Indonesia Sudah Kiamat: Pohonnya Hilang Pejabatnya Senang dan Masyarakatnya Stres Bukan Kepalang

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

Lagi dan lagi indonesia berduka, setelah sebelumnya kita dihadapi dengan panasnya demonstrasi yang merenggut banyak nyawa orang dan tidak sedikit memenjarakan orang-orang yang tak bersalah, kali ini kita dihadapi oleh musibah longsor dan banjir yang menimpa saudara kita di Aceh dan Pulau Sumatera yang sampai sekarang masih banyak korban baru yang bermunculan.

Sejak 26 November kemarin sebanyak 836 orang tewas, 518 orang dinyatakan hilang yang bahkan sampai detik ini masih banyak korban yang belum ditemukan.

Sebenarnya salah alam atau karena ulah manusia?

Kalau kita berbicara tentang faktor penyebab terjadinya musibah longsor dan banjir yang terjadi di Aceh dan Pulau Sumatera akhr-akhir ini, tentunya tak jauh dari 2 faktor utama yaitu faktor alam dan faktor manusia.

Mengapa demikian?, apakah dua faktor tersebut mempunyai hubungan yang tidak bisa dilepaskan?, jawabannya iya dan memang saling berkaitan.

Loh, bukannya kemarin longsor dan banjir terjadi karena cuaca ekstrim dan usia pohon yang sudah lapuk?, jadi bukan salah manusianya dong!.

Memang cuaca ekstrim dan usia pohon itu menjadi salah satu penyebab longsor dan banjir itu terjadi, tetapi faktor manusia juga bisa memperparah musibah yang terjadi.

Bagaimana bisa faktor manusia memperparah sebuah musibah?

Kita tidak bisa mengelak pada fakta yang ada dilapangan. Dilansir dari Kompas.com, Indonesia menjadi peringkat kedua negara dengan deforestasi terparah. Data yang dirilis oleh World Population Review pada awal tahun 2024 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua dalam daftar negara dengan Tingkat deforestasi terparah secara global.

Data ini berdasar pada perubahan area hutan sejak tahun 1990-2020 yang Dimana deforestasi Indonesia mencapai perubahan area hutan hingga 101.977 mil persegi, atau 22,28 persen dari total area hutan, wow fantastic sekali.

Belum lagi data dari Kementerian kehutanan menemukan, dalam kurun 1990-2024 banyak hutan alam di Provinsi Sumatera Utara beralih fungsi menjadi perkebunan, pertanian lahan kering dan hutan tanaman. Dilansir dari website Greenpeace, Peneliti senior Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, mengatakan, “Mayoritas DAS di Pulau Sumatera telah kritis dengan tutupan hutan alam kini kurang dari 25 persen. Sedangkan secara keseluruhan kini tinggal 10-14 juta hectare hutan alam atau kurang dari 30 persen luas Pulau Sumatera yang 47 juta hectare.”

Dari data diatas kita bisa menebak apa dan siapa yang menyebabkan longsor dan banjir yang terjadi di Aceh dan Pulau Sumatera bisa separah itu. Yaa manusianya dong, masa pohonnya sih!

Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dengan adanya musibah ini?

Ada banyak hal yang seharusnya pemerintah bisa lakukan ketika dihadapkan dengan musibah semacam ini diantaranya:

1. Pemerintah bisa langsung responsif dalam artian turun langsung ke lapangan tanpa perlu adanya koordinasi dan rapat-rapat gak jelas terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa parah akibat yng dihasilkan dari bencana yang sedang terjadi.

2. Pemerintah jangan haus akan validasi ketika ingin mengirimkan bantuan kepada para korban yang terdampak bencana. Jadi tidak perlu ceremony pelepasan bantuan atau berpura-pura menggendong sekarung beras yang di kelilingi flash kamera untuk jadi bahan upload di social media, upsss.

3. Pemerintah bisa dan harus melakukan evaluasi terkait bencana yang terjadi, seperti penyebabnya apa?, dampaknya seperti apa?, dan bagaimana cara penanggulangan bencana tersebut agar tidak terjadi dikemudian hari, bukannya sibuk mengurusi program kerja tanam satu milyar pohon hehe.

Kalau tidak bisa menanam satu milyar pohon setidaknya kita bisa merawat satu milyar pohon yang ada karena pohon adalah bagian dari kehidupan kita dan karena pohon juga kita bisa bernafas dengan leganya dan bersandar dengan tenangnya. Tapi pohonnya bukan yang sawit yaa hehe.

Penulis : Angger Bayu Pamungkas

 

 

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »