Saturday 28th November 2020,

Organisasi Islam sebagai Center of Awakening

Organisasi Islam sebagai Center of Awakening
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Islam agama rahmatan lil ‘alamin yaitu memberikan rahmat bagi seluruh alam dan seluruh makhluk hidup di muka bumi. Namun beberapa abad terakhir umat Islam mengalami degradasi baik segi politik, ekonomi maupun sosial,. Hal tersebut memberikan peluang bagi gerakan fanatisme dan ekstrimisme. Gerakan-gerakan dari oknum tersebut menciptakan  stigma bahwa Islam terkesan garang dan sadis. Secara tidak langsung hal tersebut berdampak di Indonesia yang notabennya masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam.

Buku berjudul Islam Moderat Vs Islam Radikal  karya Dr. Sri Yunanto sangat cocok dibaca oleh kalangan muslim yang tinggal di lingkungan mayoritas non-muslim. Tulisan beliau diawali dengan menurunnya makna tahun baru Hijriyah yaitu 1 Muharram yang identik dengan ueforia semata, mengadakan acara besar-besaraan, kegiatan yang menggelontorkan dana sangat besar dan kiyai termasyhur dengan upah yang menggiurkan. Umat Islam seakan melupakan esensi dari tahun baru Hijriyah, bahwa sebagai seorang muslim harus mampu mengklarifikasi berita yang ada (tabayyun) dan kepercayaan umat Islam pada dirinya. Era digitalisasi, modernisasi dan globalisasi yang sangat pesat membuat umat Islam dituntut untuk  bertabayyun lebih keras lagi terhadap berita palsu “hoax”. Hoax dapat memicu perselisihan baik pada umat Islam itu sendiri atau kelompok lain, sehingga kehati-hatian itu perlu ditingkatakan.

Untuk mengatasi ketertinggalan tersebut, umat Islam harus instrospeksi diri, tapi masih ada yang menyalahkan keadaan saat ini sebagai kemunduran Islam. Jika melihat sejarah, Rasulullah SAW mendirikan masjid bertujuan untuk umat Islam selalu menjalankan kewajibannya dan masjid sebagai tempat riset, dakwah dan silaturahmi. Masjid  dan civil society  (masyarakat muslim) sangat memiliki andil dalam kemajuan dan kebangkitan Islam. Jika umat Islam ingin bangkit, masjid bukanlah menjadi simbol dan tempat melakukan ritual keagamaan saja, namun masjid menjadi tempat bermusyawarah, ber-ijtihad, bagi para akademis dan umat Islam. Saat ini banyak masjid yang “buka” saat subuh dan “tutup” setelah isya’, sehingga masjid seperti toko yang memiliki jam buka dan tutup yang membuat masjid menjadi sepi dan sebagai simbol ritual keagamaan semata.

Islam yang menjadi sorotan dunia khususnya pada kasus terorisme. Terorisme merupakan suatu kegiatan menyebarkan ketakutan dan ketidaknyamanan pada masyarakat. Para teroris mengatasnamakan Islam dan jihad sebagai alasan utama. Pada awal tahun 1980-an terdapat salah satu organisai di Jawa Tengah yaitu Darul Islam (DI)/ Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir. Kelompok mereka melakukan gerakan pemberontakan terhadap Pancasila. Sehingga membuat kelompok ini menjadi lawan dari ideologi Pancasila saat itu selain komunis. Hal tersebut membuat beberapa tokoh penting dalam kelompok ini melarikan diri ke Malyasia dan menamakan dirinya sebagai Jamaah Islamiyah (JI). Pada awal reformasi kelompok ekstrimis ini dan beberapa kelompok militan Islam lainnya seperti Laskar Jihad, Laskar Jundullah, Laskar Mujahiddin dan beberapa laskar lokal lainnya  juga melakukan serangan teroris yang memiliki hubungan khusus dengan kelompok Al Qaeda.

Pimpinan DI/NII yang melarikan diri ke Malaysia yaitu Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir kemudian membentuk suatu jaringan yang mengumpul semua muslim baik dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam yang kemudian dibimbing dan dikirim ke Afganistan untuk membantu umat Islam yang sedang berperang disana. Bahkan ada yang dikirim ke negaranya kembali untuk menjalankan misi saat pelatihan.

Dalam kasus tersebut peran organisasi masyarakat sangat berperan aktif. Khususnya organisasi Islam  yang didirikan murni oleh masyarakat bukan didirikan oleh pemerintah, seperti Nadhatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan organisasi Islam lainnya.  Organisasi Islam harus menghilangkan feodalisme, politisasi, dan rutinitas yang tidak mendukung  kebangkitan Islam. Organisasi Islam juga harus menjadi faktor penggerak dalam memformulasikan kebudayaan serta wadah dalam mengimplementasikannnya. Selain itu masjid juga sebagai center of awakening yang merupakan pusat kebangkitan di mana aktivis muslim bermusywarah, berijtihad, bertabayyun, dan merumuskan strategi kebudayaan dalam masyarakakat Indonesia yang multikultural. Apabila para pemimpin Islam berhasil menempatkan organisasi Islam dan masjid dalam merumusakn strategi kebudayaan menuju kehidupan yang lebih baik dan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Sehingga perlu adanya kerjasama yang selaras antara organisasi Islam dengan pemerintah guna mencapai kedamaian dan kesejahteraan masyarakat.

(Sumber: Yunanto, Sri. (2018).  Islam Moderat Vs Islam Radikal. Yogyakarta: Media Pressindo)

 

(Eym)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »