Saturday 31st July 2021,

Jangan Bersedih, Semua Sesuai dengan Qadha’ dan Qadar

Jangan Bersedih, Semua Sesuai dengan Qadha’ dan Qadar
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Qowi Alaska

Percayalah akhir dari malam yang gelap gulita adalah fajar shadiq

Bencana alam seolah tak ada hentinya melanda tanah air kita. Bahkan di awal tahun 2021 ini, bencana alam ibarat ‘maraton’ dari satu daerah ke daerah lainnya.
Tentu masih segar diingatan betapa kewalahan kita menghadapi gempuran covid-19 (virus corona) yang sampai saat ini belum ada satu orang pun yang bisa berdamai dengan virus mematikan tersebut.

Segala ikhtiar telah di lakukan; mulai dari mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan tak ketinggalan tanggal 13 Januari tahun 2021 lalu pemerintah menggalakan program vaksinasi untuk memutus penyebaran dan melawan virus ganas tersebut
Meski begitu nyatanya korban semakin meroket. Dilansir dari laman Covid19.go.id, hingga kamis (20/1) total yang terkonfimasi sudah mencapai 939.948 kasus positif corona. Sementara itu, jumlah yang sembuh sebanyak 763.703 orang. Sedangkan jumlah orang yang meninggal sebanyak 26.857 orang.

Sabtu siang tanggal 9 Januari 2021 kita di kagetkan atas musibah jatuhnya pesawat B-737 Sriwijaya Air Flight SJ 182 setelah take off dari Soekarno Hatta International Airport Jakarta menuju Pontianak.

Belum usai pencarian korban dan bangkai pesawat SJ 182. Indonesia kembali didera duka mendalam akibat gempa bermagnitudo 6,2 pada Jumat pukul 01.28 WIB (14/01/2021).
Okezone. Com melaporkan Selasa (19/1/2021), sudah ada 90 korban tewas yang terdata di Majene dan Mamuju. 90 korban tewas itu terdiri dari 79 orang di Mamuju, dan 11 di Majene.

Tak cukup itu, di Provinsi Jawa Barat, tanah longsor menimbun warga di Kabupaten Sumedang. Intensitas air yang cukup tinggi mengalir dan menyapu apapun yang dilewatinya di Kalimantan Selatan ( Kalsel ). Korban jiwa berjatuhan dan kerugian materi sudah tak terhitung berapa besarnya.

Mengapa semua ini terjadi, apakah alam sudah enggan bersahabat dengan kita?. Atau manusia sebagai khalifah di bumi ini sudah tak mumpu mengelolanya dengan baik?. Sehingga hukum alam ini yang susah sekali untuk mengelakkannya.

Sekedar contoh apabila manusia mecabut pohon – pohon di hutan dan menggantinya dengan tanaman beton, maka yang terjadi adalah banjir besar yang bisa meluluh lantakan orang yang tak bersalah sekalipun.

Namun demikian, disana juga terdapat musibah yang tidak hanya disebabkan oleh tangan manusia. Angin yang tadinya mendistribusi awan (QS al-Baqarah :164) dan menyebabkan penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Kahfi :45), tiba-tiba tampil begitu beringas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilalewatinya (QS Fushshilat :16).
Gunung-gunung yang tadinya sebagai pasak bumi (QS al-Naba’ :7), tiba-tiba memuntahkan debu vulkanik, lahar panas, dan gas beracun (QS al-Mursalat :10 ) seperti erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur yang memuntahkan isinya. Muntahan abu vulkanik yang muncul terbawa angin dan menyesakkan nafas dan membuat orang – orang disekitarnya ini menderita.

Maka, bagaimana kita harus menyikapi musibah yang memang diluar batas kemampuan manusia untuk mengelolanya? Utamanya umat muslim yang mayoritas di negri ini-Indonesia

Sensus Penduduk Indonesia 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam (Indonesia merupakan wilayah dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, 6,96% Kristen Protestan, 2,9% Kristen Katolik, 1,69% Hindu, 0,72% Buddha, 0,05% Konghucu, 0,13% agama lainnya, dan 0,38% tidak terjawab atau tidak ditanyakan. (baca: wikipedia)

Sebagai seorang muslim, tentunya mendasari hidupnya dengan islam. Artinya, menjadikan islam sebagai whay of life, rule of thinkking, stite of mine dalam memecahkan problem – problem kehidupan

Misal Pertama, Semua hal akan terjadi sesuai qadha’ dan qadar. Segala sesuatu itu ada dan akan terjadi sesuai dengan qadha’ dan qadar-nya. Ini merupakan keyakinan orang – orang Islam dan pengikut setia Rasulullah s. a. w. Yakni, segala musibah apa pun seperti wabah penyakit, gempa bumi, banjir, sudah ditulis oleh Allah dalam Lauhul Mahfuzh.

“Tiada suatu bencana pun yg menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yg demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid : 22)

Kedua, Sabar. Sikap inilah yang mesti ada di dalam jiwa peribadi muslim saat menghadapi musibah. “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan bersabar dan mengerjakan sembahyang, karena sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah :153).
Selain itu, juga disunnahkan mengucapkan (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun) ketika terjadi musibah

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yg sabar. Orang-orang yg apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’” (QS al-Baqarah : 155-156).

Ketiga, adalah ikhtiar. Ialah tetap melakukan pelbagai usaha untuk memperbaiki keadaan dan menghindarkan diri dari pelbagai bahaya-bahaya yang muncul akibat musibah. Jadi kita tidak boleh diam saja, atau pasrah berpangku tangan menunggu uluran tangan orang.
Jadi, beriman kepada ketetapan Allah s. w. t. tidaklah berarti kita hanya diam termenung meratapi nasib yang remuk redam, tanpa berupaya mengubah apa yg ada pada diri kita.
“Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengubah Keadaan Suatu Kaum, Sebelum Kaum Itu Sendiri Mengubah Apa Yang Ada Pada Diri Mereka,” (QS. Ar-Ra’d:11)

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »