Tuduhan feodalisme terhadap adab di pesantren itu sama persis dengan tuduhan klaim syirik terhadap adab yang disamakan dengan ibadah.
Ya, orang-orang wahabi menganggap sama antara adab dan ibadah, sehingga mereka mengklaim adab itu syirik. Karena mereka tidak bisa membedakan mana adab dan ibadah, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Mafahim:
التعظيم بين العبادة والادب: يخطئ كثير من الناس فى فهم حقيقة التعظيم وحقيقة العبادة فيخلطون بينهما خلطا بينا ويعتبرون ان اي نوع من انواع التعظيم هو عبادة للمعظم …..
Terjemah lengkapnya:
“Banyak orang keliru dalam memahami substansi takzim (adab) dan ibadah. Mereka mencampur kedua substansi ini dan menganggap bahwa apapun bentuk takzim berarti ibadah kepada yang ditakzimi. Berdiri, mencium tangan, takzim Nabi dengan gelar sayyidina dan maulanaa, dan berdiri di depan beliau saat berziarah dengan sopan santun; semua ini tindakan berlebihan di mata mereka yang bisa mengarah kepada penyembahan selain Allah”
Begitu juga dengan tuduhan feodalisme. Mereka menuduh adab di pesantren adalah feodalisme, karena mereka tidak bisa membedakan mana adab (sistem) pesantren dengan (sistem) feodalisme.
Kekeliruan tuduhan feodalisme dan klaim syirik adalah mereka tidak mengerti hakikat adab. Mereka mengerti tentang kulitnya saja atau sebatas pemahamannya sendiri yang kemudian menyimpulkan dengan menuduh sama kepada hal yang sama sekali tidak sama.
Pandangan yang seperti ini dalam kitab Mafahim disebut sebagai kekeliruan bahkan kebodohan dan pembodohan.
Oleh sebab itu, harus benar-benar memahami hakikat adab yang menjadi tradisi dan sistem di pesantren. Jangan hanya bermodal paham foedalisme lalu melihat tradisi pesantren dari luarnya, lantas menuduh; “wah itu feodal”.
Dalam literatur atau kajian ilmiah manapun, untuk menyamakan dua hal (kasus, peristiwa, atau sesuatu apapun), pasti wajib memahami kedua-keduanya sampai pada akarnya. Jika tidak, maka itu hanya tuduhan yang memamerkan kebodohan saja.
Wallahu a’lam…
Oleh: Muhammad









