Jendela Hati Sang Guru Bangsa

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

Oleh : Muhammad Ihyaul Fikro

​Di balik kacamata tebal dan pandang yang gelap,
Engkau melihat cakrawala yang tak mampu kami tangkap.
Saat kami sibuk berebut benar dan salah,
Engkau tersenyum, menunjuk jalan yang ramah.

​Dunia bagimu bukanlah panggung sandiwara yang kaku,
Melainkan pekarangan luas tempat semua anak cucu bertemu.
Tak peduli apa warna kulit, apa cara berdoa,
Di matamu, kami semua sama: manusia.

​”Gitu aja kok repot,” katamu ringan,
Memecah ketegangan, menertawakan kekuasaan.
Istana bagimu hanyalah persinggahan sementara,
Tak sebanding dengan setetes air mata rakyat jelata.

​Engkau adalah payung bagi mereka yang kehujanan,
Menjadi suara bagi mereka yang dibungkam ketakutan.
Imlek kau beri ruang, perbedaan kau beri peluk,
Mengajarkan garuda untuk tidak lagi tunduk.

​Kini, di Tebuireng engkau beristirahat tenang,
Namun tawamu masih bergema, terngiang-ngiang.
Gus, negeri ini rindu kelakar yang menyejukkan,
Rindu ajaranmu: bahwa di atas politik, ada kemanusiaan.

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »