SoloisSolo, Titik Bangkit Seniman Jalanan Kota Surakarta

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

ASWAJADEWATA | SURAKARTA

Sejak tiga tahun terakhir ini, kota Surakarta punya ikon baru spot kunjungan yang layak didatangi oleh anak mudanya di setiap akhir minggu. Bertajuk “SoloisSolo”. Pengelola event ini mengambil venue di sepanjang koridor Gatot Subroto yang lebih populer dengan sebutan daerah Singosaren.

Pemkot Surakarta era pimpinan Gibran Rakabuming Raka saat itu dalam waktu setahun berhasil menyulap berbagai sudut kota menjadi lebih ramah bagi kaum mudanya termasuk daerah Singosaren tersebut.

Bekerjasama dengan komunitas seni jalanan dari berbagai kalangan menyulap kawasan legendaris ini terlihat jadi lebih segar.

Mural-mural unik dan intsagramable digambar di setiap pintu toko yang tutup pada malam hari. Potret tokoh, musisi, politisi, baik lokal maupun mancanegara jadi pemandangan menarik. Mengundang pejalan yang melintas untuk berfoto selfie atau wefie. Trotoar yang dirapikan dan dilebarkan kemudian dipayungi kanopi dengan hiasan lampu estetik, menyediakan ruang bagi lapak-lapak pelaku UMKM dari kalangan muda untuk menjual berbagai souvenir unik khas anak muda juga.

Tak hanya itu, bermacam jenis barang lawasan dari mulai buku, jam tangan, mainan anak, hingga kamera analog dan kaset pita album band jadul yang sudah sulit kita cari player nya semakin memanjakan nostalgia. Membuat kita betah berlama-lama berdiam melihat lihat.

Belum lagi jika kita menengok macam jajanan kuliner yang ramah di kantong anak sekolahan yang tersebar di beberapa gang. Riuh pedagang makanan/minuman menambah keseruan suasana kawasan ini. Aneka street food lokal, hingga es potong yang pernah populer di tahun 80-90an, es favorit setiap anak SD di masa itu, semua tersedia. Rata-rata penjualnya pun warga penghuni gang itu sendiri. Serta tak ketinggalan Barista keliling juga terlihat memarkir motor lapak customnya, melayani pesanan para pecinta kopi manual brew ala caffee kalcer gedongan.

Bukan Solo namanya jika keramaian malam di Singosaren itu tidak diiringi aksi seni. Solo yang identik dengan seni budaya otentik, dimana warganya kebanyakan juga pelaku dan penikmat seni seperti mendapati suasana baru di Singosaren.

Beberapa emper toko yang tutup dijadikan semacam panggung jalanan. Seringkali juga tampil para seniman tari serta street magician. Kemudian terlihat juga beberapa pelukis potret dan seniman tatto menawarkan keahlian mereka kepada pengunjung. Dengan menyewa lapak dari pengelola seharga 10 ribu rupiah per malam, mereka sudah bisa mencoba peruntungan mengais rejeki disana, dan yang lebih penting lagi dapat berinteraksi dengan sesama seniman. Saling menginspirasi dan bertukar ide dengan suasana anak tongkrongan..

Ada semacam venue utama yang terletak tepat di ujung sebelah utara yang berhadapan langsung dengan jalan protokol Slamet Riyadi. Band atau musisi yang tampil disana berbeda setiap minggunya. Disinilah titik paling heboh kawasan itu. pengunjung menikmati penampilan mereka sambil duduk di trotoar dan tak jarang ikut bernyanyi berjoget bersama. Kendaraan pengguna jalan yang melintas di sepanjang jalan Slamet Riyadi pun ikut menikmati suasana ramainya daerah itu, membuat alur lalu lintas menjadi sedikit lambat.

Berkumpulnya berbagai komunitas anak muda Surakarta dalam kegiatan kreatif ini sangat layak diacungi jempol. Hawa riang, muda, enerjik, apa adanya, namun kaya akan karya positif yang cukup berkualitas sangat terasa. Vibes yang saya rasakan sepintas mengingatkan saya akan kawasan Bukit Bintang di Kuala Lumpur di Malaysia saat malam. Tetapi malah lebih romantis dan nyaman menurut saya, karena kegembiraan dan keramahan warga Solo di tempat itu sangat terlihat dan terasa. Pantas saja jika di tahun 2022 lalu kota ini pernah dinobatkan sebagai kota ternyaman di Indonesia.

Tampaknya kini Singosaren telah jadi pusat titik kumpul baru anak muda kota ini, sekaligus jadi daya tarik wisatawan yang ingin melewatkan akhir pekan di Solo. Sebagai alternatif destinasi baru selain Malioboro di Jogja, Singosaren Solo benar-benar worth it untuk disambangi.

Ketika lapak-lapak yang ada disana satu persatu mulai tutup setelah pukul 12 malam dan kita masih enggan pulang, kita bisa beranjak ke banyak warung wedangan yang lagi-lagi ramah di kantong dan bertebaran di sekitar Kraton Mangkunegaran dan Slamet Riyadi. Meneruskan obrolan asik dengan kawan yang tertunda hingga subuh, sembari menikmati teh krampul hangat dalam semilir angin malam kota bengawan.

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi
Foto: IG @soloissolo

diunggah oleh:

Picture of Dadie W Prasetyoadi

Dadie W Prasetyoadi

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »