Tuesday 03rd August 2021,

Diskusi Aktivis Media NU Bali Hadirkan Penulis Buku “Menjerat Gus Dur”

Diskusi Aktivis Media NU Bali Hadirkan Penulis Buku “Menjerat Gus Dur”
Share it

ASWAJADEWATA.COM | DENPASAR

Semakin dekatnya gelaran Pilkada serentak di Indonesia pada 9 Desember mendatang guna memilih pemimpin daerah di berbagai provinsi, kabupaten dan kota menjadikan suhu politik kembali menghangat. Lagi-lagi di sini peran media yang sangat penting sebagai pusat informasi masyarakat terkait pilihan yang akan dijatuhkan kepada setiap calon yang diusung.

Menyikapi hal tersebut, beberapa pegiat media online dari kalangan Nahdlatul Ulama Bali mengadakan diskusi terbatas dengan tujuan meningkatkan kualitas sajian artikel maupun berita apapun tentang Pilkada ini.

Pilkada yang juga merupakan pesta demokrasi seyogyanya tidak saja sebagai proses pemilihan pemimpin yang akan menentukan maju tidaknya sebuah daerah dan masyarakatnya, namun juga dapat menjadi ajang edukasi politik sehat dan membangun wawasan setiap masyarakat.

Virdika Rizky Utama, penulis buku “Menjerat Gus Dur” yang sempat menghebohkan kalangan politikus beberapa waktu lalu sengaja didatangkan sebagai narasumber mengingat dirinya cukup lama dikenal sebagai jurnalis dan wartawan majalah Gatra dan juga Narasi TV sebelum menulis buku tersebut. Selain Virdika, diundang pula Jemima Mulyandari yang adalah penulis seword.com.

Peran Media di Tengah Pilkada

Diskusi dengan mengambil tema “Media di Tengah Pilkada” itu dihadiri sekitar 30 pegiat dan aktivis media berlangsung di Denpasar pada Jumat malam (11/9).

Sebagai pembuka, Jemima berpendapat bahwa dalam Pilkada khususnya di Bali, tidak terlalu kental dengan politik identitas seperti daerah lain. Hanya saja peran ketokohan atau figur dari personal sebagai simbol representasi partai pengusung sangat kuat terasa.

“Ikatan emosional dengan figur tokoh masih sangat kuat terasa di Bali. Misalnya Sukarno atau Megawati dengan partai PDIP nya, sehingga siapapun yang diusung sebagai calon untuk dipilih tidak begitu dipusingkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat harus mulai mendapat informasi yang benar dan objektif tentang program-program yang dibawa dan ditawarkan setiap calon tersebut.

“Ini lebih penting, bagaimana masyarakat memilih tidak saja hanya berdasarkan figur, tapi juga program-program yang dibawanya. Sehingga dapat membawa perubahan yang baik bagi kehidupan masyarakat di periode kepemimpinannya nanti,” terangnya.

Kemudian Virdika yang berbicara tentang fungsi media dalam sebuah negara demokrasi mengatakan bahwa perkembangan media di Indonesia sekarang sudah pada jalur yang tepat. Namun saja pelaku-pelakunya harus senantiasa dapat menjaga sikap profesionalisme dalam melakukan tugas jurnalisme.

“Selain dituntut objektif, media juga hendaknya kritis. Walaupun kadang sulit untuk bersikap netral dan bertentangan dengan hati nurani, tapi kita harus sebisa mungkin menyampaikan sesuatu berdasarkan fakta yang ada di lapangan disertai bukti-bukti investigasi yang membuat masyarakat dapat berpikir jernih dalam memutuskan pilihannya,” tegas Virdika yang diiyakan oleh Jemima.

Pengalaman Virdika dalam menulis buku “Menjerat Gus Dur” yang dianggap sangat politis itu membuatnya semakin memahami sejarah perpolitikan di Indonesia, terlebih saat era reformasi.

Diskusi malam itu semakin menarik karena peserta mengajukan pertanyaan yang beragam seputar tema, termasuk peran Dewan Pers sebagai arbitrase yang menjamin dan melindungi kebebasan pers yang bertanggung jawab. Sehingga fungsi pers/media sebagai salah satu tiang penunjang berlangsungnya kehidupan bernegara dapat terwujud.

diskusi berlangsung dengan santai dan hangat

Dalam diskusi ini akhirnya dapat dipetik kesimpulan bahwa integritas media sangat diperlukan, agar mendapat kepercayaan masyarakat. Sehingga masyarakat tidak terjerumus kepada berita-berita dari media propaganda yang tidak bertanggung jawab, yang akan menjadi pembodohan publik lewat opini-opini yang dibangun.

Kegiatan yang diadakan cukup sederhana ini dirasakan sangat bermanfaat, seperti dikatakan oleh Pepeng, seorang peserta dari unsur PMII yang hadir.  Dirinya berharap agar diskusi seperti ini dapat dilakukan secara reguler nantinya, agar masyarakat dapat semakin dewasa menyikapi dinamika politik lewat edukasi media.

“Terpenting adalah bagaimana mencegah hoax dan fitnah lewat media sehingga tidak dikonsumsi oleh masyarakat awam,” harapnya.

Temu Aktivis Media ini diadakan oleh LTN NU Badung berkolaborasi dengan IKA PMII Badung, BLB, IKSASS serta didukung oleh Aswajadewata.com dan NUpedia.id selaku media partner.

 

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi
Editor: Abdul Karim Abraham

 

 

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »