Oleh : Muhammad Ihyaul Fikro
Di balik kacamata tebal dan pandang yang gelap,
Engkau melihat cakrawala yang tak mampu kami tangkap.
Saat kami sibuk berebut benar dan salah,
Engkau tersenyum, menunjuk jalan yang ramah.
Dunia bagimu bukanlah panggung sandiwara yang kaku,
Melainkan pekarangan luas tempat semua anak cucu bertemu.
Tak peduli apa warna kulit, apa cara berdoa,
Di matamu, kami semua sama: manusia.
”Gitu aja kok repot,” katamu ringan,
Memecah ketegangan, menertawakan kekuasaan.
Istana bagimu hanyalah persinggahan sementara,
Tak sebanding dengan setetes air mata rakyat jelata.
Engkau adalah payung bagi mereka yang kehujanan,
Menjadi suara bagi mereka yang dibungkam ketakutan.
Imlek kau beri ruang, perbedaan kau beri peluk,
Mengajarkan garuda untuk tidak lagi tunduk.
Kini, di Tebuireng engkau beristirahat tenang,
Namun tawamu masih bergema, terngiang-ngiang.
Gus, negeri ini rindu kelakar yang menyejukkan,
Rindu ajaranmu: bahwa di atas politik, ada kemanusiaan.









