Sunday 01st August 2021,

Megengan, Tradisi Masyarakat Jawa Jelang Ramadhan Juga Dilakukan Majelis Mualaf di Bali

Megengan, Tradisi Masyarakat Jawa Jelang Ramadhan Juga Dilakukan Majelis Mualaf di Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Menjelang Ramadhan banyak tradisi masyarakat yang dilakukan turun temurun sebagai laku syukur dan penyambutan atas tibanya bulan penuh barokah itu. Disertai doa dan harapan agar dapat melewatinya dengan amalan-amalan tambahan yang dilipatgandakan kualitas pahalanya. Ini juga semacam cara untuk memotivasi diri mereka agar dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya.

Salah satunya yang banyak dilakukan khususnya oleh masyarakat muslim di Jawa Timur adalah Megengan. 

Megengan secara linguistik bisa diartikan “menahan”. Dalam konteks bulan Ramadan, Megengan berarti menahan hawa nafsu yang terkait dengan makan, minum, berhubungan seksual, dan lain sebagainya. Sebagaimana dijelaskan Nur Syam yang dikutip dari nursyam.uinsby.ac.id, bahwa dalam Islam dikenal nafsu mutmainnah. Nafsu mutmainnah adalah nafsu keberagamaan atau etis yang mendasarkan tindakan manusia pada ajaran agama. Tradisi Megengan bisa menjadi penanda bagi umat Islam untuk melakukan persiapan khusus menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Pada saat memenyantap hidangan penutup berupa nasi tumpeng setelah rangkaian doa dan tahlil, praktek saling menahan diri itu terlihat ketika mereka makan bersama dalam satu nampan. biasanya satu nampan untuk 5 orang dianalogikan sesuai jumlah rukun Islam.

Entah bagaimana awalnya tradisi ini sampai di masyarakat Jawa, namun kuat dugaan berasal dari Sunan Kalijaga walaupun sampai sekarang belum ada bukti historis mengenainya. Dugaan tersebut kuat diyakini sebab kreasi-kreasi yang menyangkut tradisi akulturasi antara Islam dan Jawa memang kerap berasal dari pemikiran Sunan Kalijaga.

Tidak berbeda dengan tradisi selamatan yang merupakan tradisi asli masyarakat Jawa jauh sebelum Islam datang di nusantara, hanya saja dalam megengan ini kerap disertai doa bersama khusus bagi ahli kubur setiap orang yang mengikutinya, biasanya dalam majelis-majelis pengajian berfaham ahlussunah wal jama’ah (aswaja) an nahdliyyah.

Menariknya, tradisi ini sekarang menyebar hingga ke Bali. Masyarakat muslim Bali yang mayoritas berasal dari Jawa Timur menjalankan tradisi ini yang hingga kini menjadi lumrah dilakukan.

Rangkaian doa bersama bagi para ahli kubur jamaah Majelis Mualaf Asy-Syifa Denpasar ditutup dengan makan bersama dalam satu nampan

Termasuk oleh Majelis Pengajian ibu-ibu dengan anggota yang terdiri dari mualaf asli Bali bernama Asy Syifa pada hari Minggu selepas Maghrib (11/4). Setiap tahunnya, sejak majelis ini terbentuk sekitar tahun 2003, tradisi megengan telah menjadi kegiatan rutin mereka setiap memasuki Ramadhan. Para suami mereka yang rata-rata berasal dari Jawa Timur adalah nahdliyyin kultural yang ingin juga terus melestarikan tradisi ini di lingkungan mereka. Daftar nama almarhum/almarhumah kerabat dari seluruh masing-masing anggota dibacakan, lalu disertai pembacaan surah Al Fatihah sebelum dibacakannya Yasiin, dzikir tahlil dan doa.

Sebagai penutup, mereka makan bersama menyantap nasi tumpeng yang telah disiapkan sebelumnya lengkap dengan lauk pauk khas seperti pada acara selamatan umumnya.

Diluar semua itu, megengan yang ternyata penuh nilai-nilai filosofis ini juga memiliki fungsi merekatkan silaturahmi, sebagai ajang saling memohonkan maaf satu dengan yang lain, dan menambah kekompakan jamaah saat mengerjakan ibadah puasa Ramadhan yang akan dilalui bersama.

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi 

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »