Monday 20th September 2021,

Kelompok Radikal yang Kecewa dan Sakit Hati Lahirkan Terorisme

Kelompok Radikal yang Kecewa dan Sakit Hati Lahirkan Terorisme
Share it

ASWAJADEWATA.COM | DENPASAR 

Penulis: Imriatun Muchlisoh

Tindakan teror bukanlah hal baru di mata dunia maupun Indonesia. Teror menjadi perhatian dunia ketika terjadi pengeboman di WTC pada thun 2001 silam yang lalu. Sedangkan di Indonesia sudah ada sejak reformasi dan kembali mencuat kembali pada tahun 2012.

Teroris berasal dari kelompok radikal yang mengalami perasaan sakit hati, kekecewan dan ketidakpuasan, tapi tidak semua kelompok radikal berujung menjadi teroris. Aksi terorisme menjadi semakin memanas ketika para pelaku teror mengatasanamakan suatu suku, bangsa, ras, atau agama tertentu.

Hal tersebut yang membuat terjadinya distingsi di kalangan masyarakat. Sesungguhnya aksi terorisme tidak ada kaitannya dengan suatu agama atau kepercayaan, suku maupun bangsa tertentu. Jika pelaku teror mengatasnamakan suatu agama, ras atau suku tertentu, maka itu hanya sebagai suatu ‘kebetulan’. Mereka ‘kebetulan’ di KTP-nya tercatat sebagai suatu umat agama tertentu.

Agama, suku, dan bangsa di Indonesia memiliki nilai yang luhur, kebersamaan, saling mendukung, toleransi, kasih sayang yang selalu diajarkan di agama maupun di adat dan budaya manapun di Nusantara. Para pelaku teror tidak memiliki adat dan budaya, sehingga mereka berupaya menciptakan kekacaun.

Pelaku teror yang mengatasnamakan Islam, sejatinya adalah musuh Islam, yang mengatasnamakan Indonesia adalah musuh Indonesia.

Indonesia menghadapi ancaman radikal sepanjang NKRI masih eksis. Adapun yang mencoba menghancurkan Indonesia yaitu ancaman dari luar. Mereka para pelaku teror akan selalu diperalat oleh pihak luar untuk mencoba menghancurkan Indonesia melalui cara disintegrasi internal.

Mengingat semakin berkembangnya IPTEK dan globalisasi yang menuntut semua negara di dunia untuk bersaing, setiap negara di dunia akan terus berusaha menguatkan kondisi keamanan negaranya masing-masing. Oleh karenanya, masyarakat Indonesia harus senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama, suku, bangsa dan ras guna tercapainya Persatuan Indonesia.

Denpasar, 30 November 2019

(Seperti disampaikan oleh Ketua Umum FKUB Nasional, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet dalam acara Dialog Interaktif dan Deklarasi Mewaspadai Pola dan Gerakan Terorisme di Bali – PW GP Ansor Bali)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »