Thursday 25th July 2024,

Mengidentifikasi Doktrin-Doktrin Radikalisme di Youtube, Ini Tanda-Tanda dan Cara Menghentikannya

Mengidentifikasi Doktrin-Doktrin Radikalisme di Youtube, Ini Tanda-Tanda dan Cara Menghentikannya
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Saini, S.Pd.I.,M.H.I

YouTube telah berkembang menjadi salah satu platform berbagi hiburan dan informasi terbesar di dunia. Meskipun memiliki banyak keuntungan, youtube juga dapat digunakan sebagai media untuk menyebarkan terorisme, radikalisme, dan aliran sempalan seperti Wahhabi, Salafi, dan eks HTI. Tulisan ini berusaha akan menelisik ciri dan tanda kanal YouTube yang menyebarkan keyakinan ini baik secara terang-terangan maupun secara samar, menjelaskan bagaimana konten ini berkembang, dan menyarankan cara berbagai pihak dapat mencegah penyebaranya.

Berikut adalah beberapa tanda yang sangat mudah ditemukan terutama pada thumbnail kanal youtubenya.

1. Narasi yang Provokatif dan Eksklusif

Narasi yang provokatif dan eksklusif adalah karakteristik utama kanal YouTube yang berpotensi menyebarkan ideologi radikalisme dan aliran sempalan.

Kanal-kanal ini sering menggunakan bahasa yang menanamkan kebencian, menciptakan perasaan bahwa “kita harus lawan mereka”, dan mendukung keyakinan bahwa kelompok mereka adalah yang terbaik dan bahwa kelompok lain adalah musuh yang harus dilawan. Ideologi yang digunakan seringkali emosional dan menggebu-gebu untuk menarik perhatian dan mempengaruhi pemirsa untuk mendukung mereka.

Orang-orang yang terkenal dengan perspektif mereka yang radikal biasanya menulis postingan inspirasi dari kajian mereka lalu dijadikan status di Whatsapp, telegram, instagram dan lainnya. Tokoh-tokoh ini mungkin pemimpin agama yang kontroversial atau mereka yang baru-baru ini mencoba menyebarkan keyakinan mereka melalui platform online. Dalam video-video tersebut, interpretasi teks suci yang sederhana dan literal sering digunakan. Ini bertentangan dengan interpretasi yang lebih luas atau kontekstual yang biasanya diterima masyarakat.

Biasanya kajian yang mereka lakukan lebih banyak menggunakan kitab-kitab atau buku terjemahan hasil karya guru-guru mereka yang dijadikan pedoman dan bahkan dijadikan dalil setelah al-Quran dan Hadits.

2. Kontennya Mengandung Kekerasan

Channel-channel ini sering menampilkan konten yang mendukung kekerasan. Misalnya, mereka dapat menampilkan kisah tentang “syuhada” atau tentara yang terbunuh dalam pertempuran, menggambarkan mereka sebagai pahlawan yang layak diteladani. Selain itu, video-video ini mungkin menampilkan bagian dari konflik atau kekerasan yang sedang berlangsung sambil menunjukkan penderitaan kelompok masyarakat tertentu sebagai cara untuk mendorong orang untuk merasa seperti mereka dan mendukung perjuangan mereka.

3. Sasarannya adalah Generasi Muda Milenial

YouTube radikal sering menampilkan konten yang ditujukan untuk generasi muda. Mereka menggunakan strategi pemasaran seperti thumbnail yang menarik, judul video yang menarik, dan deskripsi yang menarik.

Target utama adalah remaja, yang sedang dalam masa pencarian identitas dan rentan terhadap pengaruh luar, karena mereka lebih mudah terpengaruh oleh konten emosional dan provokatif. Selain itu, algoritma YouTube digunakan untuk menyebarkan ideologi radikalisme.

Algoritma ini digunakan untuk mempromosikan konten dengan banyak penonton dan melibatkan interaksi tanpa mempertimbangkan jenis kontennya. Oleh karena itu, video dengan narasi kontroversial dan provokatif lebih sering dilihat oleh banyak orang, yang meningkatkan kemungkinan ideologi radikal menyebar.

Beberapa langkah penting dapat diambil untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan aliran sempalan di YouTube. Pertama, platform itu sendiri harus meningkatkan upaya moderasi kontennya. Untuk secara proaktif menemukan dan menghapus konten berbahaya, YouTube harus bekerja sama dengan ahli terorisme dan organisasi anti-radikalisme.

Algoritma harus diubah agar video yang mempromosikan lebih sedikit kekerasan dan kebencian dan lebih banyak konten yang mendorong toleransi dan kedamaian.

Kedua, pemerintah dan lembaga keamanan harus bekerja sama dengan perusahaan media sosial untuk mengawasi dan menindak kanal yang menyebarkan ideologi radikal. Ini dapat mencakup undang-undang yang ketat dan sanksi yang tegas terhadap individu atau kelompok yang terbukti menggunakan media sosial untuk tujuan tersebut.

Ketiga, setiap orang dan komunitas memiliki kewajiban untuk mencegah penyebaran ideologi radikal. Masyarakat harus dididik secara menyeluruh tentang literasi digital, terutama anak-anak, agar mereka dapat mengidentifikasi dan menghindari konten berbahaya. Kempanye yang menekankan pentingnya toleransi dan dialog antaragama juga harus dilakukan untuk mengurangi prasangka dan konflik kelompok.

Keempat, peran yang dimainkan oleh keluarga dan tempat tinggal sangat penting. Orang tua dan pendidik harus secara aktif mengawasi dan mendidik anak-anak mereka tentang nilai-nilai agama dan moral melalui aktivitas online mereka. Selain itu, dapat membantu mencegah penyebaran ideologi radikal dengan menciptakan lingkungan yang memungkinkan diskusi yang terbuka dan sehat tentang masalah agama dan sosial.

Diharapkan bahwa pendekatan ini akan membantu mencegah penyebaran radikalisme dan aliran sempalan di YouTube. Untuk mencegah ideologi yang membahayakan tatanan sosial dan keamanan dunia, platform digital, pemerintah, masyarakat, dan keluarga harus bekerja sama dengan baik. Untuk menangani ancaman radikalisme di dunia maya, pendekatan holistik dan berkesinambungan diperlukan.

(Penulis adalah Dosen Ma’had Aly dan STIS Nurul Qarnain Jember)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »