Thursday 23rd September 2021,

Mengenal Metode Yanbu’a di Bali, Sanad Sampai Rasulullah SAW

Mengenal Metode Yanbu’a di Bali, Sanad Sampai Rasulullah SAW
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Ada begitu banyak Thoriqoh atau metode baca tulis Al-Qur’an diajarkan di Indonesia. Mulai dari yang sering kenal dengan Iqra’, kemudian ada tartili, tilawati, qiroati, dirosati, yanbu’a dan sebagainya. Semua tergantung dari pondok pesantren, Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Rumah Tahfidz Qur’an (RTQ) atau majelis-majelis serta masing-masing ustadz yang mengajarkannya.

Di Bali, beberapa Madrasah Diniyah maupun TPQ menggunakan metode yang variatif diantara yang populer saat ini adalah Yanbu’a. Yanbu’a pertama kali masuk ke Bali pada Tahun 2009 dibawakan oleh Koordinator Wilayah yaitu Ustadz Abdul Hamid, Ustadz Muhammad Sukri, Ustadz Fathki dan Ustadz Solehan Nur. Metode ini sampai dengan saat ini telah meluluskan santri hingga ribuan dari berbagai Lembaga pendidikan Al-Quran di Bali.

Asal Mula Thoriqoh Yanbu’a

Yanbu’a adalah suatu kitab Thoriqoh ‎(metode)‎ untuk mempelajari baca dan menulis serta menghafal Al Qur’an dengan cepat, mudah dan benar bagi anak maupun orang dewasa, yang dirancang dengan rosm utsmaniy dan menggunakan tanda-tanda baca dan waqof yang ada di dalam Al Qur’an rosm Usmaniy, yang dipakai di negara-negara arab dan negara islam lainnya.‎

Yanbu’a sendiri berasal dari Pondok Tahfidz Yanbuul Qur’an yang diasuh oleh KH. Arwani Kudus. Sementara penyusunan kitab Yanbua diprakarsai oleh tiga tokoh pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an putra KH. Arwani Amin Al Kudsy (Alm) yang bernama: KH. Agus M. Ulin Nuha Arwani, KH. Ulil Albab Arwani dan KH. M. Manshur Maskan (Alm) dan tokoh lain diantaranya: KH. Sya’roni Ahmadi (Kudus), KH. Amin Sholeh (Jepara), Ma’mun Muzayyin (Kajen Pati), KH. Sirojuddin (Kudus) dan KH. Busyro (Kudus).

Kata Yanbu’a sendiri diambil dari nama Pondok beliau Yanbuul Qur’an yang artinya adalah sumber Al-Qur’an, nama yang sangat digemari oleh guru besar Al-Qur’an Al-Muqri’ Simbah KH. Arwani Kudus yang silsilahnya keturunannya sampai pada Pangeran Diponegoro. Dan sanad keilmuannya sampai pada Rasulullah SAW.

Belajar Al-Qur’an dengan metode Yanbu’a sanadnya akan sampai pada Rasulullah SAW, karena thoriqoh diajarkan oleh Simbah KH. Arwani Kudus dan setiap santrinya akan diuji langsung oleh pengasuh Pondok Tahfidz Yanbuul Qur’an yang didirikan oleh KH. Arwani Amin Kudus.

Perjalanan Thoriqoh Yanbu’a Di Bali

Thoriqoh Yanbua masuk ke Bali pertama kali pada tahun 2009 melalui Ustadz Solehan Nur selaku pembina Yanbu’a wilayah Bali, Ustadz Abdul Hamid sebagai Ketua Yanbu’a Wilayah Bali, Ustadz Muhammad Sukri sebagai sekretaris dan Ustadz Fathki sebagai bendahara Yanbu’a Wilayah Bali.

Tak selang waktu lama Thoriqoh ini dapat menyebar luas di Denpasar, Badung dan terus meluas hingga ke Batu Bulan, Ubud- Gianyar, dan daerah-daerah lainnya. Tak heran jika dalam waktu 10 tahun ini, total dari berbagai lembaga pendidikan Al-Qur’an metode Yanbu’a di wilayah provinsi Bali tercatat berhasil meluluskan santrinya dengan jumlah diatas seribuan.

Yanbua Bali mnginduk ke Lembaga Muroqobah Yanbua (LMY) Jember Jatim asuhan KH.Imam Baghowi Burhan Al Hafidz Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Yasinat Kesilir- Wuluhan Jember, Jawa Timur.

Salah satu ciri khas Thoriqoh Yanbu’a adalah diawali dengan bertawasul sanad Kyai Haji Arwani nyambung ke Imam Ashim dan Imam Hafs bin Sulaiman bin Al-Mughirah Al-Asadi, ngalap barokah dari para ulama dan para waliyullah.

Tidak hanya sebatas membaca, metode ini juga mengajarkan cara menulis pegon dan imlak disetiap halaman. Hal itu akan membantu memudahkan santri dalam menghafal Al-Qur’an dengan metode Yanbu’a.

Penulis: Muhammad Muhlisin

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »