Kyai Muhith Muzadi, “Kyai As’ad Tidak Pernah Mufaraqah Dengan Gus Dur”

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

Waktu itu suasana NU sedang tidak tenang. Isu mufaraqah Kiai As’ad terhadap Gus Dur beredar ke mana-mana. Media ramai, obrolan di kalangan aktivis makin riuh. Banyak yang bicara, tapi sedikit yang benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

KH Muchith Muzadi termasuk yang merasa gelisah. Beliau mengenal betul Kiai As’ad: kiai sepuh yang halus tutur katanya, dalam pertimbangannya, dan tidak pernah gemar menyelesaikan perkara lewat kegaduhan.

Maka Kiai Muchith memilih satu jalan yang sederhana: sowan langsung ke Sukorejo.

Tak semua orang tahu, kamar pribadi Kiai As’ad bukan tempat yang mudah dimasuki. Biasanya hanya orang-orang tertentu yang diizinkan. Namun hari itu, Kiai Muchith dipersilakan masuk tanpa banyak tanya. Sebuah tanda kepercayaan.

Di ruang yang sunyi itu, Kiai Muchith menyampaikan kegundahannya dengan tenang. Tidak dengan nada menuduh, apalagi menghakimi.

“Kalau memang Gus Dur keliru,” ujarnya pelan,

“kenapa tidak dipanggil saja? Dinasehati baik-baik. Tidak perlu bicara lewat koran.”

Kiai As’ad mendengarkan dengan penuh perhatian. Tak ada amarah. Tak ada suara meninggi. Hanya diam yang panjang, seperti orang yang sedang menimbang sesuatu dengan hati.

Lalu Kiai As’ad berkata lirih, tapi dalam maknanya:

“Mana saya berani berhadapan dengan Gus Dur. Begitu saya melihat wajahnya, yang tampak justru wajah Hadratussyaikh.”

Di mata Kiai As’ad, Gus Dur bukan sekadar tokoh atau ketua umum. Ia adalah sambungan sanad, bayangan guru, yang tak mungkin dihadapi dengan kemarahan.

Di situlah Kiai Muchith paham. Apa yang ramai di luar ternyata jauh berbeda dengan yang sesungguhnya ada di dalam. Jika pun ada perbedaan sikap, itu lebih mirip nasihat kiai kepada santri—bukan perpisahan, apalagi permusuhan.

Keluar dari kamar itu, Kiai Muchith membawa keyakinan sendiri: hubungan para kiai sering kali jauh lebih jernih daripada yang ditangkap oleh berita.

 

Sumber: M. Mas’ud Adnan di Disway

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »