1 Suro: Hijrah yang Reflektif, Bukan Reaktif

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

1 Suro bukan sekadar awal tahun. Ia adalah panggilan sunyi untuk berhijrah—bukan berpindah tempat, tapi bergeser dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju sadar. Ia tak datang dengan gemerlap pesta, melainkan dengan bisikan lembut: sudah sejauh mana jarak hatimu dari Tuhanmu?

Secara sejarah, 1 Suro adalah 1 Muharram—awal kalender Hijriah, ditetapkan sejak hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Tapi mengapa bukan hari kelahiran atau kemenangan yang dipilih? Karena Islam tak menjadikan nostalgia sebagai pijakan, melainkan gerak sadar untuk perubahan.

Di tanah Jawa, 1 Suro lekat dengan laku spiritual para wali: tapa, dzikir, tirakat. Bukan mitos, tapi refleksi mendalam tentang fana-nya dunia dan perlunya kembali kepada Yang Abadi.

Para sufi berkata: hijrah sejati adalah berpindah dari nafsu menuju nur, dari amarah menuju sabar, dari riya’ menuju ikhlas. Maka 1 Suro bukan waktu untuk bersorak, tapi untuk menunduk dan berkata, “Aku ingin menuju-Mu, ya Rabb.”

Di era media sosial, hijrah artinya menahan diri dari kegaduhan yang tak bermakna, menyucikan niat, dan merawat batin dari kelelahan digital. Bukan hidup reaktif demi validasi, tapi hidup reflektif demi ridha-Nya.

Lebih dari sekadar detox digital, hijrah di era ini berarti menghidupkan dimensi ruhani dalam ruang virtual, menjadikan kehadiran kita di dunia maya sebagai ladang pahala, bukan penyemai dosa berjamaah.

Hijrah tak menuntut kita jadi suci. Cukup jadi insan yang terus berbenah. Tak perlu menunggu momen besar. Cukup satu tekad kecil: hari ini lebih dekat kepada-Nya daripada kemarin.

‎اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا هِجْرَةً إِلَيْكَ فِي كُلِّ خُطُوَةٍ، حَتّٰى نَبْلُغَ رِضَاكَ

“Ya Allah, anugerahkanlah kami hijrah menuju-Mu di setiap langkah, hingga kami sampai pada ridha-Mu.”

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H

Semoga langkah hijrah kita makin ringan, hati makin lapang, dan hidup makin diterangi cahaya Ilahi.

 

Tabik,

Nadirsyah Hosen

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »