Potret Sejarah IKSASS Badung dan Wasiat Kiai As’ad

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Email

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Rudiyanto

Setiap organisasi memiliki kisah tersendiri atas kelahirannya. Seperti IKSASS Badung, terlahir dari wasiat Kiai As’ad yang berisi, santri saya ketika pulang ke masyarakat harus mengabdi, diantaranya : Aktif di NU, memikirkan pendidikan, dan memikirkan ekonomi masyarakat.

Tidak sampai disitu, lanjutan wasiatnya, “Santri saya meskipun kaya dan pintar kalau tidak mengabdi saya pingin tahu kesempurnaan hidupnya. Sebaliknya, walaupun miskin, bodoh, tapi mengabdi ke masyarakat dengan syarat jujur, tekun dan Ikhlas, maka rasakan kesempurnaan hidupnya,” dawuhnya.

Wasiat ini familiar dikalangan Santri Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo. Maka cukup aneh jika alumni Sukorejo ketika terjun ke masyarakat tidak melaksanakan wasiat tersebut.

Kisah ini disampaikan oleh Ahmadi, sosok yang memiliki ide cikal bakal lahirnya Ikatan Santri & Alumni Salafiyah-Syafi’iyah (IKSASS) Kab. Badung. Ahmadi menyadari, keberadaan IKSASS sangat dibutuhkan, selain sebagai wadah pengabdian dimasyarakat, juga wadah pengabdian untuk pesantren.

Ahmadi, salah satu penggagas berdirinya IKSASS Badung (kanan) bersama KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy (Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo)

Pengabdian di masyarakat seperti memaksimalkan peran alumni dari sekian potensi yang dimilikinya, baik sebagai ust, guru, akademisi, pengusaha, budayawan, sampai politikus. Dengan adanya IKSASS, maka peran alumni bisa lebih terorganisir dan saling terkoneksi.

Pengabdian pada pesantren, dalam hal ini jelas menjadi tugas utama IKSASS sebagai tangan panjang pesantren di masyarakat, khsususnya sebagai jembatan kepentingan-kepentingan pesantren, alumni dan wali santri agar lebih efektif.

Seperti ketika pesantren mengadakan Haul, Maulid, dll. Peran IKASS dapat berupa menggerakkan para alumni untuk solid/kompak hadir, serta membantu dengan materi. Selain itu, ketika kepulangan santri di saat liburan, atau sebaliknya, kembalian santri ke Ponpes, maka peran IKSASS memfasilitasi dan mendampingi kegiatan tersebut berjalan lancar. Dan banyak kegiatan lain yang serupa.

Lebih spesifiknya Ahmadi menjelaskan, sebelum ada IKSASS, kehadiran keluarga Ponpes Sukorejo kurang mendapat sambutan yang maksimal dari para alumni. Hal itu disebabkan minimnya info dan tidak ada yang menggerakkan. Namun dengan adanya IKSASS, kejadian-kejadian tersebut tidak terulang kembali, justru sebaliknya, para alumni dan wali santri antusias menyambut kehadirannya.

Begitupun yang disampaikan Syaifur Rijal, salah satu penggerak lahirnya IKSASS Badung. Menurutnya, kala itu dirinya merasa cemburu terhadap beberapa daerah yang sering kehadiran Keluarga Sukorejo, namun mengapa Badung sendiri yang memiliki ratusan alumni jarang didatangi beliau-beliau.

Akhirnya Syaifur bersama dua karibnya, Ahmadi dan Muhawi berembuk untuk membuat IKSASS. Singkat cerita, ketiga orang tersebut bersilaturahim kepada alumni-alumni yang lain. Alhasil, terkumpul 7 orang di Musholla Al Ishlah Alit Bungalow, Tuban, Kuta, Badung. Rapat selanjutnya dihadiri 11 orang dengan tempat yang sama. Sampai akhirnya rapat di Masjid Asasuttaqwa Tuban Timur, Kuta, Badung dengan peserta 40 orang menyepakati Ust. H. Ilyas menjadi Ketua IKSASS Badung.

Hasil musyawarah inilah kemudian dihaturkan ke mendiang KHR. Ach. Fawaid As’ad Pengasuh Ponpes Sal-Syaf Sukorejo ke 3 oleh perwakilan dua calon pengurus IKSASS Badung, Ahmadi dan Fauzi.

Alhamdulillah, waktu itu Kiai Ach Fawaid langsung merestui terbentuknya IKSASS Badung, bahkan datang langsung ke Bali bersama Al Fayage atas permintaan pengurus IKSASS Badung untuk melantiknya, tepatnya pada tahun 2006 antara bulan April atau Juni.

Sebelum itu, setelah selesai sowan ke Kiai Fawaid, Ahmadi dan Fauzi kembali pulang ke Bali. Namun na’as, dalam perjalanan mereka kecelakaan di Alas Jati, Situbondo hingga akhirnya keduanya mengalami cedara : Ahmadi cedara bahu kanannya, Fauzi cedera bahu kirinya.

Demikian sekilas potret sejarah lahirnya IKSASS Badung. Saat ini, IKSASS Badung sudah cukup besar dan dikenal masyarakat. Program-programnya sangat bermanfaat, dan yang lebih membanggakan, kekompakan alumninya terlihat sudah terbangun dari sekian kegiatan besar yang diadakan dengan saling bahu membahu.

Namun, semua itu tidak lepas dari para pendiri/penggagas. Melalui merekalah, Bendera IKSASS berkibar sampai sekarang.

….Al Fatihah untuk Almarhum Kiai Fawaid

(Penulis adalah Sekretaris IKSASS Badung, Bali)

 

diunggah oleh:

Picture of Dadie W Prasetyoadi

Dadie W Prasetyoadi

ADMIN ASWAJA DEWATA

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »