Wednesday 25th November 2020,

Tragedi 1965 : Belajar Empati dari Kisah Pilu Lasmi

Tragedi 1965 : Belajar Empati dari Kisah Pilu Lasmi
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Peristiwa dengan apa yang dikenal Gerakan 30 September tahun 1965, merupakan periode sejarah kelam yang tidak akan pernah dilupakan bangsa ini. Fakta apa yang terjadi sebenarnya, masih menjadi kabut gelap yang juga belum tersingkap.Terlepas dari siapa yang menjadi dalang atas peristiwa yang memakan ratusan ribu nyawa itu, yang pasti, banyak kisah pilu yang dialami rakyat atas propaganda dari ambisi kekuasaan tersebut.

Salah satu kisah pilu tersebut terjadi pada keluarga Lasmi yang direkam pada Novel berdasar kisah nyata karya Nusya Kuswantin. Kisah Lasmi diangkat pada Bedah Buku yang diselenggarakan Komunitas Pinggiran Buleleng (30/9), untuk mengenang dan menelaah sejarah dari kasus 1965.

Acara yang dilaksanakan di Kedai Kopie Nakal ini, menghadirkan aktivis muda NU Bali, Abdul Karim Abraham sebagai narasumber. Lalu, bagaimana kisah Lasmi? Berikut kisah singkatnya.

Lasmi, perempuan muda yang cukup popular di kampungnya. Penampilannya sederhana, Ia tidak mengenakan aksesori apapun, kecuali jam tangan dengan tali kulit berwarna coklat yang melilit di pergelangan lengan kirinya. Bahkan, di kedua daun telinganya tak tampak perhiasan anting.

Bagi perempuan yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, Lasmi bisa saja mengenakan berbagai perhiasan emas sebagai simbol orang berpunya. Namun ia sadar, ia tidak suka pamer materi ditengah masyarakat di desanya mayoritas hidup kekurangan.

Lasmi mempunyai rasa empatik terhadap orang orang yang nasibnya tidak seberuntung dirinya, dan ia tak segan mengekspresikan empatinya dengan perbuatan yang kongkret. Seperti mengajar anak anak kecil di beranda tiap pagi, serta menyelenggarakan program menuju melek huruf bagi orang dewasa di sore harinya.

Setelah menikah dengan Sutikno, pemuda yang menjadi guru tugas dikampungnya, Lasmi mendirikan Taman Kanak-kanak yang diberi nama TK Tunas. Dalam masa pengembangan, ia mengalami kesulitan pendanaan untuk pembiayaan operasional sekolahnya. Lasmi kemudian bertemu dengan aktivis Gerwani. Dan dari sinilah kisah pergerakan lasmi dimulai.

Keterlibatan Lasmi dengan Gerwani, sebenarnya untuk menyalurkan berbagai gagasan sosialnya. Sehingga warga yang sebelumnya hanya diajarkan cara membaca dan menulis, kemudian juga membahas perkara perkara yang diangap penting. Semisal memperjuangkan prosentase bagi hasil bagi para petani penggarap, dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan sekolah Taman kanak-kanak yang dirintisnya, Lasmi mengambil keputusan untuk menggabungkan dengan Yayasan Melati yang berafiliasi dengan Gerwani. Sebagai konsekwensi, sekolah yang sebelumnya bernama TK Tunas berubah menjadi TK Melati.

Aktivitas Lasmi di Gerwani semakin Intens. Ia makin sering meninggalkan rumah untuk mengahadiri berbagai pertemuan dan rapat-rapat. Tak jarang ia dikirim sebagai wakil dari kabupaten untuk menghadiri sejumlah pertemuan di tingkat provinsi bahkan pernah di tingkat nasional. Untung saja, Lasmi memiliki Suami yang sangat pengertian, memberikan keleluasaan bagi aktivitas sang istri, karena ia meyakini hal itu untuk kepentingan orang banyak.

Bagian tragis sekaligus sedih dari Novel ini, ketika situasi tiba tiba berubah pasca tragedi 30 September. Dalam waktu yang singkat, di daerah daerah sudah terbentuk KAP Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September 30). Apalagi, kabar yang beredar di Radio, pelaku pembunuhan para Jendral adalah bukan nama seseorang melainkan organisasi Gerwani dan Pemuda Rakyat yang keduanya merupakan Underbow PKI.

Tak berselang lama, dalam sebuah malam, TK Melati dilempari oleh segerombolan orang yang membawa pentungan dan klewang. Bangunan sekolah itu jelas menjadi sasaran. Sebab di depan bangunan terpampang tiga papan nama TK Melati, Gerwani dan BTI.

Akhirnya Lasmi beserta suami dan anaknya dengan cepat menyelamatkan diri meninggalkan rumah mereka. Jelas, massa sedang memburu Lasmi sebagai penggerak utama organisasi Gerwani dan BTI di kampungnya.

Dalam persembunyian di rumah pamannya, ia mendapat kabar jika temen teman seperjuangan di kampungnya sudah diculik, dibunuh dengan cara cara keji. Yang paling mengharukan, ada anak berusia lima tahun memanggil manggil ibunya karena kelaparan, sementara ibunya tergantung dikerekan sumur. Perempuan tersebut diduga dibunuh karena ia anggota Gerwani.

Yang paling mengharukan dari berpindah-pindahnya lasmi dalam persembunyian, anaknya Bagong Dewandaru yang berusia 5 tahun jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Dalam situasi seperti itu, Lasmi semakin murung dan pilu, sebab ia tidak bisa berbuat apa apa untuk anak tercintanya karena keadaan yang tertekan. Dalam kemurungannya, tiba tiba Lasmi mengambil keputusan untuk menyerahkan diri. Suami yang begitu menyayanginya terkejut dengan sikap Lasmi itu, namun ia tak bisa menghalangi. Bagi Lasmi, ini bukan menyerah, tapi sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Satu syarat yang diajukan Lasmi saat hendak dieksekusi aparat, ia minta semua pengurus organisasi-organisasi yang berada di kecamatan tempat tinggalnya untuk dihadirkan menyaksikan dirinya dieksekusi. Ia ingin mati dengan sisa harga diri. Lasmi menemui takdirnya, mayatnya dilempar ke sumur kering, lantas ditimbunnya dengan tanah, batu, dedaunan serta serpihan reruntuhan. Ia dieksekusi dipenghujung tahun 1965, dalam usia yang belum genap 33 tahun.

Sementara itu sang suami menemukan kertas surat Lasmi yang ditujukan kedirinya, bagitu panjang Lasmi mengurai permohonan maaf dan alasan kenapa ia harus menyerahkan diri.

“Aku tak pernah menyangka sama sekali bahwa menjadi bagian dari Gerwani kemudian bisa dikategorikan sebagai dosa sosial. Andakan aku tahu Sut, tentu aku tidak ingin terlibat. Andaikan aku bisa meramalkannya Sut, aku tak ingin mengambil resiko sebesar itu. Sungguh, engkaupun tahu, aku menyukai kegiatan yang membuat masyarakat jadi lebih pintar dan mandiri, namun aku bukan orang yang berani mempertaruhkan nyawa anak kita.” (Hal.210)

“Dengan nasib warga desa yang menjadi seburuk itu lantaran pengaruhku, maka adalah aib bila aku terus terusan bersembunyi dan melarikan diri. Adalah tidak adil bila orang orang yang perannya jauh lebih kecil dari peranku harus mati, sementara aku tetap hidup. Adalah tidak adil apabila orang-orang yang sekedar mengikuti jejakku harus menderita dan binasa, sementara aku yang mereka anggap sebagai orang yang bertanggungjawab atas keikutsertaan mereka tetap hidup.” (Hal.213)

Meski Novel ini terbit pada tahun 2009, namun sangat menarik untuk dijadikan media menyentuh sisi kemanusiaan pembaca. Paling tidak, oleh Penulis Novel ini mengajak agar bisa menggugah rasa kemanusiaan, rasa keadilan dan menggugah rasa keadaban.

Penggambaran tentang sosok Lasmi dalam novel ini adalah untuk memunculkan kisah yang terkalahkan dari narasi besar bunuh membunuh pasca tragedi September 1965. Lasmi yang secara personal sangat disegani dan dihormati karena telah berbuat banyak untuk memajukan kampungnya, harus terhempas dan tertumpas karena ia tergabung dalam organiasi sayap sebuah partai yang dituduh melakukan aksi kudeta di Jakarta.

(Iboy/Aswajadewata)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »