Di tengah gejolak dinamika NU, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy berpesan, “Mari terus berdoa yang terbaik untuk jam’iyah yang kita cintai. Di tengah segala dinamika, mari kita jaga husnuzon dan positif thinking. Jadikan harapan sebagai doa, semoga terwujud kemajuan Nahdlatul Ulama kedepannya. Terus jaga wasiat para guru, berkhidmat dengan ikhlas dan doakan selalu.”
“Mari terus berdoa yang terbaik untuk jam’iyah yang kita cintai” Salah satu ikhtiar pendirian Nahdlatul Ulama adalah mengerahkan kekuatan langit. Melalui zikir, doa dan berbagai riyadoh lainnya yang dilakaukan oleh para muassis NU. Maka, untuk terus menjaga NU tidak lepas dari ikhtiar langit. Terlebih ketika NU diterpa berbagai ujian.
“Di tengah segala dinamika, mari kita jaga husnuzon dan positif thinking” Husnuzon atau positif thinking adalah prinsip utama dalam menyikapi segala dinamika. Bahkan solusi pertama dan utama menyikapi masalah adalah positif thinking. Banyak orang menyikapi masalah bukan kepada pokok masalahnya, tetapi kepada su’uzon yang muncul dari dirinya sendirinya atau dari orang lain yang dibangun dengan narasi-narasi yang seolah fakta.
Dalam Nahdlatul Ulama, husnuzon menjadi prinsip dalam berorganisasi. Inilah yang ditanamkan oleh para muassis Nahdaltul Ulama sejak awal berdirinya NU. Untuk mengawal prinsip husnuzon, NU membudayakan tabayun.
“Jadikan harapan sebagai doa, semoga terwujud kemajuan Nahdlatul Ulama kedepannya” Ketika harapan berhadapan atau bahkan berlawanan dengan dinamika, maka ikhtiarkan harapan itu (sementara) dengan doa. Mungkin, orang-orang yang berbicara atau membuat narasi tentang dinamika NU, itu adalah bentuk harapannya untuk mewujudkan NU lebih baik.
Namun demikian, ketika harapan-harapan itu dimunculkan dalam bentuk ucapan, sikap atau narasi-narasi, justru berakibat dinamika semakin tegang. Maka, melangitkan harapan dalam kondisi seperti ini (bergejolak) adalah langkah dan solusi yan tepat dan bijak. Terlebih bai kita yang awam.
“Terus jaga wasiat para guru, berkhidmat dengan ikhlas dan doakan selalu” Pondasi khidmad di NU adalah wasiat guru. Niat dan cita-cita dalam mengabdikan diri di Nahdlatul Ulama wajib sesuai wasiat, nasihat dan arahan guru. Maka, kepentingan utama menjadi pengurus atau cawe-cawe dalam organisasi NU, tak lain adalah kepentingan NU.
Praktiknya, menjadi pengurus NU tidak mengabdi kepada pimpinan NU, melaikan kepada NU itu sendiri yang isinya niat dan cita-cita para muassis Nahdlatul Ulama. Siapapun yang menjadi pimpinan NU tetapi tidak sesuai dengan muassis NU, hati kita tetap NU.
“berkhidmat dengan ikhlas dan doakan selalu” Agar berkhidmat dengan ikhlas, maka jadikan wasiat guru sebagai modal dan prinsip mengabdi di Nahdlatul Ulama seraya senantiasa menyambung hati melalui doa dan fatihah.
Wallahu a’lam.









