Thursday 23rd September 2021,

Harar Jugol, Pelajaran Toleransi Dari sebuah Kota Suci

Harar Jugol, Pelajaran Toleransi Dari sebuah Kota Suci
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Harar disebut didirikan oleh migran Arab antara abad ke-10 dan 13. Kota tuanya yang diberi nama Harar Jugol memiliki lima gerbang tua. Kota ini merupakan ibukota negara bagian paling kecil di Ethiopia dan kampung halaman bagi etnis Oromo. Sejak 2006 Harar masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia versi UNESCO.

Kota Purba

Kota ini tercatat memiliki 82 masjid dan lebih dari 100 kuil. Masjid Jami di pusat kota merupakan yang terbesar. Sekitar sepertiga warga Ethiopia beragamakan Islam. Namun di kota ini, umat muslim mewakili mayoritas penduduk lokal.

Salah satunya terdapat sebuah masjid bernama Masjid Jami, satu-satunya rumah ibadah yang mengizinkan perempuan melakukan salat di gedung yang sama seperti laki-laki. Mereka masuk melalui pintu kecil di sisi kanan gedung. Tidak jarang juga perempuan terlihat beribadah di bagian luar. Kebanyakan masjid di kota tua berukuran kecil, sehingga hanya digunakan oleh kaum laki-laki.

Meski berstatus kota suci umat muslim, Harar memiliki dua gereja di kota tua, antara lain Medhane Alem yang dimiliki umat Kristen Orthodoks. Penduduk kota membanggakan fakta bahwa Harar menampung berbagai jenis umat beragama. Pada 2003 kota ini mendapat penghargaan Kota Perdamaian dari UNESCO lantaran kehidupan sejuk antara umat beragama.

Gereja Tua Medhane Allem di Harar Jugol

Kota berpenduduk 120.000 jiwa ini sulit dilepaskan dari hal-hal yang berbau mistis. Salah satu sebabnya adalah pengaruh Sufisme yang kuat. Salah satu situs paling suci di Harar adalah makam Syekih Abadir, salah seorang pendiri kota. Di sini peziarah biasa duduk dan mengunyah daun psikoaktif, Khat, selama berjam-jam untuk berdoa.

Khat

Tanaman daun Khat yang pada awalnya digunakan untuk keperluan spiritual, kini dikonsumsi secara luas di Ethiopia. Kawasan di sekitar Harar hingga kini menjadi pusat perdagangan Khat. Daun yang mengandung senyawa psikotropika ini menyumbangkan 70% devisa dari sektor pertanian di kawasan. Khat tidak hanya mengurangi rasa lelah dan menambah nafsu makan, tetapi juga bisa menyebabkan kecanduan.

Perekonomian Harar juga ditopang oleh pasar tekstil yang dinamakan “Makina Girgir” dalam bahasa lokal, lantaran selalu dipenuhi bunyi mesin jahit. Pasar ini biasanya disambangi kaum perempuan dari pinggir kota. Busana muslim bagi perempuan adalah komoditas yang paling banyak diperdagangkan di Harar.

Setiap pagi, warga etnis Oromo berkumpul di kawasan pusat kota untuk berdagang. Mereka terbiasa berjalan kaki selama berjam-jam untuk mencapai tembok kota Harar. Penghasilan yang didapat biasanya dibelanjakan kembali untuk membeli pakaian, daging atau perlengkapan dapur. Harar hidup dari perekonomian skala kecil yang tumbuh di pasar-pasar tradisional.

Sekitar 40km (24.8 miles) dari Harar, terdapat pasar unta yang terkenal digelar dua kali setiap pekan. Di sini pedagang bisa menjual sebanyak 200 ekor unta dalam satu pagi, dengan harga berkisar mulai dari USD 565. Para pedagang biasanya termasuk kaum nomaden Somalia yang hidup dengan beternak unta. (rzn(ap)

Sumber: DW.com

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »