“Kenapa sih para santri itu seperti lebih memuliakan gurunya daripada orang tuanya?”
“Kenapa lebih hormat pada kyainya daripada bosnya?”
“Kenapa segitu cintanya, segitu patuhnya, segitu sungkannya?”
“Presiden lewat aja ngga gitu. Sama artis idolanya saja, mereka teriak-teriak, histeris, bukan malah berdiri nunduk. Lah ini kenapa? Kok sampai segitunya?”
Pertanyaan itu sering sekali muncul dan biasanya, yang bertanya bukan orang yang benci pesantren, tapi orang yang belum paham bagaimana sebenarnya kehidupan di pesantren.
Mereka kira, santri itu didoktrin. Mereka kira, cinta itu lahir karena ancaman, padahal jawabannya cuma satu: ilmu.
Kalau memang para guru mendoktrin, mustahil cinta itu bisa sedalam itu. Kalau memang para kyai menakut-nakuti, tak akan ada air mata rindu setiap kali mereka pulang sebagai alumni.
Masih ingat kasus Al-Khazini kemarin? Bahkan keluarga korban pun berterima kasih pada para guru. Sementara orang luar yang tak paham justru paling lantang berteriak. Jawabannya tetap sama: karena ilmu.
Orang yang pernah punya ikatan guru dan murid dalam ilmu agama, akan paham bahwa hormat, cinta, dan sungkan itu tumbuh dengan sendirinya. Bukan disuruh, bukan dipaksa, apalagi dipertontonkan.
Saya lihat di keluarga saya sendiri.
Eyang-eyang saya, para paman, dan keluarga besar kami, hormatnya luar biasa pada mbah buyut, bahkan walaupun mbah buyut telah lama wafat. Lebih dari hormat seorang anak kepada orang tua.
Apakah mbah buyut mendoktrin? Mengancam? Tidak sama sekali. Yang membedakan hanyalah satu hal: mereka ngaji pada mbah buyut. Ada ikatan ilmu di antara mereka. Dan ikatan itu… jauh lebih kuat dari darah.
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Mengangkat dalam arti dimuliakan. Dan kemuliaan itu bukan karena jubah atau sorban, tapi karena keberkahan ilmu yang mereka bawa. Itulah sebabnya, para guru kami tak pernah menyuruh muridnya durhaka pada orang tua. Tak pernah mengajarkan untuk meremehkan siapa pun. Justru sebaliknya mereka yang paling sering mengingatkan: “Beradablah di mana pun, kepada siapa pun.” Mereka menanamkan akhlak, bukan arogansi. menanamkan adab, bukan amarah. Itulah mengapa cinta murid kepada guru terasa dalam, karena ditumbuhkan oleh ilmu yang menenangkan hati, bukan oleh ketakutan yang mengekang jiwa.
Begitulah kehidupan kami di pesantren. Kami berdiri ketika para sesepuh lewat, mencium tangan mereka tanpa diminta, menunduk, diam, penuh ta’dzim. Bukan diperbudak, bukan karena takut, tapi karena kami dididik berakhlak. Kami belajar dari cara para embah menghormati sesepuhnya. Kami meniru adab mereka. Anak-anak kecil kami pun paham: “Kalau ada embah atau yang lebih sepuh lewat, tidak banyak bicara, tidak banyak bergerak, tundukkan kepala.” Itu bukan paksaan, tapi kebiasaan yang lahir dari cinta.
Maka jangan heran, kalau para santri menunduk di depan gurunya. Itu bukan drama, itu adab. Karena keluarga dhalem sendiri pun begitu, pada kakeknya, pamannya, bahkan sesama dzurriyahnya. Bukan kultus, itu cinta.
Bukan taklid buta, tapi cahaya ilmu yang membuka mata.
Yang belum pernah tinggal di pesantren apalagi belum pernah ngaji, mungkin sulit mengerti. Yang tak pernah punya guru sejati mungkin merasa aneh, tapi bagi kami, santri dan dzurriyah pesantren, hormat pada guru itu bukan pilihan, itu warisan. Warisan akhlak, adab, warisan ilmu. Yang kami rawat bukan karena disuruh, tapi karena kami paham: tanpa guru, kami bukan siapa-siapa dan tak bisa apa-apa.
Disinilah bedanya, orang yang berilmu tak perlu disuruh beradab, karena ilmunya sendiri sudah menuntun kepada adab.
Oleh: Ning Wilda Wahab









