Friday 27th November 2020,

Enggan Menikah Karena Masalah Ekonomi, Ini Jawaban Kiyai Qusyai

Enggan Menikah Karena Masalah Ekonomi, Ini Jawaban Kiyai Qusyai
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Persoalan ekonomi menjadi hal penting dan tidak bisa diremehkan. Bagi sebagian keluarga bisa rusak gara-gara urusan ekonomi, bisa bahagia juga sebab ekonomi. Termasuk banyak pemuda-pemudi hari ini, enggan menikah dengan alasan ekonomi.

Biasanya beralasan, khawatir ketika menikah kebutuhan saat menikah tidak mencukupi. Sehingga menunnda menikah gara-gara ekonomi.

Lantas, bagaimanakah Islam menjawab persoalan diatas?

Menurut Kiyai Imam Qusyairi Syam, Pengasuh Pondok Pesantren Minhajul Ihtida, Situbondo, alasan enggan menikah karena khawatir tidak mencukupi ketika berkeluarga kurang tepat, sebab rezeki urusan Allah.

Beliau berdalil, “Tuhan berani berbuat, berarti bertanggung jawab,” jelas Kiyai Qusyai saat diwawancarai oleh Imam Wahyudi dari LTN NU Badung di kediaman Ketua Syuriyah PCNU Badung, Bali, Sabtu, (23/11).

Kiyai Qusyai mencontohkan pada hewan. Menurutnya, burung dan ikan tidak memiliki pasar dan sekolah, tapi bisa hidup. “Masa kita kalah sama burung dan ikan,” tanyanya.

Soal Rezeki kata Kiyai Qusyai, asalkan manusia mau bergerak. Beliau mencontohkan hewan lagi, “lihatlah burung, dia berusaha berangkat pagi dengan perut kosong lalu pulang sore sudah kenyang,” contohnya

Jadi menurut Kiyai Qusyai, alasan enggan menikah karena faktor takut kefakiran biyaya tidak dibenarkan oleh Islam. Sebab hal terpenting persiapan menikah adalah berdikari. Berdikari yang dimaksud bukan soal ekonomi, sebab ekonomi menurut Kiyai Qusyai asal mau bergerak. Berdikari yang dimaksud adalah berdiri diatas kaki sendiri dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

“Seperti melakukan shalat tanpa diperintah orang lain. Kalau masih shalat harus diperintah orang tuanya atau orang lain, berarti belum bisa dikatakan berdikari,” jelasnya.

Selain itu, yang paling penting persiapan menikah adalah kesiapan jiwa. Yakni sudah mengenal tuhan dan rasulnya. Jadi bukan soal ukuran ekonomi ataupun umur. “Tapi mengenal Allah dan Rasulnya,” tegasnya.

Penulis: Sabri Yanto
Foto: Wandi Abdullah
Editor: Dadie W. Prasetyoadi

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »