Kiai As’ad, “Nabi Khidir Memilih Gus Dur Jadi Ketum PBNU”

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

Muktamar NU tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo bukan sekadar forum organisasi. Di tempat itulah, sejarah NU ditulis bukan hanya dengan suara voting, tetapi juga dengan getar batin para wali.

Suatu ketika, Gus Dur duduk bersebelahan dengan KHR As’ad Syamsul Arifin. Suasananya tenang, tapi tegang. Forum Muktamar telah memutuskan satu hal penting: penentuan Rais ‘Am dan Ketua Umum PBNU diserahkan sepenuhnya kepada Ahlul Halli wal ‘Aqd tunggal, yakni KHR As’ad Syamsul Arifin.

Keputusan itu membuat banyak kiai sowan. Satu per satu menghadap, menyampaikan usulan, harapan, bahkan kekhawatiran tentang masa depan NU.

Gus Dur bercerita, saat itu ia sedang berbincang santai dengan Kiai As’ad. Tiba-tiba, seorang kiai dari Malang datang dan langsung matur dengan penuh takzim, agar jabatan Ketua Umum PBNU diberikan kepada Kiai Tholhah.

Belum sempat suasana berubah, Kiai As’ad langsung menjawab, tegas tapi tenang:

“Tidak. Nabi Khidir baru saja meninggalkan tempat ini, dan beliau tetap menunjuk Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU.”

Kalimat itu membuat kami yang mendengarnya terdiam. Sejenak seperti terlempar ke ruang batin yang sunyi. Dalam benak kami muncul satu tafsir: berarti sebelum kiai dari Malang itu datang, Nabi Khidir, Kiai As’ad, dan Gus Dur seakan sedang “berbincang” tentang siapa yang akan menahkodai NU.

 

Oleh: KH. M. Misbahus Salam, Pengasuh Yayasan Raudlah Darus Salam Sukorejo, Bangsalsari, Jember (dari Gus Dur)

diunggah oleh:

Picture of Muhammad Ihyaul Fikro

Muhammad Ihyaul Fikro

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »