Tuesday 03rd August 2021,

Gus Dur dan Leluconnya, Sebuah Keseimbangan

Gus Dur dan Leluconnya, Sebuah Keseimbangan
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Berbagai kisah yang bertumpuk di balik sosok Presiden RI ke-4 ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Meskipun berulang kali diceritakan pada setiap kesempatan, tetap saja tak membuat orang bosan untuk mendengarkannya.

Banyak kejadian yang tak mampu dinalar oleh pemikiran umum tentang cucu pendiri NU ini sulit dibantah sebagai fakta. Disebabkan selalu disaksikan oleh banyak orang. Uniknya seringkali hal ini muncul dengan dikemas dalam sebuah guyonan ringan penuh makna khas kiai-kiai kampung yang membuat suasana selalu cair dimanapun Gus Dur berada.

Keunikan gaya tutur Gus Dur ini sangat universal dan mampu diterima oleh semua kalangan, baik para sahabat dan teman-temannya, atau bahkan sebagian orang yang berseberangan dengannya termasuk lawan-lawan politik saat dia berada di puncak kekuasaan. Tak peduli apakah di Indonesia sendiri atau saat melakukan lawatan manca negara, Gus Dur selalu melontarkan joke yang membuat setiap lawan bicaranya terpingkal dan gagal fokus. Dapat dikatakan dalam menjalankan perannya sebagai negarawan, Gus Dur kerap melakukan strategi humoris dalam setiap langkah diplomasi.

Ungkapannya “Gitu Aja Kok Repot” yang sampai sekarang jadi suatu ungkapan umum masyarakat di Indonesia menunjukkan kepada kita bagaimana sikap Gus Dur menghadapi persoalan duniawi. Baginya urusan dunia bukanlah segalanya, apalagi jika hingga harus menjurus kepada kekerasan dan pertumpahan darah, hal yang paling dibencinya. Kalimat sederhana tersebut mendobrak pola pikir masyarakat saat itu yang terombang-ambing oleh urusan politik dan ekonomi di awal era reformasi. Mereka seperti tersadar bahwa sikap mereka dalam menanggapi kondisi saat itu malah membuat permasalahan bangsa semakin rumit dan jauh dari kata selesai.

Namun tidak semuanya mampu menerjemahkan makna yang tersirat dari guyonan ala kiai NU dari Gus Dur ini. Kegemarannya menertawakan diri sendiri tidak serta merta menurunkan kharisma ulama pada dirinya, bahkan menumbuhkan lebih banyak respek. Bagi sebagian orang yang mengerti, guyonan Gus Dur menjadi pelajaran penting yang didapat dengan cara yang mudah dan menyenangkan, serta membekas dan membuat mereka sulit melupakan sosoknya.

Gus Dur memang sangat lihai memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Jika tingkat kemanusiaan yang tinggi ialah ketika seseorang mengenal dirinya sendiri, maka tingkat kelucuan tertinggi ialah ketika seseorang mampu menertawakan dirinya sendiri.

Khusus dalam soal menertawakan diri sendiri, Gus Dur tulis dalam Kata Pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (1986): “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Tidak sedikit kelakar lain dari Gus Dur yang mengandung unsur penertawaan diri sekaligus memberikan penyadaran bagi realitas sosial untuk menjadi sebuah pantulan atau refleksi kehidupan. Seperti yang pernah dikatakan Franz Magnis-Suseno bahwa Gus Dur memiliki kelapangan psikologis, bahkan teologis.

Setelah menjadi Presiden RI pada 1999, Gus Dur berpidato di depan para tamu negara asing. Dalam kegiatan yang berlangsung di Denpasar, Bali ini, Gus Dur berpidato menggunakan bahasa Inggris tanpa teks. Di awal pidato, Kiai ini berujar, “Saya dan Megawati adalah pasangan presiden dan wakil presiden yang lengkap. Saya tidak bisa melihat, dia tidak bisa ngomong.”

Tamu-tamu yang hadir seketika dibuat tertawa tanpa terkecuali. Gus Dur bersikap biasa saja tanpa ekspresi melihat orang tertawa terbahak-bahak. Waktu itu banyak omongan soal wakil presiden yang irit bicara. Megawati Soekarnoputri jarang sekali memberi komentar soal apapun. Namun, di tengah humor segar dan cerdasnya, Gus Dur tetap memberikan banyak pelajaran kehidupan yang sarat hikmah.

Mungkin bagi Gus Dur, dunia tidak hanya sekedar panggung sandiwara, tetapi juga panggung Srimulat yang senantiasa menghibur dan membuatnya selalu tertawa sepanjang hidupnya.

Al Fatihah…

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi

 

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »