Wednesday 25th November 2020,

Hakikat Perempuan dalam Menguatkan Mentalitas Sosial

Hakikat Perempuan dalam Menguatkan Mentalitas Sosial
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. RA. Kartini lahir dari keluarga priyayi yang memiliki nama panjang Raden Adjeng Kartini. Ia anak perempuan dari seorang patih bernama Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat. Yang kemudian di angkat menjadi bupati di Jepara sedangkan M.A. Ngasirah merupakan ibu dari Kartini yang pada saat itu beliau bekerja sebagai seorang guru agama di salah satu sekolah di Telukawur, Jepara.

Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara perempuan dan laki-laki di indonesia. Hal ini dimulai ketika kartini merasakan diskriminasi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan pada masa itu. Dimana beberapa perempuan sama sekali tidak di perbolehkan mengenyam pendidikan. Kartini sendiri mengalami kejadian ini ketika ia tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi dengan perjuangan kartini tidak pernah putus asa. Kartini sering berkomunikasi dengan teman-temannya di negeri Belanda, dan akhirnya surat-surat tersebut di kumpulkan oleh Abendanon dan diterbitkan sebagai buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Perempuan dalam perspektif sejarah, terutama di zaman kebodohan, perempuan adalah kelompok manusia yang selalu tertindas sehingga membuat kaum perempuan di masa itu tidak mempunyai mental yang kuat karena mendapat tekanan dari masyarakat dan penguasa. Mereka tidak memiliki daya dan upaya untuk keluar dari belenggu penindasan, yang mana mereka tidak dihargai layaknya laki-laki terutama yang berkaitan dengan pendidikan. Ironisnya, ketertindasan ini dialami oleh orang-orang yang minim pendidikan. Kenyataan ini memberikan pengaruh besar sehingga relasi gender dalam dunia pendidikan telah mengendap di alam bawah sadar perempuan.

Mental seorang Kartini sangatlah kuat dalam menghadapi fenomena pada masa itu, sedangkan perempuan sekarang tidak begitu banyak yang memiliki mentalitas seperti ibu kartini  di sertai keberaniannya untuk menjaga keutuhan NKRI. Perempuan masa kini seharusnya dapat mengambil contoh dari Ibu Kartini dalam menjalani retorika kehidupan yang dipenuhi serangan-serangan ideologi yang berkembang, perempuan harus mengambil sikap, dan memegang tongkat keyakinan ideologi yang moderat demi menata persatuan dan kesatuan republik indonesia, kita hidup saat ini adalah sebagai penikmati sejarah serta sekaligus pembuat sejarah.

Perempuan diibaratkan sebagai penyempurna dalam  kesuksesan seorang pria, tetapi seorang perempuan pun bisa bersosialisasi dengan kemandirian, ideologi, kreatifitas dan pendidikan yang baik sebagaimana Ibu Kartini pada masa itu.

Setelah saya menganalisa kaum perempuan pada masa kini sangat ironis dengan kemanjaan hedonisme baik di tingkat pendidikan yang bawah maupun di tingkat pendidikan yang paling atas, sehingga mereka sulit mempunyai ujung tombak cita-cita untuk membangun mentalitas yang kuat dan kemandiriaan yang baik.

Ita Khuniyawati (itC)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »