Monday 20th September 2021,

Ejaan Renungan Seorang Santri yang Merasa Diabaikan

Ejaan Renungan Seorang Santri yang Merasa Diabaikan
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Tepat malam Jum’at, Kyai mengumpulkan seluruh santri dalam rangka memberi nasihat atau motivasi. Setelah Kyai memberi berbagai nasihat dan motivasi pada santri, Kyai menyampaikan bahwa shalat tahajjud wajib bagi semua santri. Salim yang berada tepat di depan Kyai, dalam hatinya sudah mulai berbisik, “Wah, mungkin Kyai mewajibkan shalat tahajjud karena termotivasi dari saya.” Hati Salim sudah merasa membanggakan dirinya.

Lalu Kyai menyampaikan alasan kenapa ingin mewajibakan shalat tahajjud bagi semua santri. Salah satu alasan yang disebutkan Kyai adalah beliau ingin para santri istiqamah shalat tahajjud, agar para santri memiliki tambahan rutinitas ibadah sunnah yang paling dianjurkan, yaitu shalat tahajjud. Hati Salim tambah bersemangat berbisik lagi, “Semoga Kyai menyebut saya sebagai santri yang sudah lama istiqamah shalat tahajjud”. Tapi ternyata, Kyai sama sekali tidak menyebut nama Salim ketika itu.

Salim bertanya-tanya dalam benaknya. Dia sangat kepikiran karena Kyai tidak menyebut namanya. Padahal hati salim sudah mantap dan yakin Kyai akan menyebut namanya ketika Kyai akan mencontohkan siapa santri yang baik dan patut diteladani. Karena tidak ada santri yang istiqamah shalat tahajjud kecuali Salim. Tapi kenapa Kyai tidak menyebut nama Salim ketika Kyai bercerita seorang santri yang layak diikuti dalam ibadah tahajjud. Padahal setiap malam Salim shalat tahajjud selalu ketemu Kyai ketika kyai ngontrol santri di tengah malam. Hanya salim yang menunaikan shalat tahajjud. Santri yang lain tidur ngorok semuanya.

Di akhir tahun, biasanya pesantren mengadakan pemberian hadiah kepada para santri yang mendapatkan prestasi baca kitab. Salim sebagai santri tidak hanya rajin dalam ibadah, dia juga pintar membaca kitab. Bisa dikatakan dia sudah ‘alim. Itu terbukti, ketika Kyai mengajar kitab, pasti Salim yang disuruh  baca kitab sebelum Kyai menjelaskan. Sementara santri yang lain ketika baca kitab, banyak kelirunya.

Lagi-lagi, hati Salim mantap dan yakin dirinya yang akan meraih sebagai santri berprestasi tahun ini. Sebelum pengumuman tentang tentang para santri yang meraih prestasi baca kitab, Salim sudah memasang wajah antusias dan sangat semangat. Salim sudah mulai gemeteran, dadanya berdetak kuat. Hatinya lagi-lagi berbisik, “Pasti saya yang meraih prestasi tahun ini.”

Ternyata dan ternyata, pengumuman para santri yang meraih prestasi baca kitab sudah dipanggil semuanya dan mereka sudah berdiri di depan siap-siap menerima penghargaan dari Kyai. Nama Salim sama sekali tidak disebut alias dipanggil ke depan. Salim hanya bisa duduk tersungkur menerima kekecewaan yang dalam di posisi depan pentas.

Kekecewaan Salim saat ini sepertinya membuat dirinya akan patah semangat. Dia merasa dirinya tak dihargai sebagai orang yang telah berusaha menjadi santri yang rajin belajar dan istiqamah ibadah. Dia merasa seharusnya dia yang disebut sebagai contoh ahli tahajjud. Dia juga merasa, dia yang pantas dipanggil dan berdiri di atas pentas sebagai peraih prestasi baca kitab. Salim benar-benar merasa kekecewaan yang dalam. Putus asa.

Tapi, Salim kembali bangkit dari kekecewaannya. Pada suatu tengah malam, Salim meratapi kekecewaannya di atas sajadahnya. Setelah dia menunaikan shalat tahajjud, Salim berusaha membuang semua kekecewaan bahkan keputus asaannya dengan berprasangka baik pada sikap Kyai selama ini. Akhinya Salim berprasangka, “Mungkin Kyai tidak menyebut saya sebagai contoh ketika mewajibkan para santri agar istiqamah shalat tahajjud, karena menjaga keikhlasan ibadah tahajjud saya. Khawatir, ketika saya disebutkan ketika itu, saya akan menjadi sombong dan merasa yang paling ahli ibadah. Begitu juga kenapa saya tidak dinobatkan sebagai peraih prestasi baca kitab ketika itu, mungkin karena Kyai tahu bahwa semangat saya bisa bergantung pada apresiasi orang lain.”

Setelah Salim meratapi kekecewaannya dan akhirnya bisa dibuang dengan usaha menghadirkan prasangka baiknya di malam itu, Salim langsung sadar dan akan minta maaf pada Kyai karena selama ini sudah berprasangka buruk pada Kyainya. Ketika Salim hendak berdiri dari duduknya di malam itu, tiba-tiba dari arah belakang ada tangan menepuk lembut ke bahunya Salim dengan iringan ucapan, “Salim, saya selalu memaafkan kesalahan para santri. Bahkan kesalahan yang akan dilakukan hari esok, malam ini sudah saya maafkan.” Salim diam gemeteran ketakutan dan hanya bisa berkata, “Enggih Kyai”. Ternyata Salim sudah tahu tangan yang menepuk lembut bahunya dan suara itu adalah Kyai.

Ada hal yang harus kita sadari

Dalam cerita di atas, yang tersurat Kyai tidak menanggapi atau menyikapi apa yang terjadi pada Salim. Namun sebenarnya secara tersirat Kyai menanggapi atau menyikapi dengan diam. Diamnya Kyai dalam cerita di atas memiliki makna yang kemudian dipahami oleh Salim dalam ejaan renungannya.

Benar apa yang dipahami Salim dalam ejaan renungannya. Seorang Kyai diam atas apa yang terjadi pada santrinya seperti Salim itu, karena mungkin jika Kyai memuji Salim, menyebut-nyebut Salim sebagai contoh baik dan menobatkan Salim sebagai santri yang berprestasi, Salim akan terbuai dan menjadi sombong dan akhirnya semangat Salim bergantung pada pujian orang lain. Sehingga, Kyai diam saja meski hati Salim bergojalak dengan kekecewaannya.

Oleh sebab itu, jika kita sebagai santri yang rajin mengaji, ibadah dan mengabdi, lalu Kyai kita seolah tak memperdulikannya, maka kita harus tetap berprasangka baik. Karena mungkin sifat kita masih seperti Salim yang akan terbuai akan pujian.

Diamnya seorang Kyai juga, mungkin Kyai sudah tahu, santri yang rajin ibadah, mengaji dan mengabdi seolah tidak diperhatikan, karena Kyai tahu bahwa santri tersebut tidak butuh dipuji atau diapresiasi. Karena dirinya melakukan semua aktifitas, baik belajar, mengaji dan beribadah semata untuk mengabdi dan mencari rido Allah. Sehingga, meski dia tidak dipuji dan seterusnya, tidak akan berpengaruh apa-apa pada dirinya.

Agar kita tidak sampai terjebak pada kasus seperti Salim, dalam setiap usaha baik belajar, ibadah dan mengabdi tidak berharap pujian siapapun. Kekecewaan yang dialami Salim karena dia berharap pujian dari setiap apa yang dia lakukan. Ingat! Kekecewaan terjadi disebabkan karena kita terlalu berharap atau bergantung pada orang lain. Kekecewaan rawan membuat banyak orang yang sangat larut menjadi putus asa.

Merasa diabaikan karena berharap sesuai keinginan

Siapa saja yang terlalu menaruh harapan pasti merasakan kekecewaan. Karena ketika kita menaruh harapan kepada orang lain, lalu orang tersebut tidak memperdulikan apa yang kita usahakan, pasti hati kita kecewa. Padahal, tidak semua yang menurut kita merasa diabaikan, mereka mengabaikan kita. Tidak semua orang yang dirasa cuek, mereka cuek.

Kadang, orang yang menurut perasaan kita seolah dia tak peduli, ternyata diam-diam dia memperhatikan kita. Kadang juga, orang yang menurut kita tak mau tahu masalah yang terjadi pada kita, ternyata diam-diam dia menolong masalah kita. Makanya, tidak sedikit orang menjadi malu setelah dia tahu masalah yang sulit dia selesaikan tiba-tiba selesai dengan baik ternyata karena dibantu oleh orang yang menurut dia tak mau tahu.

Bahkan, orang yang menurut kita membiarkan kita jatuh, tidak selamanya bertujuan buruk atau mengabaikan kondisi kita yang buruk. Mungkin karena mereka tahu bahwa kita pasti menjadi orang yang hebat dengan cara begitu. Atau, ada orang malah menjelek-jelekkan kita yang ternyata tujuannya demi kebaikan kita. Hanya saja kita tak mengerti.

Begitu juga, kadang Tuhan membiarkan kita sakit dan hina, karena Tuhan tahu bahwa kita tetap kuat dan sanggup bangkit. Hanya saja, kita yang kadang cengeng dengan konidisi yang menurut kita buruk.

Kita harus menjaga prasangka kita agar selalu baik. Untuk menjaganya, kita jangan memaksa semua yang terjadi harus sesuai keinginan kita dan jangan gampang menyalahkan orang lain. (Gus Tama)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »