Thursday 23rd September 2021,

Konsep Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara

Konsep Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Hazin Maleo

Mengamati perkembangan dunia pendidikan di negri ini  mengingatkan pada pernyataan yang diungkapkan oleh bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara yaitu; ing ngarso sing tulodho” yaitu ketika di depan publik kita harus memberikan contoh yang baik bagi orang lain. kedua “ing madyo mangun karso” ketika di tengah atau di antara publik, kita harus mangon karso atau bekerja keras dan membangun kinerja yang baik. Ke tiga “tut wuri handayani” ketika di belakang kita harus memberi semangat dan motivasi kepada orang lain.

Ada banyak pelajaran penting yang dapat diambil dari pernyataan yang di sampaikan beliau. Setidaknya nanti dapat dijadikan barometer  untuk mengukur seberapa jauh perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia. Semenjak  terpilihnya Nadiem Anwar Makarim,  generasi milenial  yang diangkat oleh presiden Joko Widodo menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan (MENDIKBUD) nyatanya banyak formulasi baru yang mulai diberikan meskipun jelas banyak sekali pro kontra yang muncul. Salah satunya adalah tentang penghapusan ujian nasional pada tahun 2021.

Sebagai lulusan Harvard Business School dan sekaligus mantan founder  Go-Jek, jelas saja seorang Nadiem Makarim tidak asal memunculkan gagasan tanpa diiringi beragam pengamatan objektif sekaligus penelitian yang komprehensif. Terbukti penyelenggaraan UN tahun 2021 nantinya akan dirubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survey Karakter yang terdiri dari kemampuan bernalar dengan menggunakan bahasa (literisasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerisasi), dan penguatan pendidikan karakter.

Terobosan yang diambil pak mentri ini nyatanya disambit positif oleh anggota komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifuddian. Menurutnya, restorasi kebijakan pendidikan tersebut ternyata mengacu pada data dan penelitian atau riset. Sebab konsep tersebut menurut Hetifah sejalan dengan semangat untuk mengevaluasi sistem pendidikan nasional yang dikaji dalam lingkungan internal mendikbud dengan melibatkan berbagai pihak yang konsen dalam dunia pendidikan. (dikutip dari Liputan 6, 20 Desember 2019)

Gebrakan tersebut mulai dilakukan sebelum memasuki upaya penghapusan UN pada 2021. Terobosan ini dikenal dengan sebutan merdeka belajar. Di dalamnya terdapat empat poin yaitu ujian sekolah berstandar nasional (USBN), ujian nasional (UN), rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan peraturan penerimaan peserta didik baru (PPDB)

Setidaknya semua konsep yang ditawarkan pak Nadiem cukup mampu memberikan angin segar terhadap pemangku kepentingan (stake holder) dalam pendidikan, terlebih dengan rencana penghapusan ujian nasional pada tahun 2021 banyak pihak yang mendukung penuh supaya target tersebut bisa tercapai, meskipun ada sebagian yang kurang mengakui. Mengingat problematika yang dialami masyarakat dalam menghadapi UN jelas menimbulkan masalah baru. Seperti halnya tingkat kelulusan peserta didik hanya ditentukan oleh mata pelajaran yang diujikan, akselerasi pemerataan fasilitas yang tidak seimbang antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community), hingga beban psikologis yang dialami orang tua dan murid ketika tidak mendapatkan kelulusan.

Diakui atau tidak konsep pendidikan dan upaya penghapusan UN pada 2021 harus benar-benar di konsep secara matang dan komprehensif jangan pernah setengah-setengah sebab wacana demikian sudah terlanjur ada pada tahun-tahun sebelumnya namun tidak perbnah terealisasikan sampai sekarang. Untuk itulah ada baiknya kita mengingat kembali terhadap konsep pendidikan ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara atau Soewardi Surjaningrat adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan. Lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta. Beliau merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolomnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan belanda.  Dikenal sebagai tokoh pendidikan yang menolak praktik pendidikan yang mengandalkan kekerasan. Dan berjuang menyebarkan konsep pendidikan ala Taman Siswa. Selain itu, Ki Hajar Dewantara juga mengedepankan pendidikan karakter. Beliau mengajarkan bagaimana kita bisa memerdekakan diri kita sendiri dan tentu saja merdeka sebagai rakyat, bangsa dan Negara. Salah satu prinsip yang diajarkan beliau adalah ngandel, kandel, kendel, dan bandel.

Ngandel berarti percaya diri, kandel berarti tebal dan berisi, kendel berarti berani sedangkan  bandel berarti pantang menyerah. Singkatnya Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang percaya diri dan berani baik sebagai individu maupun bagian dari sebuah bangsa.

Cukup jelas relevansinya konsep pendidikan yang digagas Ki Hajar Dewantara dengan Mendikbud, Nadiem Kariem, bahwa sejatinya dalam proses belajar mengajar itu haruslah ada semacam merdeka belajar, yang tanpa harus di intervensi dengan beragam aturan dan sistem yang ujung-ujungnya malah membuat peserta didik kurang mendapat tempat dalam menyalurkan potensi yang dimilikinya. Dan terpenting pula penyemaian karakter yang baik ke dalam diri peserta didik juga harus menjadi fokus utama. Sesuai dengan Perpres Nomor 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter.

(Penulis adalah Ketua PC IPNU Denpasar dan pengajar di TPQ Baitul Muslimin, Denpasar Selatan)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »