Ngaji Ekoteologi Bersama Gus Baha

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

Dalam acara International Conference on Islamic Ecotheology for The Earth (ICIEFE) 2025 yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (14/7/2025), Gus Baha menyampaikan materi tentang ekoteologi dalam perspektif tafsir.

Penyampaiannya sangat singkat itu, Gus Baha meberikan pesan-pesan penting tentang ekoteologi. Beliau juga mengakui dan mengapresiasi kepada program Kementerian Agama terkait ekoteologi. “Saya senang ada gerakan menyelamatkan bumi. Karena kata ulama, takhallaqu biakhlaqillah”

Berikut empat poin penting ngaji ekoteologi bersama Gus Baha:

1. Berhati-hati mengelola bumi

Gus Baha menyampaikan tentang bumi yang bisa mengalami likuifaksi dan sistem bumi yang menyerap air. Allah memperingatkan kita agar berhati-hati dalam mengelola bumi. Untuk menegaskan penyampaian ini, Gus Baha membacakan ayat berikut:

ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَاۤءِ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَا هِيَ تَمُوْرُۙ

Sudah merasa amankah kamu dari Zat yang menguasai langit, yaitu (dari bencana) dibenamkannya bumi oleh-Nya bersama kamu ketika tiba-tiba ia terguncang? (QS. Al-Mulk: 16)

ٍقُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْن

“Terangkanlah kepadaku jika (sumber) air kamu surut ke dalam tanah, siapa yang akan memberimu air yang mengalir?” (QS. Al-Mulk:30 )

2. Berakhlak pada alam

Gus Baha mengajak kepada kita semua berakhlak pada alama. Karena kata ulama takallaqu biakhlaqillah, yaitu ulama mengajarkan kita agar berakhlak pada alam sebagaimana Allah menciptakan berbagai tumbuhan dan tanaman. Maka menjaga, merawat dan melestarikan alam adalah akhlak kita kepada alam. Sehingga hidup kita akan aman dari bencana dan nyaman karena tumbuhan-tumbuhan yang memberi kenikmatan bagi kita. Gus Baha mengutip ayat berikut:

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِه اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ وَّحَدَاۤئِقَ غُلْبًا وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ

Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan. (Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu. (QS. Abasa: 24-30)

3. Menanam berarti bersedekah

Gus Baha juga menyebutkan bahwa seseorang yang menanam tanaman lalu tumbuh besar dan berbuah, maka buah-buahannya yang dimakana oleh manusia lainnya, hewan atau binatang, itu bernilai sedekah. Dalam hal ini Gus Baha berdasarkan hadis:

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Jabir berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, Tidaklah seorang muslim menanam pohon kecuali buah yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri menjadi sedekah, yang dimakan binatang buas adalah sedekah, yang dimakan burung adalah sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali menjadi sedekah” (HR. Muslim)

4. Merusak alam, perbuatan kejahatan

Terakhir Gus Baha mengingatkan tentang merusak alam adalah perbuatan kejahatan. Jadi, ciri-ciri orang yang jahat atau tidak baik adalah orang yang merusak tumbuh-tumbuhan atau tanaman dan merusak populasi. Sebagaimana dalam ayat ini Gus Baha membacakan:

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ ۝٢٠٥

Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan. (QS. Al-Baqarah: 205)

Oleh: Muhammad Taufik Maulana

 

 

 

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »