Monday 30th November 2020,

Beningnya Hening

Dadie W Prasetyoadi June 10, 2019 perspektif No Comments on Beningnya Hening
Beningnya Hening
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Diam itu Emas, kalimat bijak yang umum difahami sebagai tindakan seseorang untuk menyembunyikan kegundahan hati, menahan emosi, atau menghindari konfrontasi terhadap sesuatu yang tak sesuai dengan kehendak hati.

Diam adalah pilihan menuju ke-tidak berpihak-an terhadap apapun, walau sebenarnya tetap berpihak… Begitulah, diam adalah berpihak kepada kesejatian dan kejujuran hati tanpa memaksakannya untuk diterima oleh orang lain, menyatakan pilihan tanpa menyuarakan.

Diam pula yang seringkali dapat mendatangkan keheningan hati, yang didalamnya kita mudah temukan jawaban atas segala pertanyaan yang mendera jiwa, hapuskan dahaga akan ke-ingintahu-an untuk melangkah lebih jauh bagi diri seseorang, sebagai ekspresi keberadaannya di tengah semesta.

Hanya saja diam tidak selalu dapat diterima sebagai langkah yang bijak bagi sebagian orang. Banyak ditemui bahwa aksi diam oleh seseorang dianggap sebagai suatu kelemahan, kekalahan, dan kebodohan. Padahal banyak hal-hal penting berhasil diputuskan dan dinikmati saat keheningan itu ada. Ambil saja contoh mudah saat kita mencoba untuk tidur atau beristirahat, bermeditasi, berdoa, saat rapat-rapat penting, bahkan saat menonton film di bioskop, kemampuan untuk diam adalah hal utama yang dibutuhkan dalam situasi-situasi seperti itu, untuk menyerap inti secara gamblang dan maksimal.

Kemampuan untuk mendengar suara hati dan mensinergikannya dengan kondisi yang dihadapi, serta mengolahnya menjadi informasi yang berguna sering tidak dimanfaatkan secara maksimal dan dilupakan untuk dilakukan.

Seperti hingar bingar perpolitikan di negara kita akhir-akhir ini yang serta merta memancing setiap orang menyuarakan isi kepalanya meski tanpa kapasitas yang memadai. Entah karena minimnya ilmu, latar belakang cara pandang berbeda, ataupun hanya karena hysteria olah pikir. Setiap orang ingin dipandang memiliki pemikiran lebih brilian daripada orang lain, yang menurut logika terkadang dapat diterima namun pada akhirnya tetap menyisakan perdebatan tak berujung bahkan kerap memunculkan situasi baru pada aspek-aspek lain yang lebih buruk dari sebelumnya, ini disebabkan karena minimnya suara hati yang berhasil diutarakan.

Bagaimana tidak? Jika semua tetap lebih sering hanya bersikukuh dengan kemampuan akal untuk mencari hakikat sebuah masalah, maka yang didapat akan selalu terbatasi oleh sisi materialism, kebendaan duniawi yang kasat mata tanpa menyentuh inti. Ini dapat diartikan laksana mengaduk-aduk air yang sudah keruh.

Lalu bagaimana kita dapat melihat sesuatu dengan lebih jernih? Hendaknya kita simak lagi apa yang pernah disampaikan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), “Kita tidak hanya perlu belajar berbicara untuk menjelaskan, tapi juga perlu belajar diam untuk mendengarkan”. Artinya, jika air sedang dalam keadaan keruh, tak perlu menambahnya dengan menceburkan diri disana, tapi cobalah mendiamkannya agar kembali tenang hingga sang air mengendapkan segala partikel-partikel didalamnya. Sehingga setidaknya dalam proses ini kita dapat melihat jawaban sejati yang kita inginkan dalam beningnya hening.

(dad)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »