Monday 20th September 2021,

Refleksi Pemakaman Gusdur di Sepuluh Tahun Usianya

Refleksi Pemakaman Gusdur di Sepuluh Tahun Usianya
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Muhammad Rodlin Billah

Justru fragmen perkenalan saya dengan Gus Dur ialah saat jasad beliau dikebumikan di Tebuireng sehari setelah beliau wafat tepat sepuluh tahun lalu pada hari Rabu, 30 Desember 2009.

Saya adalah satu dari banyak orang yang berkesempatan melihat langsung peristiwa tersebut. Saat itu saya, yang masih berada di bangku kuliah, ditimbali ibu untuk segera bertolak ke Tebuireng sekeluarga.

Kami beruntung sebab tiba lebih awal, sehingga kami dapat memasuki kompleks pondok dengan lebih leluasa. Beberapa orang telah terlihat lebih dulu hadir; sebagian mempersiapkan proses pemakaman beliau, sebagian duduk-duduk di masjid pondok sembari menunggu jenazah Gus Dur tiba. Telah hadir pula beberapa sosok yang tak asing bagi awak media.

Tak butuh waktu lama bagi masyarakat untuk memenuhi kompleks pondok, mengingat kompleks pemakaman keluarga pendiri dan pengasuh pondok (dahulu sebelum dipugar, area ini tak seluas yang sekarang) menjadi satu dengan kompleks/halaman utama pondok. Kami mafhum; Gus Dur adalah Presiden Indonesia ke-4 sekaligus putra KH. Abdul Wahid Hasyim yang juga cucu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.

Beberapa saat kemudian hadir beberapa bapak-bapak berbadan tegap, berjas lengkap dengan dasinya, sebagiannya berkacamata hitam, tampak memantau lokasi-lokasi sekitar kompleks makam.

Tak lama kemudian para prajurit dari berbagai matra turut hadir dan segera merapikan barisannya. Demikian juga pejabat-pejabat negara hingga SBY, Presiden RI saat itu, turut hadir. Disusul segera dengan jenazah Gus Dur, diiringi dengan kalimat tahlil sahut-menyahut.

Lokasi disekitar makam dan pondok segera berubah menjadi lautan manusia. Hampir tak ada beda antara pejabat tinggi dan orang biasa.

Jas-jas rapi dan baju-baju dinas yang mereka kenakan tertutup oleh orang-orang sekitarnya. Saya menduga protokol istana untuk pengamanan para pejabat tinggi ini, khususnya Presiden, tak terlaksana dengan baik.

Demikian pula dengan para kyai atau santri yang mengenakan sarung dan baju koko, hampir-hampir tak terlihat pakaian mereka dengan sebab yang sama.

Akhirnya pemandangan yang terlihat ialah kepala-kepala yang bila tidak sedang berambut hitam, maka ia beruban putih. Bila tidak sedang mengenakan kopiah hitam, putih, cokelat, maka ia menggunakan topi atau caping. Tentu diantaranya ada pula yang berjilbab, berhijab, berkerudung, atau juga tidak.

Sebagian sampai menaiki pagar pembatas pondok sebelah barat, sebagian lainnya, khususnya para santri, menyaksikan dari balkon asramanya.

Satu momen yang membuat pandangan saya teralih justru bukan sambutan presiden atau tembakan salvo, melainkan saat sekitar 5-6 orang, yang setiap kepalanya tercukur bersih, berusaha mendekat ke lokasi makam. Mereka berusaha untuk tak mengganggu para hadirin, namun para hadirin disekitar mereka justru dengan sukarela mempersilahkan mereka bergerak mendekat.

Lamat-lamat saya amati melalui celah-celah diantara orang-orang, ternyata mereka menggunakan pakaian serupa kain cokelat yang dibebatkan ke badan ditemani serupa selendang merah gelap yang disampirkan ke bahu.

Demikian pula yang terjadi pada sekelompok kecil orang yang mengikuti kelompok pertama ini. Mereka mengenakan sejenis peci berwarna ungu dan baju panjang berwarna putih.

Kedua-duanya merupakan pakaian yang tak awam saya temukan dalam beberapa proses pemakaman yang pernah saya hadiri sebelumnya, terlebih yang dilaksanakan dalam lingkungan pondok.

Dan saat itulah saya terheran dengan sangat akan sosok Gus Dur sebenarnya: apa gerangan yang telah dilakukan semasa hidupnya sampai-sampai dapat menggerakkan banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda, tak hanya beda secara sosial, ekonomi, namun juga ideologi, untuk rela berdesakan menghadiri pemakamannya?

—–

Setidaknya membaca biografi Gus Dur melalui kacamata Greg Barton, Gus Mus, dan KH. Husein Muhammad, serta kisah-kisah Gus Dur yang bertebaran di Facebook dalam beberapa tahun terakhir ini, baik dari tokoh masyarakat maupun masyarakat umum, membuat saya mengenali sosok yang selama ini saya hanya berkesempatan mencium tangannya.

Namun membaca tulisan-tulisan yang beredar di sekitar buku “Menjerat Gus Dur”-nya Virdika Rizky Utama yang baru-baru ini saja dirilis semakin membuat saya mengenali Gus Dur.

Ternyata sedemikian besar sosok seorang Abdurrahman Wahid…

Lahu Al-Fatihah….

(Penulis adalah Kandidat Doktor di Karslruhe Institute of Technology, Germany dan Ketua PCINU Jerman)

Sumber: FB

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »