Wednesday 25th November 2020,

Haul Habib Ali Al Hamid Wali Pitu Bali di Klungkung Dihadiri Ratusan Jama’ah

Haul Habib Ali Al Hamid Wali Pitu Bali di Klungkung Dihadiri Ratusan Jama’ah
Share it

ASWAJADEWATA – Acara puncak hari Haul Akbar Habib Ali bin Abu Bakar Al – Hamid dilaksanakan pada Ahad (7/4) di Masjid Al Mahdi, kampung Islam Kusamba, Klungkung. Setelah rangkaian acara sebelumnya yaitu Khotmul Qur’an di Qubbah Habib Ali Al – Hamid pada Sabtu (6/4).

Rangkaian puncak acara dimulai sejak pagi yaitu Khotmul Bukhori pada pukul 08.00 di Pondok Pesantren Nurul Musthofa, Gelgel, Klungkung. Dilanjutkan kembali pada pukul 14.00 wita dengan pembacaan Maulid Nabi yang diikuti sekitar 600 orang peserta.

Turut hadir Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf dari Surabaya. Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf dari Pasuruan yang juga Mustasyar PWNU Jawa Timur, Habib Abdul Mutholib Assegaf dari Klungkung, Habib Mahdi Al Maghrobi dari Klungkung, Ketua PW NU Bali, K.H. Abdul Aziz, Ketua PC NU Bangli, Bapak Ma’arif.

H. Idham Amin selaku humas menyebutkan bahwa peserta haul tak hanya dari pulau Bali saja. Bahkan ada rombongan dari Jawa dan Lombok. Dalam keamanan kita dibantu pihak keamanan seperti TNI, Polri, Barkam dan Banser.

Masjid Al Mahdi Kusamba

Acara dilanjutkan kembali ba’da sholat Ashar dengan pembacaan Surat Yasin dan Tahlil di Makam Habib Ali bin Abu Bakar Al Hamid. Dan sambutan oleh Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf dari Surabaya. Beliau menyampaikan tentang keutamaan haul, “Haul tidak hanya seremonial, menceritakan kisah lama, tapi sebagai foum untuk kita bercermin sampai dimana perjuangan mereka sampai dimana perjuangan kita”.

Mengutip pernyataan dari Habib Ali Muhammad al Habsy yaitu jika ingin selamat dan bahagia, maka jangan berkumpul dan berjalan kecuali dengan mereka para salaf. “Yang terbaik ialah bercermin kepada salaf, dan jangan hanya pandai meniru pakaian seperti mereka, bukan hanya dengan mencontoh amalan mereka, tapi tirulah ketulusan hati mereka”, terang beliau.

Mereka di hauli bukan karena pakaian dan paras, namun karena dicintai. Karena Habib itu adalah orang yang dicintai. Mereka cinta kepada Allah SWT dan dibuktikan dengan mencintai sesama makhluk. Dan ditutup dengan menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung berlangsungnya acara.

Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf

 

Kemudian Mauidhoh Hasanah oleh Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf. Diawali dengan mengatakan, “Dengan haul maka kita tau siapa yang akan tenang disaat mati”.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS.Yunus:62-63)

  1. Sifat – sifat wali Allah yaitu beriman dan bertaqwa kepada Allah. Tak hanya lahir saja namun batinnya juga beribadah kepada Allah SWT. Maka tidak benar bila rajin sholat tapi masih membenci dan mencaci orang lain. Itu bukan termasuk awliya. Jadi jangan saling membantu dalam urusan bermusuhan.
  2. Para Awliya juga menjauhi apa yang dilarang baik lahir maupun batin. Lahiriyah sepeti zina, khomer dll. Dan Batiniyah seperti penyakit-penyakit hati.
  3. Kesuksesan akhirat seperti khusnul khotimah. Kita diperintahkan ibadah ikhlas kepada Allah SWT. Jika ibadah hanya kepada Allah tapi jika hatinya, alamatnya bukan untuk Allah, apakah sampai? Yang kedua adalah bermakrifat kepada Allah. Seperti seorang anak yang bermanja-manja. Percayalah dengan rizki Allah! Karena rizki kita sudah dijamin sejak dalam kandungan.
  4. Maka kenalilah Allah. Contoh lain adalah cicak yang tidak bisa terbang. Tapi kalo sudah rizkinya, ya makan. Buah, beras maupun makanan laut datang sendiri kepada kita walaupun asalnya dari luar negeri. Dan bahkan hal-hal seperti asap pada rokok pun banyak yang menikmati. Lalu apakah dalam beribadah kita dapat menikmati?

“Saudara, jika anda diberi kesempatan bertemu presiden tentu anda akan berlama – lama bersimpuh, tapi kalo baru sholat empat rokaat saja pingin cepat selesai. Tarawihnya kebut – kebutan”, ujar beliau.

Karena itu awliya Allah ialah orang-orang yang menikmati ibadahnya. Hati yang lapang seperti samudra adalah hati para awliya. Seandainya diceburkan bangkai yang banyak kesana tapi tidak akan kotor karena luasnya samudra, tidak ada dendam maupun kebencian di dalam hatinya.

Seperti Rasulullah saat dakwah, baik dilempar batu tapi lebih memilih jalan dakwah dengan tidak dendam dan justru mendoakan agar yang membencinya mandapat hidayah.

“Jika ingin menjadi dokter maka kita harus sering duduk dengan dokter, kalo anda ingin pintar bahasa Inggris maka kumpullah dengan ahli bahasa. Tapi jika ingin menjadi awliya, duduklah bersama awliya. Jika ingin menjadi sholihin duduklah dengan orang-orang sholeh. Namun jika tidak mampu maka jadilah pecinta awliya. Karena di akhirat nanti kita akan dikumpulkan dengan orang yang di cintai”, kata beliau lagi.

“Seperti saat membeli rambutan, sudah tentu tangkai dan rambutan turut kita beli karena masih bersambung dengan buah rambutan tersebut. Seperti itulah hubungan kita dengan para wali di surga kelak”… Aamiin. pungkas Habib Taufiq dihadapan para jama’ah yang hadir.

Tausiyah pun ditutup dengan pembacaan kalimat Tauhid serta doa.

(Agus/dad)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »