Saturday 04th December 2021,

Bedah Buku Ijtihad Islam Nusantara, Begini Menurut Narasumber Pembanding

Bedah Buku Ijtihad Islam Nusantara, Begini Menurut Narasumber Pembanding
Share it

ASWAJADEWATA.COM | PAITON

Berbagai kegiatan menarik terkait Muskerwil ke-I PWNU Jatim digelar di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton yang menjadi lokasi perhelatan. Salah satunya adalah side event bedah buku Ijtihad Islam Nusantara yang ditulis Prof. Dr. Abd A’la, M.Ag dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Nurul Jadid 2 (29/11).

Kegiatan bedah ini jadi satu kegiatan menarik dengan dihadiri oleh pengurus pesantren serta santri-santri PP. Nurul Jadid, badan otonom NU dan musyawirin. Dengan mengundang sebagai pembanding, Dosen Universitas Nurul Jadid, Probolinggo, Dr. Ahmad Syahidah, P.Hd. dan Dosen Universitas Islam Negri Sunan Ampel, Surabaya, Dr. H. Syaiful Bahar, M.Si.

Prof. Dr. Abd. A’la, M.Ag.

“Islam Nusantara adalah upaya mewajahkan Islam yang rahmatan lil alamin kedalam kehidupan yang sangat beragam di Nusantara,” kata Prof. Dr. Abd. A.la, M.Ag dalam bedah buku yang ia tulis.

Menurut mantan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya ini, Islam Nusantara dipakai sebagai wujud kongkret aswaja dalam merespon risalah Rosulullah. Perbedaannya terjadi pada tatanan praktek keagamaan. Prinsipnya masih sama, yaitu membumikan ajaran Islam.

Salah satu pembicara pembanding Dr. H. Moh. Syaiful Bahar, M. SI mengatakan bahwa salah satu kekuatan utama ajaran islam dari buku ini adalah menempatkan surah Al Anbiya (21) ayat 107 sebagai paragraf awal di bab pertama.

“Ditambah lagi hadits Nabi, bahwa ahlak mulai adalah maksud utama diutusnya Rasulullah Muhammad SAW,” ungkapnya.

Menurut alumni PP. Pesantren Nurul Jadid itu, Islam Nusantara adalah Islam  yang menyandingkan antara semangat keislaman dan cinta tanah air dalam satu nafas. Sehingga Islam Nusantara memiliki imun yang lebih kuat dibandingkan Islam Timur Tengah.

Narasumber yang berasal dari Kabupaten Bondowoso ini berharap agar kita sebagai umat Islam memiliki tanggungjawab, dan menjadi pribadi yang kuat secara moralitas serta berdaya secara sosial.

“Tidak hanya berdaya secara pribadi, lebih dari itu, juga harus menebar kemaslahatan ditengah-tengah masyarakat,” tegasnya. (dad)

sumber: alfikr.co

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »