Wednesday 04th August 2021,

SARA dan Toleransi, Sebuah Refleksi Kemajemukan

SARA dan Toleransi, Sebuah Refleksi Kemajemukan
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Oleh: Yuri Mahatma

SARA dan Toleransi, dua istilah yang beberapa tahun terakhir terus menjadi obrolan dan perbincangan dari tingkat “ujung gang” hingga dijadikan topik dari ribuan seminar offline maupun online. Sepertinya SARA dan Toleransi menjadi hal yang amat genting dan penting yang tengah mengancam  kehidupan bangsa, sehingga kata ini terus berdengung dalam relung masyarakat, minimal dalam relung-relung media sosial dimana tiap orang ujug-ujug merasa diri jadi tokoh dan pakar saat berselancar di dunia maya.  terlepas dari yang bersangkutan paham atau tidak, rasanya seperti kurang “update” kalau tidak ikut bicara hal yang satu ini. Di lain pihak, bagi sebagian orang, SARA dan toleransi juga telah menjadi kata yang basi dan membosankan. Bukan karena hal ini telah habis dibahas dan tuntas, tapi hanya karena terlalu sering dibahas, membuat mereka bosan. Urusan paham atau tidak itu urusan lain.

Bagi bangsa yang besar dan se-majemuk Indonesia, toleransi  SARA adalah hal mutlak yang harus dipahami dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama toleransi beragama. Ini barang sensitif. Kalau kita kurang paham terhadap perbedaan suku dan budaya, kerap masih bisa berkilah bahwa itu hanyalah sekedar stereotype, bukan melulu rasis. Ambil contoh,  orang padang yang mashyur sebagai pedagang dan perantau di-stereotype-kan sebagai pelit. Begitu juga orang-orang keturunan tionghoa, arab atau orang jawa yang terkenal “slow” dan lambat. Demikian juga orang Bali dan suku-suku lainnya memiliki stereotype nya masing-masing yang walau kadang sifatnya negatif sepanjang dimaksud untuk tidak menghujat maka bukanlah suatu penghinaan. Lain halnya dengan agama. Tak bisa kita menstereotype kan agama orang. Ini bisa pelanggaran berat. Bahkan ada pasalnya. Juga tak sedikit orang terjerat dan diseret ke pengadilan untuk perkara ini. Yang paling heboh adalah kasus koh Ahok. Bagi saya kesalahan Ahok adalah menyitir salah satu ayat dalam kitab suci orang lain, yang tidak dia imani, untuk kepentingannya. Tentu lain bobot dan implikasinya bila hal yang sama dikatakan oleh Gus Dur misalnya. Orang yang tidak sepahampun akan berpikir seribu kali walau hanya untuk membantah sekalipun.

Menarik disimak, KemDikBud membagi toleransi dalam tiga tingkatan. Pertama adalah Toleransi Negatif, dimana seseorang tidak menghargai kebudayaan, isi ajaran agama dan penganutnya, namun tetap membiarkan saja karena terpaksa. Bukan karena kesadaran, namun karena “dipaksa” oleh aturan pemerintah. Ini level terendah yang mana sikap ini bisa menguap kapan saja. Kedua adalah Toleransi Positif, dalam tingkatan ini seseorang menolak kebudayaan dan isi ajaran agama, namun menerima dan berinteraksi dengan penganutnya. Terakhir dan yang tertinggi adalah Toleransi Ekumenis, ini bukan istilah Kristen (Ekumene, red.) namun dari istilah Bahasa Yunani yang berarti “Rumah Bersama”. Ini terjadi saat kita menghargai kebudayaan dan agama yang berbeda,  bahwa dalam suatu kebudayaan dan ajaran agama terdapat nilai-nilai kebenaran universal yang harus dijadikan landasan dalam kehidupan bersama, sekaligus berguna untuk memperdalam pendirian dan kepercayaan sendiri. Tentu saja tingkatan terakhir ini yang paling sulit namun disaat yang sama, toleransi seperti ini yang mutlak kita butuhkan. Sebenarnya secara kultural, di beberapa daerah sudah  ada yang menerapkan ini secara turun temurun. Seperti di Ambon (sebelum kerusuhan), adalah umum masyarakatnya saling bahu -membahu dalam pembangunan rumah-rumah ibadah baik gereja maupun masjid. Juga di Bali dimana masyarakat muslim dan hindu juga saling berpartisipasi dan berbaur dalam kegiatan Bersama.

Urusan toleransi juga erat kaitannya dengan dikotomi mayoritas-minoritas. Sering kita dengar terjadi “persekusi” terjadi oleh mayoritas terhadap minoritas. Alasannya lumayan konyol. Yaitu bahwa sudah selayaknya mereka yang minoritas patuh dan manut apa kata mayoritas.  Sudah terlalu sering kita dengar pelarangan, penghancuran dan intimidasi masyarakat muslim terhadap pembangunan gereja di berbagai tempat. Kita kerap lupa bahwa Keagungan mayoritas terlihat dari bagaimana kita memperlakukan dan menjamin hak-hak minoritas.Kalau mengacu pada tingkatan toleransi diatas, bisa dipastikan level toleransi mereka yang melakukan persekusi ini masih di level pertama atau kedua. Masih amat jauh dari level ketiga. Belum lagi ditambah dengan ada juga yang memancing di air keruh. Umum diketahui konflik halus “perebutan” jamaat juga terjadi di antara gereja-gereja, sehingga ada unsur pembiaran dan “tutup mata” atas persekusi yang terjadi atas umatnya sendiri.

Syukur kita punya NU. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang mengayomi mayoritas umat Muslim Nusantara, telah melakukan dan terus menerus menerapkan Toleransi Okumenis ini. Bahkan jauh sebelum KemDikBud membuat tingkatan-tingkatannya. Tanpa pemahaman agama yang baik yang dimiliki NU, melindungi dan mengayomi hak-hak minoritas dan selalu memberi contoh akan pentingnya toleransi bagi kehidupan bangsa, tidak akan mungkin ada anggota Banser yang mau menjaga gereja. tak mungkin PBNU terus menerus menggaungkan Islam Nusantara, yaitu agama yang dibangun diatas budaya – budaya yang ada di Nusantara.

Walau di kalangan NU sendiri, baik di elit-elit pondok maupun di akar rumput masih ada yang belum menerima banser jaga gereja, atau menganggap Islam Nusantara itu nyeleneh, namun saya yakin ini hanya masalah waktu. Yang esensial telah dilakukan NU adalah menjaga KE-AGUNGAN mayoritas, dalam hal ini nilai-nilai Islam yang moderat. Bukan hanya sekedar besar. Karena kalau itu, PKI pun dulu besar.

“Pun demikian, sekeras apapun usaha NU, adalah pekerjaan rumah kita semua , tiap pribadi dalam sekala terkecil yaitu dari rumah kita sendiri untuk memulai toleransi tingkat tinggi ini. Karena bagaiamanapun Toleransi sebagaimana juga Kebencian, adalah dua hal yang diajarkan. Yang dibenamkan ke pikiran sejak anak-anak”

Selamat Imlek bagi Saudara-Saudaraku yang merayakan…

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »