak pelak mata dunia mulai meliriknya. Sebagai agen perubahan, NU dengan gencar mengkampanyekan Islam Rahmatan lil Alamin dan Pancasila yang akhirnya menjadikannya identitas karakter masyarakat Islam Indonesia. Banyak negara Islam di dunia menjadikannya role model alternatif untuk melahirkan perdamaian, rasa nasionalisme dan persatuan.

Begitu pula di dalam negeri sendiri, simpatisan NU tidak lagi terbatas dari kalangan pesantren dan tradisionalis. Keluwesan Islam moderat yang terbungkus dalam keindahan tradisi dan budaya mulai menarik perhatian kaum urban dan milenial. Pengejawantahan faham Ahlussunah Wal Jamaah yang teraplikasi dalam kehidupan bernegara sangat relevan menangkal maraknya rongrongan aksi intoleran dan radikalisme yang dibawa oleh kaum jihadis trans nasional. Sekali lagi NU diuji, dalam perannya sebagai perekat bangsa yang multi etnis dan religi ini. Dan sekali lagi pula NU lolos dari ujian tersebut bersama gerbong kebangsaannya yang semakin padat dan sesak.

Ungkapan bahwa NU ibarat sekelompok orang yang mendorong mobil mogok, lalu ditinggal setelah mobil itu hidup dan berjalan, tidak sekalipun menyurutkan keteguhan kaum nahdliyyin akan pentingnya mendahulukan keutuhan bangsa diatas yang lain. Seperti yang dicontohkan Gus Dur di detik-detik pelengserannya.

Bersamaan dengan melesatnya perkembangan zaman dan teknologi, usia gerbong kebangsaan NU semakin tua dan tertinggal. Kini NU butuh gerbong baru yang mampu bergerak lebih gesit, efisien, responsif dan akomodatif tanpa meninggalkan esensi nilai-nilai azasnya.

PBNU telah memulai dengan meningkatkan kualitas SDM struktural NU di lintas lembaga dan banomnya. Gelombang pengiriman intelektual muda NU untuk belajar di luar negeri terlihat sangat signifikan sebagai upaya beradaptasi dengan era globalisasi, sehingga tidak menjadi generasi yang ‘kagetan’ di kancah internasional.

Demikian juga apa yang dilakukan sekarang oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Bali (PWNU Bali) melalui Konferwil VII 2020 yang akan dihelat dalam waktu dekat ini. Tantangan yang dihadapi oleh NU Bali ke depan tidak sederhana, namun semakin kompleks ditengah masa pandemi yang diakui telah meruntuhkan sendi-sendi perekonomian masyarakat Bali. Pulau Bali yang bergantung dari sektor pariwisata diperkirakan akan lebih lambat merekonstruksi ketahanan ekonominya disebabkan ketergantungannya terhadap kondisi internasional. Wisatawan mancanegara yang menjadi harapan pemulihan ekonomi Bali masih menunggu kebijakan dari masing-masing negara bersangkutan untuk bisa bepergian.

Disinilah dibutuhkan kreativitas ekstra dibarengi sikap profesionalitas mumpuni untuk mengelola organisasi NU Bali saat ini, sehingga tetap dapat menjadi tempat bersandar bagi anggotanya baik struktural maupun kultural dalam kondisi sulit, sekaligus bisa berkontribusi secara positif menjaga stabilitas sosial masyarakat Bali secara umum, dengan cara menjalin keharmonisan sinergi bersama pemerintah daerah dengan intensif.

Dengan begitu banyaknya tantangan yang dihadapi, kiranya NU Bali perlu tetap berbenah diri. Peningkatan kinerja organisasi yang dicapai dalam beberapa tahun terakhir, dengan tersampaikannya program-program organisasi kepada kalangan kultural secara jelas dan menarik lewat aktivitas media online di semua plattform yang dibangun dengan serius dan massive memang terlihat sangat efektif. Antusiasme warga Nahdliyyin Bali akan geliat organisasi terus meningkat, yang otomatis makin menumbuhkan ikatan emosional antara struktural dan kultural.

Potensi SDM NU Bali khususnya di kalangan milenial sekarang cukup dapat diperhitungkan, dan sepertinya kini adalah saat yang tepat memberi mereka kesempatan untuk mulai berkiprah mewarnai gerbong baru NU Bali ke depan. Sebab di usia satu abad NU nanti adalah medan perjuangan mereka sesungguhnya, dan jika saat itu tiba, mereka sudah harus siap menghadapinya. Dengan tetap dalam bimbingan para ulama sebagai tonggak organisasi tentunya.

Dari semua diatas, perlu diingat oleh kita bersama, bahwa setiap generasi memiliki zamannya, dan begitu pula sebaliknya. Keberlangsungan organisasi sangat ditentukan oleh sebagaimana siap kader generasi berikutnya dalam menjawab tantangan zaman.

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

1 Comment

  1. Suharsono August 29, 2020 at 3:19 pm

    Pokoke maju terus menyeru Islam rohmatan lil alamin

Leave A Response


Translate »