Tuesday 01st December 2020,

Zhuge Liang; Surat Untuk Anakku

Zhuge Liang; Surat Untuk Anakku
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Kris Tan

Zhuge Liang (諸葛亮, 181-234 C.E) adalah perdana menteri negara bagian Shu (蜀) dalam periode Tiga Negara (220-280 C.E) dari Tiongkok. Karena prestasinya yang luar biasa dalam bidang politik, keterampilan militer, teknologi, manajemen sosial, filsafat dan sastra, Zhuge Liang diteladani oleh generasi Confucian selanjutnya.

“Surat Nasehat untuk Anakku” ini disusun pada usia tua Zhuge Liang. Melalui kata-kata yang sederhana namun mendalam, Zhuge Liang menekankan pentingnya menjalani kehidupan yang sederhana untuk kultivasi diri sendiri agar menjadi seorang budiman yang terpelajar dan berbakat.

Ia juga memperingatkan anaknya untuk memulai proses ini sedini mungkin untuk berjaga-jaga di hari tua nanti. Sebab pada saat tua nanti tidak akan mungkin kita untuk melakukannya.

Melalui surat ini, kita bisa melihat bahwa penekanan tradisi Confucian pada “kesederhanaan” kehidupan seseorang adalah semua tentang “fokus,”: berfokus pada hal yang benar, belajar dan melakukannya terus-menerus, dan kemudian, Anda akan menjadi ahli dalam hal itu.

Dalam tradisi Confucian jaman dinasti Song dan Ming, metode kultivasi (membina) diri ini yang mendorong seseorang untuk terus fokus dan penuh perhatian terhadap apa yang benar dan layak dijalani dengan baik oleh satu karakter huruf yaitu “敬” – “respect, hormat.”

Zhuge Liang adalah penduduk asli Langya yang hidup selama periode Tiga Kerajaan. Dia adalah negarawan dan ahli strategi terkenal. Posisi tertinggi adalah perdana menteri. Dia menulis Surat untuk anaknya yang bernama Zhuge Qiao.

Surat untuk Anakku:

Perilaku mereka yang mampu dan penuh dengan integritas tergantung pada perasaan terdalam mereka dan termasuk memiliki kedamaian pikiran dan mampu memusatkan dan menyeimbangkan energi seseorang.

Seseorang perlu mengolah tubuh dan pikiran, yang menuntut seseorang untuk memperhatikan tindakannya dan rajin.

Jika seseorang tidak menganggap ketenaran dan kekayaan duniawi dengan ringan, ia tidak dapat jelas tentang tujuan hidupnya.

Jika pikiran seseorang tidak tenang, ia tidak dapat mewujudkan cita-cita dan standar yang luas.

Apa yang dipelajari seseorang harus sepenuhnya diserap, dan untuk mengembangkan bakatnya ia harus belajar dengan rajin dan tidak merasa jemu.

Jika seseorang tidak rajin belajar, kemampuan dan kebijaksanaannya tidak dapat tumbuh dengan baik.

Jika seseorang tidak jelas tentang tujuannya, ia tidak dapat mencapainya, bahkan melalui belajar. Jika seseorang mengejar kenyamanan dan memiliki sikap malas dan ceroboh, dia tidak dapat membangkitkan semangatnya.

Dalam bersikap sembrono dan pemarah, seseorang tidak bisa membentuk temperamennya.

Kemudian, ketika masa muda seseorang telah berlalu dan kehendaknya melemah, ia pada akhirnya akan berubah menjadi seseorang yang tidak menghasilkan apa-apa. Pada akhirnya, orang itu tidak akan berguna bagi masyarakat.

Pada saat itu, tidak akan ada yang tersisa baginya untuk dilakukan, selain ditinggalkan di dunianya yang sempit dan kecil, dengan sedih memikirkan apa yang telah ia lewatkan.

諸葛亮

Artikel ini pertama kali dimuat di iqro.id

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »