Adab dan Adat: Ruh yang Menyatu dalam Tradisi Pesantren

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

Pendahuluan

Dalam tradisi pesantren, adab bukan sekadar sopan santun, tetapi bagian dari fondasi keilmuan dan spiritualitas.

Santri belajar menunduk, mencium tangan, berjalan ngesot di hadapan kiaiโ€”semua itu bukan adab tanpa makna, melainkan bentuk kesadaran bahwa ilmu bukan hanya teks, tetapi nลซr (cahaya) yang memerlukan hati yang bersih untuk menampungnya.

Kritik terhadap tradisi ini kerap datang dari sudut pandang rasional modern, yang menilai simbol fisik penghormatan sebagai bentuk feodalisme, perbudakan bahkan kemusyrikan.Namun secara historis dan teologis, perilaku semacam itu memiliki akar dalam sunnah Rasulullah dan perilaku para sahabat.

Adab bukanlah dogma kultural, tetapi manifestasi dari nilai universal yang diterjemahkan ke dalam konteks lokal (โ€˜urf). Dalam kerangka hukum Islam, adab selalu berhubungan dengan adat, sebagaimana kaidah fiqhiyyah klasik:

ุงู„ุนูŽุงุฏูŽุฉู ู…ูุญูŽูƒู‘ูŽู…ูŽุฉูŒ

โ€œKebiasaan masyarakat dapat dijadikan dasar hukum.โ€

โ€” Jalฤl ad-Dฤซn as-Suyลซแนญฤซ, al-Asybฤh wa an-Naแบ“ฤสพir, hlm. 119.

Dengan demikian, adab pesantren tidak dapat dinilai tanpa memahami adat Nusantara.

Bentuknya boleh lokal, tetapi semangatnya tetap universal: menghormati ilmu dan pemiliknya.

Mari kita bahas beberapa kontroversi yang dijadikan bahan perbincangan luas.

1. Mencium Tangan Kiai: Jejak Sunnah, Bukan Syirik

Mencium tangan guru atau kiai merupakan bentuk penghormatan yang paling umum di pesantren.

Bagi sebagian kalangan modern, tindakan itu dianggap berlebihan.

Namun sumber-sumber hadis menunjukkan bahwa para sahabat sendiri pernah mencium tangan dan bahkan kaki Rasulullah:

a. Hadis Delegasi โ€˜Abd al-Qays

ุนูŽู†ู’ ุฒูุฑูŽุงุนู ุจู’ู†ู ุนูŽุงู…ูุฑูุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ูˆูŽูู’ุฏู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู’ู‚ูŽูŠู’ุณูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ:

ููŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู†ูŽุชูŽุจูŽุงุฏูŽุฑู ู…ูู†ู’ ุฑูŽูˆูŽุงุญูู„ูู†ูŽุง ููŽู†ูู‚ูŽุจู‘ูู„ู ูŠูŽุฏูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ๏ทบ ูˆูŽุฑูุฌู’ู„ูŽู‡ู.

โ€œKami segera turun dari tunggangan kami, lalu kami mencium tangan dan kaki Nabiโ€

โ€” Sunan Abฤซ Dฤwลซd, Kitฤb al-Adab, no. 5223; al-Adab al-Mufrad al-Bukhฤrฤซ, no. 975.

Dinilai แนฃaแธฅฤซแธฅ oleh Ibn แธคajar al-สฟAsqalฤnฤซ dalam Fatแธฅ al-Bฤrฤซ (11/57).

b. Hadis แนขafwฤn bin สฟAssฤl

ุนูŽู†ู’ ุตูŽูู’ูˆูŽุงู†ูŽ ุจู’ู†ู ุนูŽุณู‘ูŽุงู„ู ุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏููŠู‘ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ:

ููŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฏูŽู‡ู ูˆูŽุฑูุฌู’ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽุง: ู†ูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽูƒูŽ ู†ูŽุจููŠู‘ูŒ.

โ€œKeduanya (dua orang Yahudi) mencium tangan dan kaki Rasulullah, lalu berkata: Kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang nabi.โ€

โ€” Sunan at-Tirmiแธฤซ, no. 3144; Sunan Abฤซ Dฤwลซd, no. 3641.

At-Tirmiแธฤซ menilai hadis ini แธฅasan แนฃaแธฅฤซแธฅ.

c. Penjelasan Imam an-Nawawฤซ

ุชูŽู‚ู’ุจููŠู„ู ูŠูŽุฏู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ู ูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญู ู„ูŽุง ูŠููƒู’ุฑูŽู‡ูุŒ ุจูŽู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุงู„ุชู‘ูŽุจูŽุฑู‘ููƒู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽูˆู’ู‚ููŠุฑู.

โ€œMencium tangan seorang alim, orang tua, atau orang saleh tidaklah makruh; bahkan disunnahkan jika dilakukan untuk tabarruk dan penghormatan.โ€

Dengan demikian, mencium tangan guru termasuk taสฟแบ“ฤซm สฟurfฤซ (penghormatan sosial) bukan taสฟแบ“ฤซm สฟibฤdฤซ (ibadah penyembahan).

Perbedaan niat inilah yang menentukan hukum.

d. Konteks Adat

Bentuk penghormatan di berbagai negeri berbeda:

โ€ข Di Arab, berdiri menyambut guru merupakan kebiasaan mulia.

โ€ข Di Jawa, mencium tangan (nyungkem) menandakan kerendahan hati (andhap asor).

โ€ข Di Jepang, menunduk (ojigi) adalah salam kehormatan resmi.

โ€ข Di Barat, berjabat tangan dan menatap mata menunjukkan respek.

Islam menilai maqฤแนฃid (tujuan), bukan bentuk lahiriah; maka seluruh variasi ini sah selama tidak diniatkan sebagai ibadah.

2. Duduk Menunduk di Depan Kiai: Cermin Adab Sahabat

Sikap santri yang duduk tenang dan menunduk di hadapan kiai berakar pada perilaku para sahabat ketika menghadiri majelis Rasulullah

a. Hadis Anas bin Mฤlik

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ๏ทบ ุฅูุฐูŽุง ุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฎูŽููŽุถููˆุง ุฃูŽุตู’ูˆูŽุงุชูŽู‡ูู…ู’ุŒ ูˆูŽูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูุกููˆุณูู‡ูู…ู ุงู„ุทู‘ูŽูŠู’ุฑู.

โ€œPara sahabat Rasulullah, apabila beliau berbicara, mereka merendahkan suara mereka, dan seolah-olah di atas kepala mereka ada burung (karena sangat tenang dan khidmat).โ€

โ€” Sunan at-Tirmiแธฤซ, no. 2754; dinilai แธฅasan แนฃaแธฅฤซแธฅ.

B. Riwayat Ibn al-Qayyim

ู‚ุงู„ ุงุจู†ู ุงู„ู‚ูŠู… ููŠ ุฒุงุฏ ุงู„ู…ุนุงุฏ (ุฌ ูกุŒ ุต ูกูคูฃ):

ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุฌูŽู„ูŽุณููˆุง ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูุกููˆุณูู‡ูู…ู ุงู„ุทู‘ูŽูŠู’ุฑูุŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ููˆู†ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฅูุฐูŽุง ุจูŽุฏูŽุฃูŽู‡ูู…ู’.

Semua sumber menggambarkan majelis Nabi sebagai ruang hening penuh hormatโ€”itulah yang diwariskan pesantren dalam tradisi majlis taสฟlฤซm.

C. Adab Ilmu Menurut al-Ghazฤlฤซ

ู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู…ู ุงู„ุบุฒุงู„ูŠู‘ู ููŠ ุฅุญูŠุงุก ุนู„ูˆู… ุงู„ุฏูŠู† (ุฌ ูกุŒ ุต ูฅูข):

ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽุฃูŽุฏู‘ูŽุจู’ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ู ุญูุฑูู…ูŽ ุจูŽุฑูŽูƒูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู.

โ€œBarang siapa tidak beradab terhadap ilmu dan orang alim, niscaya ia terhalang dari keberkahan ilmu.โ€

Sikap menunduk di hadapan guru tidak bermakna perendahan diri, tetapi simbol kesiapan hati menerima kebenaran. Adab ini memiliki bentuk berbeda di berbagai budaya: di Timur berupa diam dan tunduk, di Barat berupa tatapan fokus dan respek verbalโ€”tetapi maknanya satu: penghormatan terhadap ilmu.

3. Membungkukkan Badan di Depan Kiai: Niat Menentukan Nilai

Sebagian santri berjalan agak menunduk di depan kiai sebagai bentuk sopan santun.

Namun sebagian pihak menilai tindakan itu menyerupai rukuk, sehingga dianggap tidak pantas.

Untuk memahami hukumnya, diperlukan pembedaan antara rukuk ibadah dan tunduk adat.

a. Hadis Larangan Rukuk dalam Makna Ibadah

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ:

ู‚ููŠู„ูŽ: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุฃูŽูŠูŽู†ู’ุญูŽู†ููŠ ุจูŽุนู’ุถูู†ูŽุง ู„ูุจูŽุนู’ุถูุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ู„ูุฃูŽุญูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ูƒูŽุนูŽ ู„ูุฃูŽุญูŽุฏู.

โ€œAda yang bertanya: Wahai Rasulullah, bolehkah sebagian kami membungkuk kepada yang lain (sebagai penghormatan)?

Beliau menjawab: Tidak sepantasnya seseorang rukuk kepada manusia.โ€

โ€” Sunan Ibn Mฤjah, no. 2857

Larangan ini berkaitan dengan rukuk sebagai ibadah.

Adapun menunduk ringan dalam konteks sosial tidak termasuk larangan tersebut.

b. Penjelasan Ulama

Imฤm al-Qarฤfฤซ dalam al-Furลซq (ุฌ ูกุŒ ุต ูกูงูง):

ู…ูŽุง ุชูŽุนูŽุงุฑูŽููŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูููŠ ุงู„ู’ุฅููƒู’ุฑูŽุงู…ู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽูˆู’ู‚ููŠุฑู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุตู’ุฏู ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ู„ูŽุง ูŠูู…ู’ู†ูŽุนูุŒ ุฅูุฐู ุงู„ู’ู…ูุนู’ูŠูŽุงุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู‚ูŽุงุตูุฏู ู„ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ููˆูŽุฑู.

โ€œSegala bentuk penghormatan yang telah menjadi kebiasaan manusiaโ€”selama tidak dimaksudkan sebagai ibadahโ€”tidak dilarang, karena ukuran hukum bergantung pada niat, bukan bentuk lahirnya.โ€

Imฤm al-สฟIzz ibn สฟAbd as-Salฤm dalam Qawฤสฟid al-Aแธฅkฤm (ุฌ ูกุŒ ุต ูกูจูค)

ู…ูŽุง ุฌูŽุฑูŽู‰ ุจูู‡ู ุงู„ู’ุนูุฑู’ูู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ูˆูŽุงุนู ุงู„ู’ุฅููƒู’ุฑูŽุงู…ูุŒ ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูู‚ู’ุตูŽุฏู’ ุจูู‡ู ุชูŽุนู’ุธููŠู…ูŒ ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…ูŒุŒ ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูุจูŽุงุญูŒ.

โ€œSegala bentuk penghormatan yang telah menjadi kebiasaan (โ€˜urf) โ€” selama tidak diniatkan untuk pengagungan yang diharamkan โ€” maka hukumnya boleh.โ€

c. Pandangan KH Sholeh Darat

Dalam Manฤsik al-แธคajj wa ฤ€dฤb al-Muสฟallim wal-Mutaสฟallim (cet. 1316 H, hlm. ๐Ÿ˜Ž, KH Sholeh Darat menulis dalam aksara Pegon:

ูŠุฃู† ุงู†ุง ุนุงุฏุชู†ฺ  ู†ฺฌุงุฑุง ู†ฺ ู„ูˆุฑุงูƒูƒู† ุงูˆฺ  ุชูˆูˆุง ุงูˆุชุงูˆุง ฺฌูˆุฑูˆ ู†ฺ ุงู†ฺ ูˆ ุณฺ ูƒู‘ู…ุŒ ุงูŠูƒูˆ ุงูˆุฑุง ุณู„ุงู‡ ู„ู…ูˆู† ุงูˆุฑุง ุฏูŠู†ูŠุฃุชูƒู† ุนุจุงุฏู‡ู†.

โ€œJika di suatu negeri ada kebiasaan memuliakan orang tua atau guru dengan cara sungkem, maka hal itu tidak salah selama tidak diniatkan ibadah.โ€

d. Kesimpulan

Menundukkan badan atau berjalan sedikit membungkuk di depan guru:

โ€ข Terlarang, jika diniatkan ibadah atau pengkultusan.

โ€ข Diperbolehkan, jika semata penghormatan adat yang sesuai nilai sopan dan tidak bertentangan dengan tauhid.

4. Ngalap Barokah: Antara Cinta dan Keyakinan

Tradisi ngalap barokah (bertawasul atau bertabarruk dengan orang saleh) sering disalahpahami sebagai perilaku syirik. Padahal, hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa para sahabat sendiri mengambil keberkahan (tabarruk) dari Nabi โ€” baik dari air wudhunya, rambutnya, maupun keringatnya.

Mereka melakukannya bukan karena menganggap benda itu berkuasa, tetapi karena meyakini Allah menaruh keberkahan pada hamba-Nya yang paling mulia.

a. Berebut Air Wudhu Rasulullah

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ๏ทบ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุญูŽุงู†ูŽุชู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูุŒ ููŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽุŒ ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุทู‘ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุถููˆุฆูู‡ู ููŽูŠูŽุชูŽุจูŽุฑู‘ูŽูƒููˆู†ูŽ ุจูู‡ู.

โ€œAku melihat Rasulullah ketika waktu salat tiba, beliau berwudhu, lalu orang-orang berebut air yang menetes dari wudhunya untuk bertabarruk dengannya.โ€

โ€” แนขaแธฅฤซแธฅ Muslim, Kitฤb al-แนฌahฤrah, no. 232.

Para sahabat memandang air itu sebagai wasilah untuk mendapatkan keberkahan Allah melalui Nabi-Nya.

b. Menyimpan Keringat Rasulullah

ุนูŽู†ู’ ุฃูู…ู‘ู ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ๏ทบ ูŠูุตููŠุจูู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุฑูŽู‚ู ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽูˆู’ู…ูุŒ ููŽุชูŽุฌู’ู…ูŽุนูู‡ู ูููŠ ู‚ูŽุงุฑููˆุฑูŽุฉูุŒ ูˆูŽุชูŽุฌู’ุนูŽู„ูู‡ู ูููŠ ุงู„ุทู‘ููŠุจู.

โ€œNabi sering berkeringat ketika tidur, maka Ummu Salamah mengumpulkan keringat itu ke dalam botol dan mencampurkannya dengan minyak wangi.โ€

โ€” แนขaแธฅฤซแธฅ Muslim, Kitฤb al-Faแธฤสพil, no. 2331.

Ini adalah bentuk cinta yang lembut: keringat Nabi disimpan bukan karena khurafat, melainkan karena diyakini membawa barakah.

c. Sahabat Berebut Rambut Rasulullah

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ๏ทบ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู„ู‘ูŽุงู‚ู ูŠูŽุญู’ู„ูู‚ูู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุฃูŽุจููˆ ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉูŽ ุดูŽุนูŽุฑูŽู‡ูุŒ ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูŠูŽู‚ู’ุณูู…ูู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู.

โ€œAku melihat Nabi ketika sedang dicukur rambutnya, lalu Abu แนฌalแธฅah mengambil rambut beliau dan membagikannya kepada orang-orang.โ€

โ€” แนขaแธฅฤซแธฅ al-Bukhฤrฤซ, Kitฤb al-แธคajj, no. 171.

Rasulullah tidak melarang tindakan itu. Hal ini menunjukkan bahwa tabarruk dengan peninggalan beliau adalah praktik yang diakui.

d. Pandangan Imam an-Nawawฤซ

ู‚ุงู„ูŽ ุงู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽูˆููŠู‘ู ูููŠ ุดูŽุฑู’ุญู ุตูŽุญููŠุญู ู…ูุณู’ู„ูู…ู (ุฌ ูกูฅุŒ ุต ูจูค):

ูููŠู‡ู ุงู„ุชู‘ูŽุจูŽุฑู‘ููƒู ุจูุขุซูŽุงุฑู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽุฌู’ุฒูŽุงุฆูู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูู„ูŽุงุตูู‚ูŽุฉู ู„ูŽู‡ูู…ู’ุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑูŒ ู…ูŽุนู’ู„ููˆู…ูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ููŽุถู’ู„ู.

โ€œHadis-hadis ini menunjukkan disyariatkannya bertabarruk dengan peninggalan orang-orang saleh dan bagian tubuh mereka yang bersentuhan dengan mereka; hal itu telah dikenal di kalangan Ahl al-Sunnah dan para ahli kebajikan.โ€

Dengan demikian, tabarruk tidak hanya terbatas pada Nabi, keberkahan juga dapat dicari melalui para wali dan ulama saleh yang menjadi pewaris ilmu dan akhlaknya.

e. Ibn แธคajar al-สฟAsqalฤnฤซ: Analogi dengan Para Ulama

ู‚ุงู„ ุงู„ุญุงูุธู ุงุจู†ู ุญูŽุฌูŽุฑู ูููŠ ููŽุชู’ุญู ุงู„ู’ุจูŽุงุฑููŠ (ุฌ ูกูกุŒ ุต ูฅูง):

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุชูŽุจูŽุฑู‘ูŽูƒูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ุจูุขุซูŽุงุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ๏ทบ ูููŠ ุญูŽูŠูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽุงู†ูุนูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุจูŽุฑู‘ููƒู ุจูุขุซูŽุงุฑู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู ู‚ููŠูŽุงุณู‹ุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู.

โ€œPara sahabat telah bertabarruk dengan peninggalan Nabi baik semasa hidup maupun setelah wafatnya. Tidak ada halangan untuk bertabarruk dengan peninggalan orang-orang saleh setelah beliau, dengan analogi atas perbuatan itu.โ€

f. Prinsip Tauhid dalam Tabarruk

Kaidah pokok dalam akidah Ahl al-Sunnah adalah:

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑููƒูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ู ุณูŽุจูŽุจูŒ ู„ูุจูŽุฑูŽูƒูŽุชูู‡ู.

โ€œAllah-lah sumber segala keberkahan, sedangkan makhluk hanyalah perantara keberkahan-Nya.โ€

Santri yang memohon doa kepada kiai bukan meminta kepada manusia, melainkan berharap Allah mengabulkan doa melalui hamba-Nya yang saleh โ€” sebagaimana para sahabat meminta doa Nabi:

ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงุฏู’ุนู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ููŠ.

โ€œWahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah untukku.โ€

โ€” แนขaแธฅฤซแธฅ al-Bukhฤrฤซ, no. 1007.

g. Tabarruk dalam Adat Nusantara

Tradisi Jawa mengenal ngalap barokah dengan berbagai bentuk: meminum air bekas wudhu kiai, menyimpan peci bekasnya, atau meminta doa sambil mencium tangannya. Semua itu tidak keluar dari prinsip syarโ€˜i selama diniatkan sebagai bentuk cinta dan penghormatan terhadap ilmu.

Sebagaimana ditegaskan Syekh สฟAbd Allฤh al-Ghumฤrฤซ dalam Itqฤn al-แนขunสฟah fฤซ Taแธฅqฤซq Maสฟnฤ al-Barakah (hlm. 15):

ุงู„ุชู‘ูŽุจูŽุฑู‘ููƒู ุจูุขุซูŽุงุฑู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ ุฏูŽู„ููŠู„ู ู…ูŽุญูŽุจู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงุญู’ุชูุฑูŽุงู…ูุŒ ู„ูŽุง ุฏูŽู„ููŠู„ู ุชูŽุฃู’ู„ููŠู‡ู ูˆูŽุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู.

โ€œBertabarruk dengan peninggalan orang-orang saleh adalah tanda cinta dan penghormatan, bukan tanda pengultusan atau penyembahan.โ€

5. Hadiah kepada Ulama: Antara Adab, Niat, dan Keberkahan

Tradisi memberi hadiah atau amplop kepada kiai dan ulama sering diperdebatkan. Sebagian menilai itu bentuk penghormatan, sementara sebagian lain khawatir termasuk suap (risywah).

Untuk memahami posisi syariat, kita perlu membedakan antara hadiah karena cinta dan syukur, dan hadiah yang disertai maksud duniawi.

a. Dasar Hadis: Nabi Menerima dan Membalas Hadiah

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ๏ทบ ูŠูŽู‚ู’ุจูŽู„ู ุงู„ู’ู‡ูŽุฏููŠู‘ูŽุฉูŽ ูˆูŽูŠูุซููŠุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง.

โ€œRasulullah menerima hadiah dan membalasnya (dengan hadiah pula).โ€

โ€” แนขaแธฅฤซแธฅ al-Bukhฤrฤซ, Kitฤb al-Hibah, no. 2585; แนขaแธฅฤซแธฅ Muslim, no. 1077.

Hadis ini menunjukkan bahwa menerima hadiah adalah sunnah, selama tidak menimbulkan ketergantungan dan tidak terkait dengan kewajiban jabatan.

Nabi bahkan menolak hadiah yang disertai maksud tersembunyi, sebagaimana sabdanya:

ู‡ูŽุฏูŽุงูŠูŽุง ุงู„ู’ุนูู…ู‘ูŽุงู„ู ุบูู„ููˆู„ูŒ.

โ€œHadiah yang diberikan kepada pejabat (karena jabatannya) adalah bentuk pengkhianatan (ghulul).โ€

โ€” Musnad Aแธฅmad, no. 22824; แนขaแธฅฤซแธฅ al-Bukhฤrฤซ, no. 7174.

b. Pandangan Para Ulama

Imฤm an-Nawawฤซ menegaskan dalam Sharแธฅ แนขaแธฅฤซแธฅ Muslim (Juz 11, hlm. 75):

ุชูุณู’ุชูŽุญูŽุจู‘ู ุงู„ู’ู‡ูŽุฏููŠู‘ูŽุฉู ุฅูุฐูŽุง ุฎูŽู„ูŽุชู’ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽู‚ูŽุงุตูุฏู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽูˆููŠู‘ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุชููƒู’ุฑูŽู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุงู‚ู’ุชูŽุฑูŽู†ูŽุชู’ ุจูุทูŽู„ูŽุจู ุฃูŽูˆู’ ุบูŽุฑูŽุถู.

โ€œHadiah disunnahkan bila bebas dari tujuan duniawi, dan makruh bila disertai permintaan atau maksud tertentu.โ€

Dengan demikian, memberi hadiah kepada kiai karena rasa cinta, syukur, atau ingin memuliakan ilmu hukumnya mustahabb (dianjurkan).

Namun bila disertai maksud agar diberi perhatian khusus, atau untuk memperoleh keuntungan tertentu, hukumnya makruh atau bahkan haram.

c. Pandangan al-Ghazฤlฤซ: Adab Pemberian

ู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู…ู ุงู„ุบูŽุฒูŽุงู„ููŠู‘ู ูููŠ ุฅุญูŠุงุก ุนู„ูˆู… ุงู„ุฏูŠู† (ุฌ ูขุŒ ุต ูกูฅูฉ):

ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽุฏููŠู‘ูŽุฉู ุชูŽุณููˆู‚ู ุงู„ู’ู…ูู‡ู’ุฏูŽู‰ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽุญูู„ู‘ูุŒ ููŽู‡ููŠูŽ ุฑูุดู’ูˆูŽุฉูŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุณูู…ู‘ููŠูŽุชู’ ู‡ูŽุฏููŠู‘ูŽุฉู‹.

โ€œApabila hadiah menyebabkan penerima melakukan hal yang tidak halal, maka hakikatnya itu adalah suap, meskipun dinamai hadiah.โ€

Namun beliau juga menulis di tempat lain (Iแธฅyฤสพ, Juz 3, hlm. 258):

ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูู‡ู’ุฏููŠูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ู ู…ูู…ู‘ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽูููŠุฏู ู…ูู†ู’ ุนูู„ู’ู…ูู‡ู ุชูŽุจูŽุฑู‘ููƒู‹ุง ุจูู‡ูุŒ ููŽู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูู‡ูุŒ ุจูŽู„ู’ ู‡ููˆูŽ ู…ูŽุฃู’ุฌููˆุฑูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู.

โ€œJika hadiah diberikan kepada seorang alim oleh orang yang mengambil manfaat dari ilmunya sebagai tabarruk, maka tidak mengapa, bahkan mendapat pahala.โ€

d. Praktik Para Sahabat dan Tabiโ€˜in

Abลซ Bakr menerima hadiah dari umat Islam berupa pakaian dan makanan, tanpa dianggap risywah, karena beliau tidak sedang memutuskan perkara bagi mereka. Bunda Siti สฟฤ€สพisyah r.a. juga menerima hadiah dari kaum wanita Madinah yang mencintai beliau. Para tabiโ€˜in seperti al-แธคasan al-Baแนฃrฤซ sering menerima hadiah dari muridnya, tetapi menolak bila disertai permintaan tertentu.

e. Ulama Nusantara dan Konteks Sosial

KH Hasyim Asyโ€˜ari dalam Adab al-สฟฤ€lim wa al-Mutaสฟallim (Bab 5, hlm. 42) menulis:

ูˆูŠูุณุชุญุจู‘ู ู„ู„ุทุงู„ุจู ุฃู† ูŠููƒุฑู…ูŽ ุดูŠุฎูŽู‡ู ุจู‡ุฏูŠู‘ูŽุฉู ุฅู†ู’ ูƒุงู† ุฐู„ูƒ ุฎุงู„ุตู‹ุง ู„ู„ู‡ุŒ ู„ุง ู„ุดูŠุกู ู…ู† ุงู„ุฏู†ูŠุง.

โ€œDisunnahkan bagi murid untuk memuliakan gurunya dengan hadiah, jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan untuk tujuan duniawi.โ€

Dalam tradisi pesantren, amplop atau bingkisan yang diberikan santri kepada kiai bukanlah โ€œpembayaran jasaโ€, melainkan simbol mahabbah (kasih sayang) dan syukr al-niโ€˜mah (rasa syukur atas ilmu).

Pemberian itu pun biasanya dilakukan setelah majelis atau di luar konteks akad formal agar tetap menjaga kehormatan kedua belah pihak.

g. Pandangan Fiqh

Kaidah fiqh yang relevan:

ุงู„ู’ู‡ูŽุฏููŠู‘ูŽุฉู ุชูŽุชูŽุจูŽุนู ุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉูŽุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุฎูŽู„ูŽุตูŽุชู’ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุทูŽุงุนูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฎูŽู„ูŽุทูŽุชู’ ุจูุบูŽุฑูŽุถู ููŽู‡ููŠูŽ ุฑูุดู’ูˆูŽุฉูŒ.

โ€œHukum hadiah tergantung niatnya; bila ikhlas karena Allah maka menjadi ibadah, bila bercampur tujuan dunia maka menjadi suap.โ€

Oleh karena itu: Memberi amplop kepada kiai karena cinta, rasa terima kasih, dan ingin ngalap barokah adalah perbuatan mulia. Namun bila dilakukan untuk โ€œmembeli perhatianโ€, โ€œmeminta fatwa yang menguntungkanโ€, atau โ€œmengamankan posisiโ€, maka berubah menjadi risywah yang terlarang.

h. Adab Santri dan Kehormatan Guru

Para santri pesantren memahami bahwa keberkahan ilmu tidak dibeli dengan amplop, tetapi diperoleh melalui ketulusan.

Amplop hanyalah simbol kasih; barakahnya lahir dari doa guru dan kerendahan hati murid.

6. Adab dan Adat: Ketika Nilai yang Sama Berwujud Berbeda

Dalam fikih sosial, adab selalu terkait dengan โ€˜urf (kebiasaan). Bentuk lahirnya bisa berubah sesuai konteks budaya, tetapi nilai dasarnya โ€” menghormati yang lebih tua, guru, atau pemimpin โ€” tetap sama.

a. Kaidah Fiqhiyyah

ุงู„ุฃูŽุฏูŽุจู ูŠูŽุชู’ุจูŽุนู ุงู„ุนูุฑู’ููŽ ูˆูŽุงู„ุนูŽุงุฏูŽุฉูŽุŒ ููŽูƒูู„ู‘ู ู…ูŽุง ุนูŽุฏู‘ูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฃูŽุฏูŽุจู‹ุง ููŽู‡ููˆูŽ ุงู„ุฃูŽุฏูŽุจู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฎูŽุงู„ููู’ ู†ูŽุตู‘ู‹ุง.

โ€œAdab mengikuti kebiasaan (โ€˜urf) dan tradisi. Apa pun yang dianggap sopan oleh masyarakat, itulah adab, selama tidak bertentangan dengan nash syarโ€˜i.โ€

โ€” al-Furลซq, al-Qarฤfฤซ, Juz 1, hlm. 182.

Oleh karena itu, bentuk penghormatan berbeda di setiap tempat, tetapi semuanya sah selama tidak mengandung unsur ibadah.

b. Prinsip al-สฟฤ€dah Muแธฅakkamah

ุงู„ุนูŽุงุฏูŽุฉู ู…ูุญูŽูƒู‘ูŽู…ูŽุฉูŒ

โ€œAdat kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum.โ€

โ€” As-Suyลซแนญฤซ, al-Asybฤh wa an-Naแบ“ฤสพir, hlm. 119.

Dengan prinsip ini, bentuk adab yang dipraktikkan di satu tempat bisa berbeda dengan tempat lain, tergantung makna sosialnya.

Yang dinilai oleh syariat bukan gerakannya, tetapi niat dan nilai yang dikandungnya.

c. Perbandingan Budaya

โ€ข Di pesantren, menatap mata kiai dianggap kurang sopan.

โ€ข Di ruang akademik Barat, tidak menatap dosen justru dianggap tidak percaya diri.

โ€ข Di Madura, berjalan jongkok di hadapan orang tua adalah tanda sopan.

โ€ข Di Australia, menunduk terlalu dalam saat berbicara dianggap tidak profesional.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa adab harus dibaca dalam bingkai adat agar tidak disalahpahami. Ini bukan benar atau salah, ini masalah kelayakan dan kepantasan sesuai konteks setempat.

7. Penutup: Adab sebagai Nafas Peradaban

Adab adalah cermin jiwa dan fondasi peradaban Islam.

Tanpa adab, ilmu menjadi kering; tanpa adat, adab kehilangan bahasa sosialnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุจูุนูุซู’ุชู ู„ูุฃูุชูŽู…ู‘ูู…ูŽ ู…ูŽูƒูŽุงุฑูู…ูŽ ุงู„ุฃูŽุฎู’ู„ูŽุงู‚ู.

โ€œSesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.โ€

โ€” Musnad Aแธฅmad, no. 8952,

Pesantren adalah warisan luhur yang menjembatani wahyu dan budaya. Ia menafsirkan adab Rasulullah dalam bahasa tanah air โ€” dengan lembut, halus, dan penuh makna.

Santri menunduk bukan karena inferioritas, tetapi karena memahami: di hadapan ilmu, yang tinggi hanyalah kerendahan hati.

Doa Penutup

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ู‘ูู…ู’ู†ูŽุง ุงู„ุฃูŽุฏูŽุจูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ุนูŽู„ู‘ูŽู…ู’ุชูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉูŽ ู…ูŽุนูŽ ู†ูŽุจููŠู‘ููƒูŽุŒ

ูˆูŽุงุฒู’ุฑูŽุนู’ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู†ูŽุง ุชูŽูˆูŽุงุถูุนู‹ุง ูƒูŽุชูŽูˆูŽุงุถูุนู ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุฆููƒูŽุŒ

ูˆูŽุงุฌู’ุนูŽู„ู’ ุนูู„ู’ู…ูŽู†ูŽุง ู†ููˆุฑู‹ุง ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ู‡ู ุญูุฌู‘ูŽุฉู‹ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง.

โ€œYa Allah, ajarilah kami adab sebagaimana Engkau ajarkan kepada para sahabat bersama Nabimu.

Tanamkan dalam hati kami kerendahan seperti kerendahan para kekasih-Mu.

Jadikan ilmu kami cahaya dan rahmat, dan jangan Engkau jadikan ia hujjah yang membinasakan kami.โ€

Tabik,

 

Nadirsyah Hosen

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »