Tuesday 20th October 2020,

Tentang Syafa’at, Gus Baha’: Jangan Seperti Kubu Sebelah, Bocah Gak Tau Ngaji

Tentang Syafa’at, Gus Baha’: Jangan Seperti Kubu Sebelah, Bocah Gak Tau Ngaji
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Gus Baha’ dalam setiap pengajiannya memang tak lepas dari guyon dan santuy. Tetapi ketika materi yang dikaji merupakan ‘amaliyah atau paham yang diklaim sesat oleh Kubu sebelah, Gus Baha’ sangat tegas menjelaskan dan membungkam tuduhan mereka.

Gus Baha’ menyampaikan, ”Kenapa Nabi masih minta syafa’at di akhirat? Karena besok di akhirat tidak membatasi qudrah Allah subhanahu wa ta’ala. Jangan seperti kubu sebelah yang mengatakan, ini di akhirat tidak ada syafa’at, tidak ada doa. Kalau sudah mati ya sudah, tidak tambahan amal. Pengeran kok dibatasi. Meng-hauli para kiai dan para habaib itu ya mendoakan. Doa itu memohon kepada Allah. Kalau sudah kepada Allah, ya sudah dipasrahkan kepada Allah, ‘ala kulli syai’in qadir. Allah kok disemprit, awas ya ini sudah finish, ingat ya aturannya. Ini bocah kok gak tau ngaji”

Sikap Gus Baha’ terakait klaim kubu sebelah sama persis dengan sikap Sayyid Muhammad bin Alawy dalam kitab Mafahim Yajibu Antushahhah. Sayyid Muhammad menyikapi kelompok yang suka mengklaim salah dan sesat sangat tegas dan membungkam tuduhan mereka.

Semisal dalam pembahasan “Mengagungkan, Antara Ibadah dan Adab”. Sikap Sayyid Muhammad kepada mereka di pemabahasan ini dengan perkataan “Al-Jahl”. Dalam pembahasan “ Perbedaan Antara Bid’ah Hasanah dan Sayyi’ah”, menyikapi mereka dengan mengatakan “Kurang ilmu, pemikiran yang kosong dan pemahaman yang dangkal”. (Kitab Mafahim, hal. 100 dan 111)

 

Dalam pemabahsan tentang “Syafa’at”, Sayyid Muhammad menyikapi mereka yang menganggap syafa’at merupakan sesuatu yang syirik dan sesat dengan ungkapan “Orang-orang yang keras kepala” (Kitab Mafahim, hal. 174)

Sikap Gus Baha’ kepada kelompok yang menganggap syafa’at itu tidak ada dan menuduh syirik dan sesat bagi orang yang meyakini adanya syafa’at Rasulullah, bahwa mereka ini orang yang tidak pernah ngaji dalam arti ilmunya terbatas, pemikiran sempit dan pemahamannya dangkal. Sebagaimana sikap Sayyid Muhammad kepada mereka.

Sikap kepada mereka yang suka menyalahkan, menuduh dan mengklaim sesat harus dilakukan dengan tegas dan memberi peringatan bahwa pemahaman mereka keliru. Tujuannya untuk menangkal pemahaman mereka yang berusaha merusak pemahaman yang sudah kita yakini sebagai muslim ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyyah.

(Gus Tama)

Yutub Kalam Kajian Islam https://www.youtube.com/watch?v=DpCix1W6WP4&t=917s

Like this Article? Share it!

Leave A Response


Translate »