Thursday 23rd September 2021,

Dua Tradisi Masyarakat Bali Yang Dibudayakan Umat Muslim Bali

Dua Tradisi Masyarakat Bali Yang Dibudayakan Umat Muslim Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Sebagaimana para Walisongo yang datang ke Pulau Jawa, meski mereka beragama Islam tidak serta merta menampakkan identitas keagamaannya di tengah-tengah masyarakat yang ketika itu belum mengenal Islam. Justru Walisongo menyesuaikan prilaku sosial sehingga mampu beradaptasi bersama masyarakat Jawa. Bahkan, Walisongo ikut serta dan melebur kedalam tradisi dan budaya setempat.

Begitu juga umat muslim yang datang ke wilayah Bali, ada kemiripan dengan para Walisongo. Umat muslim yang datang ke daerah-daerah di Bali juga mampu beradaptasi dan menjadi bagian dari kehidupan sosial budaya masyarakat Bali. Selama tidak mengusik akidah, umat muslim dengan asyik bergaul dan mengikuti sesuatu yang yang memang sudah menjadi tradisi dan budaya masyarakat Bali.

Dari adaptasi sosial budaya itu, hubungan umat muslim dan masyarakat Bali mulai terjalin, bahkan sangat akrab dan harmonis. Tradisi atau kebiasaan prilaku sosial yang bergulir di tengah-tengah masyarakat Bali, umat muslim ikut larut dalam prilaku sosial budaya tersebut. Bagi umat muslim yang sudah yakin pada agamanya dan memahami kehidupan sosial, suatu tradisi meski dari non muslim akan diterima dan diikutinya.

Di Bali, umat muslim sudah mengamalkan tradisi yang lahir dari masyarakat Bali yang kebetulan beragama Hindu. Tradisi tersebut hingga saat ini tetap dijaga dan dibudayakan oleh umat muslim dari generasi kegenerasi atau sudah menjadi warisan budaya. Ada dua tradisi yang sudah lumrah dikenal di kalangan umat muslim saat ini, yaitu megibung dan ngejot.

Megibung

Tradisi Megibung dimulai dari tahun 1614 Caka (1692 Masehi), ketika salah satu Raja Karangasem, I Gusti Anglurah Ketut Karangasem, berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sasak (Lombok). Di kala para prajurit istirahat untuk makan, Sang Raja membuat aturan makan bersama yang disebut megibung.

Kata megibung sendiri bersasal dari kata dasar gibung yang mendapat awalan me-. Gibung berarti kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang yaitu saling berbagi antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedangkan awalan me- berarti melakukan suatu kegiatan.

Dalam megibung biasanya terdiri dari lima hingga tujuh orang, yang dilakukan dengan duduk bersama membentuk lingkaran. Adapun ciri khas dari megibung ini adalah: 1) Duduk bersila membentuk lingkaran yang terdiri dari 5-7 orang, 2) Nasi yang disuguhkan ditaruh dalam satu wadah (nampan besar), 3) Lauk atau pelengkap nasi berupa sate, lawar, soup, Gegubah/lempyong, pepesan yang ditempatkan dalam satu wadah (nampan kecil), 4) Kegiatan makan dilakukan secara bersamaan dan makan menggunakan tangan, 5) Pada saat makan tidak boleh ada yang terjatuh di wadah/tempat nasi namun harus di luar nampan tempat nasi tersebut, 6) Apabila ada salah seorang peserta megibung ada yang terlebih dahulu kenyang, orang tersebut tidak boleh terlebih dahulu bangun atau meninggalkan tempat megibung namun mesih menunggu yang lain supaya selesai makan dan bangun secara bersama-sama.

Tradisi Megibung merupakan kegiatan yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem yang daerahnya terletak di ujung timur Pulau Dewata. Tanpa disadari Megibung menjadi suatu maskot atau ciri khas Kabupaten Karangasem yang ibu kotanya Amlapura ini. Tradisi Megibung sudah ada sejak jaman dahulu kala yang keberadaannya hingga saat ini masih kerap kali kita dapat jumpai. Bahkan sudah menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat Karangasem itu sendiri didalam melakukan suatu kegiatan baik dalam upacara Keagamaan, Adat maupun kegiatan sehari-hari masyarakat apabila sedang bercengkrama maupun berkumpul dengan sanak saudara.

Megibung penuh dengan nilai-nilai kebersamaan. Dalam megibung secara umum tidak ada perbedaan jenis kelamin atau catur warna. Anggota satu sela, misalnya, bisa terdiri laki dan perempuan, atau campuran dari golongan. Nilai kebersamaan ini telah dicanangkan sejak zaman I Gusti Anglurah Ketut Karangasem, dan sudah menjadi tradisi hingga kini.

Untuk melestarikan tradisi ini, pada 26 Desember 2006, Bupati Karangasem saat itu I Wayan Geredeg, pernah menggelar acara megibung massal di Taman Sukasada, Ujung. Megibung massal yang tercatat dalam rekor MURI itu diikuti oleh 20.520 orang.

Saat ini kegiatan megibung kerap kali dapat dijumpai pada saat prosesi berlangsungnya Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat di Karangasem. Seperti misalnya dalam Upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada kegiatan ini biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga prosesi upacara dapat berlangsung seperti yang diharapkan. Proses penyembelihan babi pun dilakukan sebagai salah satu menu di dalam mempersiapkan hidangan yang disebut Gibungan ini. Daging babi diolah sedemikian rupa dan diberi bumbu tertentu sehingga daging yang mentah menjadi menu pelengkap yang menggugah selera seperti sate, lawar, soup (komoh), Gegubah/lempyong, pepesan serta yang lainnya. Menu yang dihidangkan dalam Megibung tidaklah harus daging babi, namun dading ayam, kambing serta daging sapi pun tidaklah masalah.

Ngejot

Ngejot atau Jotan adalah sebuah tradisi di Bali dalam bentuk persembahan setelah memasak dan juga dalam rangkaian upacara yadnya kepada sanak keluarga/saudara, tetangga maupun pada masyarakat sekitar dalam rangka meningkatkan kebersamaan atas terwujudnya upacara tersebut. Jotan dalam bentuk segehan utawi banten saiban sebagai ungkapan terima kasih atau rasa syukur masyarakat Hindu Bali kepada Tuhan.

Ngejot kepada masyarakat atau kepada sanak saudaranya sebagai rasa permakluman dan sekaligus sebagai undangan kepada yang diberi jotan bahwa yang ngejot tersebut memiliki upacara tertentu.

Dalam tradisi ngejot di Bali disebutkan bahwa ngejot kepada masyarakat, biasanya yang diberikan jotan tersebut berupa makanan (seperti nasi berisi bermacam olahan misalnya lawar, sate, jukut-jukut, be nyuh atau yang lain sesuai dengan keinginan yang ngejot tersebut) dimana tradisi tersebut terkait dengan adanya suatu acara adat atau upacara yadnya tertentu yang dilaksanakan dimiliki oleh seseorang atau keluarga.

Misalnya saja seseorang melakukan upacara selamatan anaknya seperti bulan pitung dina, otonan, odalan, nganten, metatah, atau yang lainya, kemudian yang memiliki upacara ngejot kepada masyarakat, kepada saudaranya.

Ngejot kepada masyarakat itu sendiri juga disebutkan memiliki fungsi: 1) Sebagai rasa permakluman kepada yang diberi jotan bahwa yang ngejot tersebut memiliki acara tertentu, 2) Sebagai undangan untuk datang ke tempat orang yang ngejot tersebut, 3) Sebagai tanda ucapan terima kasih karena yang diberi jotan tersebut telah membantu dalam penyelesaian sebuah upacara tertentu yang dilakukan oleh orang yang memberi jotan tersebut.

Sumber: Buku Fikih Muslim Bali

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »