Setelah 14 Tahun, Bahtsul Masail di Bali Kembali Digelar

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

ASWAJADEWATA.COM | DENPASAR

Lembaga Bahtsul Masail PWNU Bali menggelar giat Bahtsul Masail Antar PCNU, Tokoh Agama, dan Pondok Pesantren se-Bali. Kegiatan yang bertema “Menghidupkan Kembali Ghirah Keilmuan Nahdliyyin, Menjawab Persoalam Umat Islam di Bali” dilaksanakan di Musal Joglo Kalifa Nusantara Denpasar Barat, Sabtu, 02/03/24.

Ketua LBM PWNU Bali, Ustadz Nur Wahyudi, M.Pd.I menyampaikan, kegiatan Bahtsul Masail di Bali sudah 14 tahun tidak pernah dilaksanakan. Dari tahun 2009, baru kali ini kembali digelar.

“Bahtusl Masail di Bali sudah dilaksanakan pada tahun 2009 sebanyak dua kali. Dari 2009 sampai saat ini baru ada lagi. Jadi 14 tahun, Bahtsul Masail baru ada lagi sekarang ini,” jelasnya.

Dengan lahirnya kembali Lembaga Bahtsul Masail dan kemudian menggelar kegiatan ini, Rais Syuriyah PWNU Bali, KH. Nur Hadi Al Hafidz sangat merasa bangga. Karena telah lahir kembali orang-orang yang peduli kepada ilmu.

“Saya merasa bangga dengan lahirnya kembali LBM ini. Dulu LBM di PWNU Bali pernah ada, namun setelah itu tidak ada lagi. Karena mencari orang yang peduli kepada ilmu susah sekali. Maka sampean yang hadir ini adalah orang cerdas karena peduli. NU yang cerdas ya yang peduli seperti ini,” ucap KH. Nur Hadi Al Hafidz.

“Pesan saya yang terakhir, “wa jadilhum billati hiya ahsan”. Maka musyawarahnya dengan kalimat-kalimat ahsan, yang baik. Sehingga Bahtsul Masail ini melahirkan rumusan yang bermanfaat bagi masyarakat dan hikmah khususnya bagi Nahdliyyin.”

Ketua PWNU Bali, KH. Abdul Azis, “Bahtsul Masail ini memberikan hal yang sangat positif bagi kepentingan kita semua, bagi kepentingan umat Islam. Saya sangat bangga dan sangat mendorong bahwa Bahtsul Masail ini tidak terbatas hari ini, tapi berkelanjutan.”

“Kita harus sepakat, LBM bisa mewadahi dan memberikan fasilitas untuk para kiai dan ustadz. Karena dalam kehidupan sekarang, kita harus memberikan pencerahan hukum kepada masyarakat. Kalau kita tidak peduli dengan musyawarah yang seperti ini, dikhawatirkan ada kesesatan-kesesatan pemahaman hukum di masyarakat,” tegasnya.

Bahtsul Masail membahas empat persoalan, yaitu: 1. Ta’addudul Jum’at, 2. Toleransi umat beragama di Bali, 3. Muamalah di Bali, 4. Hari Raya Nyepi bertepatan awal Ramadhan 2024. (*)

Editor: M. Taufiq Maulana

diunggah oleh:

Picture of Dadie W Prasetyoadi

Dadie W Prasetyoadi

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »