Oleh: Ahmad Karomi
Tahun 2017 dua tahun pasca muktamar di Jombang, PW LTN NU Jatim yang saat itu dikomandoi Gus Najib menginisiasi refleksi khittah NU ke 33. Gagasan itu kemudian dirembug dengan Prof Nur Harisuddin, KH. Muhyiddin Khotib dan Pak Hakim Jayli.
Bagi Gus Najib, refleksi khittah NU yang ke 33 ini sangat penting diadakan sebagai rujukan bersama. Mengingat pasca muktamar NU di Jombang menyisakan kegundahan tersendiri. Terlebih Lora Azaim menegaskan untuk mufaroqoh.
Gus Najib usul bagaimana LTN Jatim kerjasama dengan PP. Salafiyah Syafiiyah untuk mengadakan halaqoh ulama: refleksi khittah ke 33. Kemudian Prof Nur harisudin, KH. Muhyiddin Khotib menyetujui. Namun persoalannya, bagaimana izinnya? Sebab Lora Azaim jelas mufaroqoh.
Nah, akhirnya Prof Nur Harisuddin dan KH. Muhyiddin Khotib mencarikan solusinya agar acara halaqoh tersebut dapat digelar di PP. Salafiyah Situbondo. Beberapa hari kemudian izin turun, meskipun acaranya bertempat di Ma’had Aly Salafiyah.
Selang beberapa hari kemudian, Mbah Sururi mengabari Gus Najib bahwa Gus Yahya sedang di kantin PWNU Jatim. “Ayo, menghadap, Katib”.
Setelah bersua Gus Yahya, Gus Najib memperkenalkan diri sebagai ketua LTN Jatim dan sedang prepare mengadakan halaqoh ulama: refleksi khittab NU ke 33 di PP. Salafiyah Situbondo.
Gus Yahya bertanya:
“Apa motivasi sampean bikin acara halaqoh di PP Salafiyah Situbondo?”
Gus Najib menjawab:
“Napak tilas khittah NU yang memang lahir dari Situbondo sekaligus mengajak Lora Azaim agar mensupport kegiatan ini.”
Gus Yahya berkata:
“Angel (sulit)”.
Mungkin bagi Gus Yahya, keinginan Gus Najib untuk mengadakan acara LTNNU Jatim disitu sangat sulit dilakukan. Bahkan kategori impossible. Sebab pondok Salafiyah dikenal dengan mufaroqohnya, bahkan kegiatan² PWNU jarang digelar disitu. Iki LTN Jatim koyok nggolek perkoro.
Perkataan angel dari Gus Yahya ini bagi Gus Najib bukan berarti gak bisa, asalkan pendekatannya tepat. Beberapa kali PW LTN Jatim mengadakan kegiatan di Situbondo ternyata memberikan kesan mendalam pada Lora Azaim. Bahkan kegiatan LTN disupport beliau.
Lora Azaim pun menegaskan hanya berkenan kerjasama dengan LTNNU Jatim, tidak dengan lainnya. Puncaknya, LTNNU Jatim mengajak Lesbumi menggelar Muktamar Sastra yang dihadiri para sastrawan Indonesia.
Kini, Lora Azaim menjadi sorotan media bukan karena mufaroqoh, akan tetapi karena menapaktilasi leluhur, mengikuti jejak para muassis atas dasar kecintaan pada NU.









