Pedoman Zakat Fitrah dan Fidyah LBM PWNU Provinsi Bali Tahun 2026

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

ASWAJADEWATA.COM

A. Zakat Fitrah

Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Ketentuan zakat fitrah telah dijelaskan oleh para ulama di dalam kitab-kitab mu’tabar.

Syarat wajib zakat fitrah adalah: 1) Islam, 2) merdeka, 3) mempunya kelebihan harta (makanan atau harta dari yang diperlukan di hari raya dan malam hari raya), dan 4) menututi waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah (menemui sebagian dari bulan Ramadan dan sebagian dari awalnya bulan Syawal/malam hari raya).

Kadar atau ukuran zakat fitrah ulama beraneka ragam pendapat. Diantara kadar zakat yang lumrah dikeluarkan di masyarakat adalah 2,5 kg. Kadar ini sudah sesuai dengan pendapat ulama dan sudah termasuk dalam ihtiyath (kehati-hatian dalam jumlah kadar zakat fitrah dari yang minimal s/d maksimal).

Bagi seorang yang ingin mengeluarkat zakat fitrah lebih dari kadar 2.5 kg dipersilakan sesuai kemampuan materinya. Namun bagi para panitia atau amil tidak boleh mematok kadar zakat fitrah secara paksa dengan memutuskan tidak sah jika tidak sesuai dengan kadar zakat yang disepakati panitia, padahal kadar zakat yang dikeluarkan masih sesuai dengan hukum (pendapat) ulama.

Menunaikan zakat fitrah boleh juga dengan harga dari bahan zakat (beras). Dalam madzhab Syafii, yaitu Imam Faurani berpendapat, zakat fitrah boleh menggunakan uang seharga beras 2,5 kg. Harga yang dibayarkan sesuai harga pasar dan kemampuan muzakki (orang yang mengeluarkan zakat). Seseorang yang membayarkan zakat fitrahnya dengan uang, langsung saja tunaikan zakatnya dengan uang tanpa membeli beras di panitia/amil zakat. Cukup serahkan uangnya saja kepada panitia/amil.

Harga yang dibayarkan disesuaikan dengan harga pasar dan kemampuan muzakki. Misal harga beras dengan estimasi Rp. 17.000, maka zakat fitrah yang dikeluarkan sebesar Rp. 42.500. Dan panitia/amil tidak berhak membulatkan menjadi Rp. 50.000, misalnya. Karena pembulatan kadar zakat fitrah tidak dibenarkan terlebih bersifat tarif, kecuali memang kemauan muzakki.

B. Fidyah

Fidyah adalah denda yang wajib ditunaikan karena meninggalkan kewajiban atau melakukan larangan. Orang yang wajib membayar fidyah adalah: 1) orang tua renta, 2) orang sakit parah, 3) wanita hamil atau menyusui, 4) orang mati, dan 5) orang yang mengakhirkan qada puasa Ramadan.

Kadar dan jenis fidyah yang ditunaikan adalah satu mud makanan pokok untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Makanan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia adalah beras. Ukuran mud bila dikonversikan ke dalam hitungan gram adalah 6,75 ons. Hal ini berpijak pada hitungan yang masyhur. Sementara menurut hitungan Syekh Ali Jumah dalam kitab al-Makayil wa al-Mawazin al-Syar’iyyah, satu mud adalah 5,10 ons.

Pembayaran fidyah juga boleh dengan menggunakan uang seharga fidyah yang dikeluarkan. Maka fidyah yang dikeluarkan dengan kadar 6 ons x Rp 17.000 = adalah Rp. 10.200. Kadar ini sudah mengambil ukuran ihtiyath, yaitu antara 5,10 ons dan 6,75 ons.

Bagi para panitia pengumpul fidyah, tidak berhak mematok harga dengan tarif harga mati yang melebihi dari ukuran yang merupakan ketentuan ulama fikih. Misal dibulatkan dengan harga sekian, alasanya untuk melengkapi lauk pauk. Hal ini merupakan hukum yang dibuat-buat dan tidak boleh. Namun, jika seorang yang membayar fidyah memberi bayaran lebih, itu hak orang tersebut.

Rujukan Zakat Fitrah

1. Al-Quran

وَاَقِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْن

“Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43)

2. Hadis

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعاً مِنْ تَمَرٍ، أوْصَاعاً مِنْ شَعِيْرٍ، عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأمَرَ بِهَا أنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ الناَّسِ إلى الصَّلَاةِ

“Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau gandum atas seaorang muslim baik budak dan orang biasa, laki-laki dan wanita, anak-anak dan orang dewasa, beliau memberitahukan membayar zakat fitrah sebelum berangkat (ke masjid) ‘Idul Fitri.” (HR Bukhari dan Muslim)

3. Ulama

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ج ١ ص. والصاع الذي كان يستعمله رسول الله – صلى الله عليه وسلم– إنما هو عبارة عن أربعة أمداداي حفنات، وهذه الحفنات الأربع مقدرة بثلاثة ألتار كيلاً، وتساوي بالوزن (٢٤٠٠) غراماً تقريبا

“Adupun satu sha’ yang di pakai Rasulullah Saw, adalah empat mud maksud nya empat kali cakupan dua telapak tangan setara dengan tiga liter atau kira kira 2,4 kg”

التهذيب متن الغاية والتقريب ص١٠٠

صاعا من قوة بلده وقدره خمسة ارطال وثلث بالعراقى وتساوي بالحزن ٢٤٠٠ غراما تقريبا

“Adapun zakat fitrah itu satu sha’ Makanan pokok suatu daerah perkiraannya adalah 5,3 takaran bangsa Iraq perkiraan sama dengan 2,4 kg .”

ومن غرائب اختياراته من الوجوه أن الماء لا ينجس إلا بالتغيير، وإن كان راكدا دون القلتين وقد حكاه الفوراني في الإبانة قولًا عن الشافعي، وهذا يوافق مذهب مالك رحمه الله ومنها: جواز صرف زكاة الفطر إلى فقير واحد، وإخراج القيمة عنها كمذهب أبي حنيفة.

“Dan sebagian dari ikhtiar yang di anggap tidak biasa, yaitu air tidak najis kecuali karena berubah, walaupun airnya diam dan kurang dari dua qullah,dan telah meriwayatkan imam rayyani dalam kitab Al ibanah sebuah qoul dari imam as Syafi’i, yang juga sama dengan pendapat imam Malik Ra, juga diantara pendapat nya yang lain yaitu membolehkan zakat fitrah di berikan kepada satu orang fakir dan juga membolehkan zakat fitrah menggunakan uang senilai harga zakat fitrah nya, pendapat ini senada dengan pendapat imam abu Hanifah Ra”

Rujukan Fidyah

1. Al-Quran

اَيَّا مًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ كَا نَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَا مُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَ نْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 184)

2. Hadis

سنن أبي داوود ١٩٧٤:

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَزْرَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا قَالَ أَبُو دَاوُد يَعْنِي عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا

“Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Sa’id dari Qatadah, dari ‘Azrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas: Dan bagi orang yang berat menjalankanya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin (Al Baqarah: 184), ia berkata: hal tersebut merupakan keringanan bagi laki-laki tua dan wanita tua, -sementara mereka mampu melakukan puasa (dengan susah payah) agar berbuka dan memberi makan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan satu orang miskin, dan keringanan bagi orang yang hamil dan menyusui apabila merasa khawatir. Abu Daud berkata: yaitu khawatir kepada anak mereka berdua, maka mereka berbuka dan memberi makan (Membayar fidyah)”

3. Ulama

في كتاب فتح المعين بشرح قرة العين، يجب على من أفطر في رمضان لعذر لا يرجى زواله (ككبر أو مرض مزمن) إخراج مُدّ من الطعام عن كل يوم، وهو ما يعادل تقريباً 600-700 جرام من غالب قوت البلد.

“Dalam kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain, seseorang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan karena uzur (halangan) yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya (seperti usia tua atau penyakit kronis), wajib mengeluarkan satu mud makanan untuk setiap harinya. Ukuran tersebut setara dengan kurang lebih 600-700 gram dari makanan pokok daerah setempat.”

ويجوز عندهم دفع القيمة في الزكاة، والعُشْر، والخَراج، والفِطْرة، والنَّذْر، والكفارة غير الإعتاق. وتعتبر القيمة يوم الوجوب عند الإمام أبي حنيفة، وقال الصاحبان يوم الأداء. …إلى أن قال… وسبب جواز دفع القيمة: أن المقصود سد الخلَّة ودفع الحاجة، ويوجد ذلك في القيمة.

“Dan diperbolehkan menurut mereka (ulama Hanafiyyah) membayar nilai harganya (dalam bentuk uang/nominal) dalam zakat, ’usyr (zakat pertanian), kharaj (pajak tanah), zakat fitrah, nazar, dan kafarat selain pembebasan budak.”

وَلاَ يَجُوزُ إِخْرَاجُ الْقِيمَةِ عِنْدَ الْجُمْهُورِ غَيْرِ الْحَنَفِيَّةِ عَمَلاً بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ} وَقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: {فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا}

“Dan tidak diperbolehkan mengeluarkan nilai (uang) menurut mayoritas ulama (Jumhur) selain mazhab Hanafi, karena mengamalkan firman Allah Ta’ala: ‘Maka kafaratnya ialah memberi makan sepuluh orang miskin’ (QS. Al-Ma’idah: 89) dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: ‘Maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin’ (QS. Al-Mujadilah: 4).” (Al-Mausū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, XXXV/103)

Pedoman Zakat Fitrah & Fidyah_LBM PWNU Bali_2026-1447

 

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »