Oleh : DR. KH. Muhyiddin Khotib
Ketua Tanfidziyah PCNU Situbondo
4 Januari 2025 awal melangkah bermula dari Demangan Bangkalan berakhir di Tebuireng Jombang. Bagaiamna ceritanya?
Tahun 1922 Banyak kalangan Ulama Pesantren galau dan kebingungan karena Islam Aswaja di Nusantara kena virus aliran Islam Modern yang cendrung ogah terhadap Islam warisan walisongo yg lazim disebut Islam Aswaja, ada gerakan anti mazhab, anti tabarruk, anti tradisi, anti tahlil, anti maulid dan anti-anti yang lain.
Di tengah terjadinya kebingungan itu ada seikitar 66 orang ulama jawa dan luar jawa menghadap syaikhuna KH. Moh. Kholil bin Abd. Lathif Al Bangkalny. Atas kegalauan itu syaikhuna memberikan jawaban dengan membacakan ayat al Qur’an surat al Taubah 32 :
يُرِيدُونَ أَن يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Mereka (yang mengklaim kelompok modernis itu) bermaksud meredupkan cahaya Allah ( Islam Aswaja indonesia) dengan silat lidahnya yang sangat lihai, tapi Allah tidak berkenan dengan gerakan mereka bahkan sebaliknya Allah akan menyempurnakan cahayaNya itu.
Syaikhuna menjawab kegalauan para kiai itu dengan jitu dan memuaskan mereka, mareka 66 ulama tsb fahama bahwa sesuatu yang menggalaukan tersebut tidak akan berhasil bahkan Islam ASWAJA akan tambah kuat. Waktu terus berjalan pada awal tahun1924 terjadi lagi sesuatu yang sangat heroik, dimana syikhuna memanggil santrinya Kiai As’ad muda (usia 27 tahunan) untuk mengantarkan tongkat ke Kh. Moh. Hasyim Asy’ari dengan membacakan surat thaha ayat 17-21.
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ (18) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ (21)
Kiai Hasyim menerimanya dengan spontan dawuh “Jadi saya akan mendirikan jam’iyyah Ulama ini tongkat nabi musa dikasikan ke saya oleh kiai Kholil”
Dalam ayat ini terdapat tongkat yang dijadikan media mu’jizat yang fungsinya bermacam-macam yang diberikan ke Nabi Musa AS dalam rangkan melawan kedhaliman Fir’aun. Tongkat ini akhirnya menjadi resolusi jihad peran kemerdekaan, menumpas gerakan komunisme dan beberapa peristiwa penting lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kemudian pada akhir tahun 1924 Kiai As’ad muda dipanggil lagi oleh sang mahaguru, kali ini diberi tugas mengantarkan TASBIH ke Kiai Hasyim Asy’ari lagi dengan wiridan YA JABBAR YA QAHHAR sambil memutar taabih yg dipegangnya. Jika tongkat sebagai simbul kekuatan dalam satu gerakan, maka tasbih sebagai simbol taqarrub kepada Allah yg biasa dipakai para pengamal thariqoh. Sesampainya di Tebuireng bersamaan dengan diterimanya tasbih tersebut hadlarotus syekh dawuh ” siapa yg macam (lanyala) ke jam’iyyatul ulama hancur”.
Tahun 1925 tepatnya bulan ramadlan akhir tgl 29, syaikhuna wafat maka terjadilah goncangan di dunia pesantren karena wafatnya sang mahaguru. Tidak lama kemudian tepat tgl 31 Januari 1926 berdirilah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’.
—————-
Analisis singkat :
Apa hubungan ayat 32 attaubah tersebut dengan NU? Syaikhuna memberi jaminan bahwa Aswaja akan tetap eksis di negeri ini dan bahkan akan lebih sempurna.
Apa hubungan dengan ayat berikutnya dan wiridan Ya Jabbar Ya Qahhar? Syaikhunan telah mengimplemintasikan bahwa agar Islam Aswaja kuat dan menjadi pilar kekuatan bangsa maka harus dibentuk oeganisasi yg kemudian lahir NU, sebagai wadah dan perwujudan dari ان يتم نوره (penyempurna dan penopang Islam Aswaja، dan secara spritual NU harus dijadikan thariqoh, dalam hal ini sering diucapkan oleh mahaguru sya Kiai As’ad طريقتى النهضة ( tharoqatku adalah nahdlatul ulama), pada th 1983 ada buku kecil beredar yg disusun oleh syekh Ali Hasan al dari assumatra berjudul الطريقة النهضية.
Kenapa harus diantar ke Santrinya KH. Moh. Hasyim Asy’ari? Syaikhuna sdh memahami bahwa ada upaya KH. Abd.wahhab Hasbullah untuk membuat wadah organisasi yg butuh legitimasi dari KH. Hasyim Asu’ari, juga atas ketajaman ainul bashirohnya syaikhuna memandang Kiai Hasyimlah yang mampu mengemban amanah ini. Perlu dicatat bahwa KH. Abd. Wahhab Hasbullah adalah juga tercatat sebagai santri Syaikhuna, beliau sebagai seorang tokoh yg malang melintang untuk mempertahankan Aswaja ini dan juga gerakan moral dan pemikiran untuk meraih kemerdekaan.
Kenapa syaikhuna harus melakukan tersebut?
Kemungkinan besar karena ilhm dan isyaroh ilahiyyah, akan tetapi secara sosial akan legitimid karena akan didukung oleh beberapa santri syaikhuna yang sudah menjadi ulama besar seperti KH. Syamsul Arifin Sukorejo Situbondo, KH. Hasan sepp Genggong, KH. Abd. Manab Lirboyo, KH. Tamim Paterongan, KH. Kholil Sidogiri dan beberapa kiai besar lainnya yg sanad ilmunya langsung nyambung dg syaikhuna. Ini telah menjadi realitas sejarah bahwa para kyai tersebut mendukung penuh terhadap berdirinya jam’iyyah NU ini, minimal beliau mengamininya.
Kenapa beliau menyuruh santrinya kiai As’ad muda ( lora As’ad )? Pada saat tongkat ini sempat menjadi ular (partai politi) dan sudah selesai tugasnya maka tongkat ini harus kembali pada fungsi semula dan ini akan tepat apabila ditopamg oleh kharisma Kiai As’ad. Inilah mungkin yg dibilang Kiai Achmad Siddiq Kiai As’ad sangat besar jasanya dalam mengembalikan keutuhan Jam’iyyah NU yg dalam muktamar 1984 beliau Kiai As’ad memegang kata kunci SUKSES MUNAS 1983 dan Muktamar ke 27 1984. Dan ata peran ini juga beliau Kiai As’ad mendapatkan gelar pahlawan.
Dari kisah singkat ini kita semua faham bahwa NU adapah organisasi yg sakral karena didirikan oleh para Auliyaullah yg merujuk pada dua hal yaitu pertimbangan rasuonal dan suprabrasional. Wallahi A’lam…









