Oleh : Saini
Dalam era digital yang serba cepat ini, muncul sebuah pertanyaan besar: Apakah amal yang kita lakukan di media sosial masih bernilai di mata Allah, ataukah telah terkontaminasi oleh riya digital? Ketika kita memposting sedekah, doa, atau aktivitas keagamaan lainnya di media sosial, apakah kita melakukannya murni untuk Allah, atau ada keinginan terselubung untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain?
Riya, dalam Islam, merujuk pada tindakan memamerkan ibadah atau kebaikan dengan niat untuk mendapatkan pujian manusia, bukan demi keridhaan Allah. Fenomena ini sangat dikecam dalam agama Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ”
“Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riy”. (QS. Al-Ma’un: 4-6).
Ayat ini menunjukkan betapa Allah mengecam mereka yang beribadah bukan untuk-Nya, melainkan demi pujian manusia.
Transformasi ibadah ke dalam bentuk digital membawa kita pada situasi yang kompleks. Teknologi dan media sosial memungkinkan kita untuk mengekspresikan iman dan amal secara terbuka kepada khalayak luas. Namun, ada bahaya yang mengintai ketika ibadah yang seharusnya bersifat privat berubah menjadi ajang pamer. Saat kita berbagi kutipan Al-Qur’an, doa, atau foto-foto kegiatan keagamaan, kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah ini benar-benar untuk menginspirasi orang lain, atau hanya untuk mendapatkan ‘likes’ dan komentar positif?
Dalam Islam, niat adalah esensi dari setiap amal. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menekankan bahwa niat adalah fondasi dari amal yang diterima oleh Allah. Jika niat kita tercampur dengan keinginan duniawi seperti riya, maka amal kita bisa jadi tidak bernilai di sisi-Nya.
Perbedaan antara dakwah yang tulus dan riya digital seringkali sangat tipis. Dakwah, ketika dilakukan dengan niat yang ikhlas, memiliki potensi besar untuk menyebarkan kebaikan dan menginspirasi banyak orang. Namun, ketika niatnya mulai terkontaminasi oleh keinginan untuk terlihat baik di mata manusia, maka dakwah tersebut berpotensi berubah menjadi riya digital. Contoh riya digital bisa terlihat saat seseorang memposting video ibadah atau sedekah dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain.
Media sosial, pada akhirnya, menjadi ujian baru dalam menjaga ketulusan ibadah. Tekanan sosial dan budaya ‘pamer’ di media sosial bisa dengan mudah merasuki niat kita. Ketika kita merasa terdorong untuk membagikan amal ibadah demi mendapatkan pengakuan atau bahkan hanya untuk mengikuti tren, itu bisa menjadi indikasi adanya riya. Dalam hal ini, media sosial menjadi ujian ketulusan, apakah kita benar-benar ikhlas ataukah hanya mencari validasi sosial.
Dampak negatif dari riya digital ini sangat nyata dan berbahaya bagi spiritualitas kita. Rasulullah SAW memperingatkan:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil? Beliau menjawab: Riya.” (HR. Ahmad).
Hadis ini menunjukkan betapa riya adalah ancaman serius yang dapat merusak nilai ibadah kita di hadapan Allah.
Untuk menghindari jebakan riya digital, ada beberapa strategi yang dapat kita terapkan. Salah satunya adalah dengan membatasi apa yang kita bagikan di media sosial. Sebelum memposting, tanyakan pada diri sendiri: Apakah niat saya benar-benar untuk Allah ataukah untuk mendapatkan pujian manusia? Membiasakan introspeksi diri sebelum memposting dapat membantu kita menjaga niat tetap murni.
Penting juga untuk menumbuhkan kesadaran akan niat kita setiap kali berbagi aktivitas ibadah di dunia maya. Salah satu cara efektif adalah dengan memperkuat niat dan mengingatkan diri sendiri bahwa tujuan utama dari ibadah adalah mendapatkan keridhaan Allah, bukan pujian dari manusia. Dengan begitu, kita dapat menjaga keikhlasan dalam beribadah meski berada di era digital.
Pandangan ulama mengenai fenomena riya digital juga penting untuk dipertimbangkan. Banyak ulama mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mempublikasikan amal ibadah di media sosial. Mereka menekankan bahwa ikhlas adalah kunci utama agar amal diterima oleh Allah. Beberapa ulama bahkan menganjurkan untuk merahasiakan sebagian amal ibadah kita sebagai upaya untuk menghindari riya.
Penting bagi kita untuk mengembalikan esensi ibadah yang murni hanya untuk Allah. Seberapapun canggihnya teknologi dan media sosial, niat kita tetap harus bersandar pada keikhlasan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ”
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah)” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Ayat ini menegaskan bahwa keikhlasan adalah inti dari setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah.
Sebagai penutup, mari kita bersama-sama introspeksi diri dan mempertanyakan niat kita setiap kali ingin berbagi aktivitas ibadah di media sosial. Ingatlah bahwa amal yang diterima oleh Allah adalah yang dilakukan dengan keikhlasan, tanpa ada niat untuk pamer atau mendapatkan pujian dari manusia. Dengan demikian, kita dapat menjaga amal kita tetap bernilai di mata Allah meskipun berada di era digital yang penuh godaan ini.
*Penulis adalah Dosen Ma’had Aly dan STIS Nurul Qarnain Jember









