ASWAJADEWATA.COM |
Oleh: Saini
Lailatul Qadar merupakan malam paling agung dalam tradisi spiritual Islam. Al-Qur’an menegaskan keutamaannya secara eksplisit dalam Surah Al-Qadr dengan pernyataan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. Nilai ibadah pada malam ini melampaui ukuran waktu biasa. Satu malam yang penuh keberkahan itu setara dengan puluhan tahun amal manusia. Karena itu, setiap Ramadhan umat Islam berusaha mencari dan meraih kemuliaan malam tersebut dengan berbagai bentuk ibadah.
Rasulullah ﷺ memberi petunjuk agar Lailatul Qadar dicari pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Hikmah disembunyikannya waktu pasti Lailatul Qadar adalah agar umat Islam meningkatkan kesungguhan ibadah sepanjang akhir Ramadhan. Dengan cara ini, seorang muslim tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu, tetapi menghidupkan seluruh malam terakhir dengan doa, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan shalat malam.
Beberapa ulama klasik mencoba memberi panduan tentang kemungkinan datangnya malam tersebut. Salah satu pendapat yang sering dinukil berasal dari Imam Al-Ghazali. Dalam tradisi yang berkembang di kalangan ulama tasawuf, beliau memberikan perkiraan malam Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama Ramadhan. Kaidah ini kemudian juga diikuti oleh tokoh sufi besar, Imam Abul Hasan Asy-Syadzili, sebagai pedoman spiritual bagi para muridnya.
Menurut panduan tersebut, jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka kemungkinan Lailatul Qadar berada pada malam ke-29. Jika Ramadhan dimulai pada hari Senin, maka kemungkinan terjadi pada malam ke-21. Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat, maka kemungkinan berada pada malam ke-27. Jika awal Ramadhan hari Kamis, maka kemungkinan pada malam ke-25. Sementara jika Ramadhan dimulai pada hari Sabtu, maka kemungkinan pada malam ke-23. Para ulama menegaskan bahwa panduan ini bukan kepastian mutlak, tetapi sekadar isyarat untuk memperkuat kesungguhan ibadah.
Namun ada persoalan penting yang sering muncul dalam praktik keagamaan masyarakat. Banyak orang memahami pencarian Lailatul Qadar hanya melalui ibadah ritual. Mereka fokus pada shalat malam, i‘tikaf, atau membaca Al-Qur’an. Padahal tradisi keilmuan Islam menunjukkan bahwa jalan menuju keberkahan Lailatul Qadar juga terbuka melalui amal sosial dan perbaikan hubungan kemanusiaan.
Pandangan ini dijelaskan secara kuat oleh ulama Al-Azhar, Ahmad ‘Isa Al-Ma‘ṣarāwī. Dalam sebuah nasihatnya, ia mengingatkan umat Islam agar tidak membatasi pencarian Lailatul Qadar hanya pada ibadah shalat. Pesan tersebut menegaskan bahwa kehadiran malam mulia itu sering kali berkaitan dengan sikap moral dan kepedulian sosial seorang muslim.
Ia menulis:
لا تبحثوا عن ليلة القدر من أجل الصلاة فحسب بل ابحثوا عنها في رضا أب وأم وأخ وأخت في صلة رحم وإطعام مسكين وكسوة عار وتأمين خائف ورفع مظلمة وكفالة يتيم ومساعدة مريض ابحثوا عنها في رضا الرب والإقلاع عن الذنب في ضمائركم قبل صلاتكم فصنائع المعروف تقي مصارع السوء.
Artinya:
“Janganlah kalian mencari Lailatul Qadar hanya dengan shalat semata. Carilah ia dalam keridaan ayah dan ibu, dalam keridaan saudara dan saudari, dalam menyambung silaturahmi, memberi makan orang miskin, memberi pakaian kepada yang tidak memiliki, menenangkan orang yang ketakutan, menghilangkan kezaliman, menanggung anak yatim, dan membantu orang sakit. Carilah Lailatul Qadar dalam keridaan Tuhan dan dengan meninggalkan dosa di dalam hati kalian sebelum kalian menunaikan shalat. Karena perbuatan baik dapat mencegah berbagai keburukan.”
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pencarian Lailatul Qadar memiliki dimensi yang luas. Malam kemuliaan tidak hanya diraih melalui kesalehan individual, tetapi juga melalui kesalehan sosial. Hubungan baik dengan orang tua, kepedulian kepada fakir miskin, serta bantuan kepada orang yang membutuhkan merupakan bagian penting dari jalan menuju keridaan Allah.
Pendekatan ini juga selaras dengan prinsip besar dalam ajaran Islam yang menekankan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Ibadah ritual membentuk kedalaman spiritual, sedangkan amal sosial membuktikan kejujuran iman dalam kehidupan nyata. Tanpa dimensi sosial, ibadah sering kehilangan makna praktis dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadhan seharusnya menjadi momentum transformasi spiritual sekaligus sosial. Seorang muslim dapat memperbanyak qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, dan berdoa memohon ampunan. Pada saat yang sama, ia juga memperbaiki hubungan keluarga, memperbanyak sedekah, membantu orang sakit, dan menghapus konflik dengan sesama.
Dengan cara inilah Lailatul Qadar tidak hanya dipahami sebagai malam ibadah, tetapi juga sebagai titik perubahan dalam kehidupan manusia. Ketika ibadah ritual bertemu dengan kepedulian sosial, maka malam kemuliaan itu benar-benar menghadirkan keberkahan yang luas bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
(Penulis adalah Dosen tetap Institut KH Yazid Karimullah Jember)









