Monday 20th September 2021,

Kerusuhan SARA di India, Akibat Pidato Hasutan Kebencian

Kerusuhan SARA di India, Akibat Pidato Hasutan Kebencian
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

UU yang mengatur tentang Kewarganegaraan India yang baru diamandemen dan diberlakukan di negara sekuler multi etnis dan agama itu disinyalir memicu gelombang unjuk rasa dari warga muslim di sana. Undang-undang bernuansa diskriminasi terhadap warga muslim ini sebelumnya pada Desember 2019 juga telah memicu bentrokan saat polisi membubarkan mahasiswa Universitas Jamia Millia Islamia, New Delhi yang melakukan unjuk rasa di kampus.

Unjuk rasa pada hari Minggu lalu (23/3), yang semula berjalan normal berubah menjadi tak terkendali dan meledak menjadi kerusuhan berdarah dengan memakan korban jiwa diikuti pengrusakan mobil dan bangunan. Kerusuhan antar kelompok Hindu dan Muslim di New Delhi ini dengan cepat meluas ke seluruh bagian kota.

Kerusuhan mula berawal setelah warga melihat video pidato Kapil Mishra, seorang politikus Partai Bharatiya Janata (BJP), dikenal sebagai partai kanan Hindu yang kalah dalam pemilu yang baru dilaksanakan di India.

Dengan berapi-api dan penuh emosi Kapil dalam pidatonya meminta polisi setempat segera membubarkan pengunjuk rasa disertai ancaman: bubarkan pengunjuk rasa yang memblokir jalan utama, atau dia dan pengikutnya akan melakukannya sendiri.

Tidak menunggu lama setelahnya, gelombang massa dari warga Hindu yang termakan isi pidatonya turun ke jalan dan mulai terlibat bentrok dengan para pengunjuk rasa.

Banyak kalangan di India termasuk dari kelompok Hindu mengecam pidato Kapil Mishra tersebut yang hingga hari ini tercatat memakan 33 orang korban tewas, 10 lainnya dalam keadaan kritis, dan banyak lagi yang cedera serius. Belum lagi ratusan bangunan dan ribuan kendaraan yang dibakar dalam kerusuhan yang terjadi. Kejadian ini dinilai sebagai kejadian terburuk yang dialami India dalam beberapa tahun terakhir.

“Kapil Mishra harus ditangkap,” kata pengusaha Rupesh Bathla yang mengaku mengenal Mishra sejak mereka remaja.

“Dia memulai kerusuhan komunal. Dia menanam kebencian di hati orang-orang,” lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Kamis (27/2).

“Secara keseluruhan, kerusuhan Delhi pekan ini mulai terlihat seperti pogrom (serangan besar-besaran terhadap kelompok tertentu), seperti (kerusuhan) Gujarat 2002 dan Delhi 1984,” kata Ashutosh Varshney, Direktur Pusat Asia Selatan Kontemporer Universitas Brown.

Keadaan ini diperparah dengan tidak maksimalnya otoritas keamanan setempat dalam menangani permasalahn ini, polisi menurut sebagian warga terkesan membiarkan para perusuh melakukan aksinya di setiap lokasi kerusuhan.

Kejadian yang terjadi bersamaan dengan kunjungan Presiden Amerika Serikat di India ini dengan cepat menyita perhatian dunia. Dimana ujaran kebencian yang disampaikan oleh tokoh politik dalam suatu negara terlihat sangat berbahaya dan dengan mudah dapat memicu terjadinya perpecahan.

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi
Editor: Abdul Karim Abraham

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »