Oleh: Gus Ulil Abshar Abdala
Alhamdulillah, gencatan senjata akhirnya bisa dicapai antara Iran dan Amerika Serikat. 10 poin yg diajukan oleh Iran disepakati oleh Amerika, sesuatu yg amat “mengejutkan”, sebab poin2 permintaan Iran itu merupakan “high call” yg cukup maksimal, antara poin tentang penghentian serangan terhadap Iran hingga kapanpun, serta pencabutan embargo ekonomi yg sudah mendera Iran selama puluhan tahun.
Apresiasi yg setinggi2nya untuk Pakistan yg sudah menjadi mediator untuk gencatan ini. Saya kira memang pihak2 yg terlibat dlm perang ini melihat bahwa “war of attrition” akan banyak merugikan, terutama bagi Amerika Serikat yg sudah merasakan berkali2 “pahitnya” perang semacam ini. Bagi Iran sendiri, “war of attrition” sudah diantisipasi sejak awal sehingga mereka sudah siap.
Memang secara resmi gencatan senjata ini berlaku selama dua minggu, tetapi “feeling” saya ini hanyalah rumusan permukaan saja. Sejatinya, ini adalah cara Amerika untuk segera mengakhiri perang ini tanpa terlalu kehilangan muka. Gencatan ini, menurut saya, adalah akhir dari perang sekarang.
“Game changer” dalam perang ini adalah langkah Iran memblok Selat Hormuz dan melakukan serangan balasan terhadap sekutu2 Amerika di kawasan. Ini menciptakan “tekanan strategis” yg tidak bisa ditanggung oleh Amerika dan Israel.
Dengan kata lain, kita bisa mengatakan bahwa Iran sukses memenangkan perang ini. Tetapi bagi saya, siapa yg menang dalam perang ini tidaklah terlalu penting. Yang penting, perang ini, bagaimanapun caranya, harus berhenti. Inilah satu dari dua aspirasi yg disampaikan oleh Gus Yahya, Ketum PBNU, saat berkunjung ke tiga kedutaan besar Iran, Saudi Arabia, dan Amerika Serikat beberapa hari lalu. Sebab, perang yg berlarut-larut merugikan semua pihak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Aspirasi yg lain: bagaimanapun caranya, jalan diplomasi harus ditempuh. Hanya itu yg bisa menyelamatkan semua pihak. Alhamdulillah, apa yg disampaikan oleh Gus Yahya ini “ndilalah” kok ya “disembadani” oleh Gusti Allah.
Untuk sementara, kita bisa bernafas sejenak dari “mimpi buruk” yg tidak terbayangkan: krisis global. Skenario “ledakan fiskal” yg diungkapkan oleh sebagian pihak di Indonesia insyaallah bisa kita hindari, meskipun pemulihan ekonomi global dari “luka fiskal” gara2 perang ini tentu butuh waktu. Termasuk komplikasi bagaimana “memanage” Selat Hormuz yg akan lebih banyak melibatkan peran Iran di masa mendatang.
Prediksi saya, jika gencatan senjata ini berlangsung mulus, dan sebagian (ndak harus semua) syarat2 yg dimintakan Iran (terutama penghapusan embargo ekonomi) disetujui Amerika, maka sudah bisa dipastikan Iran pasca-perang akan menikmati “bonanza ekonomi” dan petumbuhan ekonomi yg melesat cepat — pertama, dari biaya (toll) untuk melintasi Selatan Hormuz; kedua, dari kenaikan harga minyak (minimal hingga beberapa bulan mendatang hingga akhirnya harga minyak kembali seperti semula); ketiga, terbukanya ruang bagi Iran untuk mengakses pasar global; dan terakhir, turisme, dan ini jelas membuka “opportunity” bagi Kakak Iqbal Aji Daryono.
Perang ini malahan seperti iklan gratis bagi Iran. Kita tahu, selama perang ini, sosok2 seperti Abbas Araghchi (Menlu Iran), Mohammad Marandi (analis politik yg menjadi jubir Iran dan lulusan doktoral dari Universitan Birmingham; menulis disertasi ttg penyair besar Inggris dari abad ke-19 Lord Byron), dan almarhum Ali Larijani (Kepala Keamanan Nasional Iran, Ketua Parlemen, dan pakar dalam filsafat Immanuel Kant); ya, tiga sosok ini telah menyihir seluruh penduduk bumi dengan kecerdasan (dalam pengertian “wittiness”) dan “sense of humor” mereka.
Iran telah mencuri hati mayoritas penduduk bumi gara2 perang ini.
Memang yang masih mengganjal dan menjadi pertanyaan adalah: apakah Amerika dan Israel bersedia menepati kesepakatan ini, terutama tidak akan melakukan serangan semacam ini di masa mendatang. Kita tahu baik Amerika dan (terutama) Israel bukanlah negeri yg bisa menepati janji. Dua negara ini terbukti berkali2 “tega” melanggar tatanan internasional demi mencapai tujuan mereka; “pure Machiavellianism”.
Semoga perdamaian segera mampir kembali di Timur Tengah.









