Perjalanan Bunda Keisya dan putrinya Alifa dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) 2026 semakin sarat makna. Dimulai dari panggung sederhana tingkat kecamatan, berlanjut ke kabupaten, dan kini keduanya berdiri tegak di arena MTQ XIII tingkat Provinsi Bali, yang digelar pada 19–21 Juni 2026 di Gedung Ir. Soekarno, Kabupaten Jembrana.
Dari Kecamatan ke Kabupaten
Kemenangan di tingkat kecamatan menjadi pijakan awal. Bunda Keisya meraih juara 1, begitu pula Alifa. Langkah mereka kemudian berlanjut ke MTQ XXXI Kabupaten Tabanan, di mana keduanya kembali mengibarkan panji cinta Al-Qur’an dengan prestasi yang sama: juara 1. Momen ini bukan sekadar kemenangan, melainkan simbol bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an bisa diwariskan dari seorang ibu kepada anaknya.
Guru dan Teladan
Sehari-hari, Bunda Keisya adalah pengajar di TPQ Al Iman di bawah naungan Yayasan Bina Umat Mandung. Ia menanamkan bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga rasa cinta mendalam terhadap Al-Qur’an. Dengan tampil di MTQ bersama putrinya, ia menunjukkan bahwa seorang guru sejati adalah teladan yang hidup, bukan sekadar pengajar.

Momentum Haru Pelepasan Kafilah
Ada satu momen yang begitu menyentuh hati sebelum keberangkatan ke provinsi. Saat pelepasan kafilah MTQ Tabanan, Alifa yang menjadi peserta termuda disalami oleh Bupati Tabanan. Tidak hanya berjabat tangan, sang Bupati memeluk Alifa penuh kasih, seakan memberikan restu dan doa agar langkah kecilnya di panggung besar MTQ Bali menjadi langkah yang penuh keberkahan. Adegan itu terjadi ketika Bupati menyalami seluruh peserta, namun pelukan hangat untuk Alifa menjadi simbol perhatian dan dukungan luar biasa bagi generasi muda pecinta Al-Qur’an.

Menembus Provinsi Bali
Kini, dengan modal juara kabupaten, Bunda Keisya dan Alifa melangkah ke tingkat provinsi. Mereka bergabung dengan kafilah dari seluruh kabupaten/kota se-Bali. Panggung provinsi bukan hanya lebih besar, tetapi juga lebih menantang. Namun, semangat mereka tetap sama: menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan.
Bayangkan suasana Gedung Ir. Soekarno di Jembrana: lantunan ayat suci bergema, para peserta dari berbagai daerah tampil dengan penuh khidmat, dan di antara mereka berdiri seorang ibu dan anak yang telah menempuh perjalanan luar biasa. Kisah ini membuat siapa pun yang menyaksikan bisa terharu, bahkan menangis, karena jarang sekali terlihat sebuah keluarga berjuang bersama di panggung MTQ.

Inspirasi bagi Santri dan Umat
Kisah ini menjadi motivasi besar bagi santri TPQ Al Iman, serta TPQ lain di bawah yayasan yang sama, seperti TPQ IQRA dan TPQ Nurul Hidayah. Mereka melihat bahwa perjuangan di MTQ bukan hanya tentang kemampuan membaca, tetapi tentang keberanian, ketekunan, dan cinta yang tulus kepada kitab suci.
Harapan ke Nasional
Doa pun mengalir deras. Semoga langkah Bunda Keisya dan Alifa tidak berhenti di provinsi, tetapi terus melaju hingga tingkat nasional. Namun lebih dari itu, semoga perjalanan mereka menjadi inspirasi abadi bahwa Al-Qur’an adalah sumber kekuatan, kebahagiaan, dan persatuan.
Penutup
Di Yayasan Al Amin Tabanan, tempat MTQ XXXI Kabupaten Tabanan digelar, kisah Bunda Keisya dan putrinya akan selalu dikenang sebagai kisah cinta Al-Qur’an yang mengharukan. Kini, dengan kiprah mereka di tingkat provinsi, kisah itu semakin lengkap: sebuah perjalanan dari kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, dengan harapan menembus panggung nasional.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa cinta Al-Qur’an adalah kemenangan sejati, yang jauh lebih indah daripada sekadar gelar juara.









