Tuesday 01st December 2020,

PENA 98 Nyatakan Sikap Politik Dalam Pilpres Mendatang

PENA 98 Nyatakan Sikap Politik Dalam Pilpres Mendatang
Share it

ASWAJADEWATA.COM | DENPASAR

Kamis siang (14/3) bertempat di Beching Caffee Jl. Kaliasem Denpasar, Persatuan Nasional Aktivis 1998 (Pena 98) menyampaikan sikap politiknya untuk pesta gong demokrasi Pilpres, 17 April 2019. Dengan tegas menyatakan menolak Calon Presiden (Capres) yang melanggar HAM, mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin (Capres-Cawapres nomor urut 01 yang diusung PDIP-Golkar-PKB-PPP-NasDem-Hanura-PKPI-Perindo-PSI).

Dalam jumpa pers tersebut Presidium Nasional Alumni 98, Oktaviansyah hadir bersama sejumlah angota Pena 98, seperti Daniar Trisasongko, Anggie Casella, Koko Sujatmiko, Gede Ngurah Hartawan, Yanni Nainggolan, Hannah Siregar, Nyoman Sutana, Willie Swardana, Heru Praptono, dan Jemima Mulyandari.

Ada 3 poin pernyataan sikap yang disampaikan Pena 98. Pertama, menolak Capres pelanggar HAM. Kedua, menolak kebangkitan keluarga Cendana. Ketiga, menolak Capres tuan tanah. Pernyataan sikap berisikan 3 poin tersebut disampaikan secara bergantian.Oktanviansyah menyatakan, Alumni Aktivis 1998 melontarkan sikap politiknya, karena Pilpres 2019 akan menentukan arah bangsa 5 tahun ke depan.

“Pernyataan sikap ini disampaikan oleh aktifis Pena 98 hari ini di seluruh Indonesia dilandasi karena saat ini muncul ancaman terhadap kebhinnekaan di Indonesia, ada pula ancaman terhadap demokrasi di Indonesia. “Ada juga ancaman terhadap hak azasi manusia (HAM),” ujar Oktavianus yang juga aktivis Posko Perjuangan Rakyat (Pospera).

Pernyataan sikap yang dibacakan Anggie Casella, menyebutkan Indonesia harus bersih dari catatan kelam pelanggaran HAM dan dosa-dosa masa lalu. “Sebab, keterkaitan bahkan keterlibatan Capres dalam kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu, akan menjadi contoh buruk dan ancaman bagi masa depan demokrasi, negara, dan rakyat Indonesia. Kami menolak Capres pelanggar HAM,” ujar Anggie Casella.

Anggie menegaskan tidak ingin generasi Indonesia mengalami kasus-kasus seperti di masa lalu. “Kami tidak ingin anak-anak kami harus mengalami peristiwa-peristiwa berdarah, penculikan, intimidasi, teror, dan penindasan serta pelanggaran-pelanggaran HAM lainnya sebagaimana terjadi di masa lalu,” katanya.

Anggie juga menyatakan bahwa tak ingin bangsa ini mengotori sejarahnya dengan membenarkan pelanggar HAM terbebas dari hukuman, dan menjadikannya pemimpin di negeri ini. “Kami tidak mau masa depan bangsa ini harus diserahkan ke tangan orang yang berlumuran darah saudaranya sendiri. Kami ingin anak-anak kami, generasi muda saat ini, bisa mewarisi negeri yang mampu memberikan keadilan, menegakkan HAM, dan terbebas dari mimpi buruk masa lalu,” tegas Anggie.

Sedangkan aktifis Pena 98 lainnya, Daniar Trisasongko, menegaskan alumni 98 menolak tegas Capres tuan tanah. Menurut Daniar, pemimpin Indonesia bukanlah dari segelintir orang yang menguasai lahan untuk kepentingan sendiri di tengah kemiskinan jutaan orang lainnya. Tuan-tuan tanah yang mengkooptasi lahan negara dan menguasainya untuk kepentingan pribadi, kata dia, tidaklah layak menjadi Capres di negeri ini.

“Kami yakin ketika seorang tuan tanah dibiarkan menjadi pemimpin di Republik Indonesia, maka ketamakan dan kehausannya akan harta dan kekuasaan bakal semakin merajalela,” ujar advokat senior ini.

Daniar juga menegaskan penolakan aktivis terhadap kebangkitan keluarga Cendana (Presiden ke-2 RI, Soeharto). Menurut Daniar, kontestasi politik pada Pilpres 2019 sejatinya pertarungan politik masa lalu vs masa kini. Masa lalu menampilkan orang-orang yang terkait erat dengan Orde Baru dari trah Cendana sampai menantu. “Mereka ingin mengembalikan kejayaan Orde Baru dengan mengusung jargon-jargon Orde Baru.”

Daniar menambahkan, mayoritas pemilih saat ini adalah generasi milenial yang anti Orde Baru. “Mereka yang menumbangkan Orde Baru dengan segala sistem yang pernah dijalankannya, mulai KKN, otoriter, hingga menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Cara itu yang kini sedang dipertontonkan oleh calon pengusung jargon Orde Baru melalui kampanye hitam, menebar hoaks, menebar ketakutan, menebar kebohongan data demi data, hingga memainkan isu agama dan RAS,” papar Daniar.

“Untuk itu, kami Pena 98 sepakat untuk tetap mendukung Capres-Cawapres yang bukan bagian dari masa lalu, bukan pelanggar HAM, bukan penebar hoaks, dan berkomitmen terhadap cita-cita perjuangan kami dalam agenda Reformasi 98. Calon pemimpin itu ada pada pasangan nomor urut 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin,” tegas Daniar.

(dad)

Like this Article? Share it!

1 Comment

  1. deni oktaviano March 19, 2019 at 12:41 pm

    makasih admin artikelnya sangat membantu

Leave A Response

Translate »