Gus Menteri kata Islah Bahrawi

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

Mendengarkan penjelasan Islah Bahrawi soal kuota haji, dalam salah satu Podcast, kita diajak menukar kacamata. Bukan untuk membantah KPK, tapi untuk memahami niat mens rea, kata orang hukum di balik sebuah keputusan yang kini ramai disebut penyelewengan.

Menurut Islah, apa yang dilakukan Gus Menteri Yaqut Cholil Qoumas saat itu justru bermula dari kalkulasi paling dasar: keselamatan jamaah. Mina bukan ruang tanpa batas. Tenda terbatas. Jalur padat. Jika seluruh kuota tambahan dijatuhkan ke haji reguler yang menjadi tanggungan penuh negara risikonya bukan kecil. Jamaah Indonesia bisa tidak kebagian tenda. Menjadi โ€œgelandanganโ€ di Tanah Suci. Dan itu bukan metafora; itu potensi bencana kemanusiaan.

Di titik inilah kebijakan 50:50 dipahami sebagai misi penyelamatan. Sebagian kuota dialihkan ke haji plus yang dikelola swasta bukan karena memanjakan pasar, tapi karena beban negara berkurang. Haji plus membawa logistik sendiri, penginapan sendiri, manajemen sendiri. Negara tidak menanggung seluruhnya. Dengan begitu, negara fokus memastikan jamaah reguler aman, tertampung, dan terlindungi.

โ€œAlangkah mulianya,โ€ kata Islah bukan dalam arti retorika, tapi dalam arti maqashid: menjaga jiwa. Kebijakan itu, dalam narasi ini, bukan jual beli kuota, melainkan risk management di lapangan paling padat di dunia pada hari-hari paling sibuk di kalender Islam.

Tentu, perbedaan tafsir tak terelakkan. KPK membaca dari kacamata hukum administrasi; Islah mengajak melihat dari kacamata niat dan dampak kemanusiaan. Dua pendekatan yang sama-sama penting namun sering bertabrakan karena berhenti pada akibat, bukan motif.

Pelajaran yang bisa dipetik sederhana tapi mahal: kebijakan ibadah tidak boleh dibaca dengan satu kacamata saja. Ada angka, ada hukum, ada logistik, ada nyawa. Dan ketika niatnya adalah menyelamatkan manusia bukan mempercepat antrean bagi yang mampu maka diskusi mestinya dimulai dari sana, sebelum vonis dijatuhkan.

Pada akhirnya, yang diuji bukan hanya kebijakan, tapi kejujuran kita membaca konteks. Apakah kita menilai dari hasil semata, atau berani menyelam ke niat dan risiko yang coba dihindari? Di Mina, satu tenda bisa berarti satu keluarga selamat. Dan dalam ibadah, keselamatan bukan detail ia tujuan.

Oleh: Mas Dwy Sadoellah

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »