Oleh: Ayung Notonegoro
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama – dan sebagian besar umat Islam – mengenal istilah istikharah, meminta petunjuk Allah SWT atas setiap keputusan yang akan diambil. Istikharah ini biasanya akan memberikan isyarah (petunjuk).
Ada banyak metode yang biasa dilakukan untuk mendapatkan isyarah langit tersebut. Mulai dari salat istikharah, membaca Al-Quran atau wirid-wirid tertentu, bahkan melakukan tirakat khusus, sedari puasa hingga ziarah. Hal tersebut dapat dilakukan sendiri atau oleh pihak lain yang dianggap memiliki laku spiritual yang baik.
Lantas, apakah NU didirikan juga berdasarkan isyarah? Petunjuk langit yang turun kepada hamba-hamba yang waskita?
Dalam sejumlah tulisan awal tentang berdirinya NU, tak ditemukan keterangan yang spesifik tentang hal tersebut. Seperti dalam catatan KH. Abdul Wahab Chasbullah di Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) No. 2 Tahun I, Shafar 1346 H.
Kiai Wahab tak menyinggung sama sekali tentang isyarah. Ia menjelaskan jika proses berdirinya NU di antaranya berkat “nem-neman ahli Surabaya” yang merintis “sekawan perkempalan maksud setunggal – empat organisasi yang memiliki satu tujuan”. Yakni, Nahdlatul Wathon, Tasywirul Afkar, Takmiroel Massajid dan Nahlatul Ulama sendiri.
Begitu pula dalam sejumlah tulisan Kiai Wahab yang lain. Seperti di majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama (ONO) besutan Kiai Wahab edisi 1 Tahun I (1 Rajab 1347 H). Di halaman 11-15 lebih banyak mengulas tentang tujuan NU dan kronologi Komite Hidjaz.
Dalam Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) – majalah resmi terbitan PBNU – KH. Abdulhalim Shiddiq juga menulis artikel sejarah dengan judul “Riwajat dan Djasa NO” guna memperingati harlah ke-13 NU. Tulisan yang terbit pada edisi 4 Tahun VIII (15 Desember 1938) dan edisi 5 Tahun VIII (1 Januari 1939) itu, juga tak menyinggung proses spiritualitas. Adik dari KH. Machfudz Shiddiq (Ketua Umum PBNU 1936-1943) itu, hanya menyebut tiga edaran (fase) NU.
Memasuki masa kemerdekaan, terbit sejumlah buku yang mengulas tentang sejarah NU. Di antaranya Aboebakar Atjeh dengan judul. “Sedjarah Hidup K.H.A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar (1957)”. Dalam buku tebal ini juga tidak menyinggung tentang isyarat (hal. 469-473). Lebih menekankan tentang pergolakan pemuda Aswaja di Surabaya dan sejumlah kota menghadapi kelompok anti-madzhab.
Ada pula buku berjudul “Nahdlatul Ulama di Tengah-Tengah Rakjat dan Bangsa Indonesia”. Ditulis oleh Masbuchin dan Muhammad Sufjan Cholil. Diberi pengantar oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah dan KH. Idham Chalid. Diterbitkan oleh Daya Bhakti CV pada 1967 dan terbit ulang pada 1968. Lagi-lagi tak menyinggung perihal isyarah apapun.
Lantas, sejak kapan kisah-kisah tentang isyarah itu muncul dalam “historiografi” NU?
Sejauh penelusuran penulis, kisah-kisah spiritual ini muncul dalam kesejarahan NU pada masa awal dekade 70-an. Menjelang Pemilu 1971. Di antaranya dimuat dalam majalah Mimbar No. 7 Tahun I, 26 Juli 1971. Majalah besutan Nurcholis Madjid tersebut menurunkan artikel kecil dari laporan utamanya tentang Muktamar NU pada tahun 1971. Artikel tersebut berjudul “Mimpi di Makam Sunan Ampel”.
Saat hendak mendirikan NU, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah dan KH. Ridwan Abdullah berziarah ke makam salah satu Walisongo itu. Setelah membaca serangkaian doa dan tawasul, mereka kerawuhan Sunan Ampel. Layaknya sebuah mimpi. Sang Sunan membawa sapu lidi dan mengenakan blangkon. Lantas, Sunan Ampel menghampiri ketiganya.
Sapu di tangan Sunan Ampel diserahkan kepada mereka. Begitu pula dengan blangkon yang dikenakannya. Dilepas dan diserahkan pula.
Peristiwa ini, oleh ketiganya ditafsiri, bahwa upaya untuk mendirikan NU telah mendapat restu dari Walisongo, dalam hal ini diwakilkan oleh Sunan Ampel. Sapu dimaknai sebagai lambang persatuan. Sedangkan blangkon tak lain adalah simbol estafet perjuangan Walisongo.
Sayangnya, fragmen di atas tak disinggung oleh penulis berikutnya. Seperti KH. Saifudin Zuhri yang menulis biografi Kiai Wahab yang berjudul “Almagfurlah KH. Abdulwahab Chasbullah: Bapak dan Pendiri Nahdlatul Ulama (Yamunu, Jakarta, 1972). Ataupun KH. Abdulhalim Luewimunding yang mengarang syair historis guna mengenang perjalanan Kiai Wahab.
Seiring waktu, trend tentang kisah-kisah spiritualitas itu bermunculan. Seperti halnya pengakuan KHR. As’ad Syamsul Arifin kepada Choirul Anam cs pada Juli 1982 tentang tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil yang kemudian dimuat di buku “Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (Jatayu Press, Solo, 1984)” yang legendaris itu. Dalam catatan kakinya, Cak Anam dengan jelas menulis jika kisah itu dituturkan diobrolkan dalam konteks dinamika kubu Cipete dan kubu Asembagus.
Adapula kisah-kisah lokal yang mengkonfirmasi jika Kiai Hasyim ataupun Kiai Wahab berkunjung ke sejumlah kiai sepuh di berbagai daerah untuk meminta “restu” berdirinya NU. Seperti kepada KH. Zainuddin Mojosari, Nganjuk (Burhan A. Latief, 2024: 240-1), Kiai Cholil, Cangaan, Genteng, Banyuwangi (Tim Penulis PCNU Banyuwangi, 2016: 28) dan ramai dibincangkan adalah kepada Habib Hasyim, kakek dari Habib Lutfi, Pakalongan.
Dari sederet kisah-kisah spiritual yang dikemukakan di atas, sulit rasanya untuk memverifikasi secara faktual. Hal tersebut berada di wilayah esoterik yang membutuhkan piranti yang lebih rumit dari sekadar bukti-bukti material dalam kacamata historiografis.
Akan tetapi, terlepas dari benar-salah sebuah peristiwa, ruang tafsirlah yang membuatnya jadi menarik. Bisa jadi dari sekian kisah itu, benar adanya. Namun, tafsir dan konteks penuturannya telah disesuaikan dengan “semangat zaman”. Wallahua’lam bish showab!
Foto: KH Abdul Wahab Chasbullah (duduk kopiah putih) dan KH. Ridwan Abdullah (duduk bersurban putih) dalam sebuah acara (Dok. Komunitas Pegon)









