Thursday 18th July 2024,

Masjid Al – Abror, Bukti Perjuangan Islam Bersama Kerajaan Ubud Melawan Penjajah

Masjid Al – Abror, Bukti Perjuangan Islam Bersama Kerajaan Ubud Melawan Penjajah
Share it

ASWAJADEWATA.COM | GIANYAR

Oleh: M Kasim (Alm)

Diriwayatkan dari Alm. Cokorda Oka yang berasal dari Puri Kantor Ubud bahwa sekitar Tahun 1874 di wilayah Pantai Pabean, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar, terdapat pelabuhan tradisional yang menjadi tempat persinggahan para nelayan dan pedagang dari Bugis, Sulawesi Selatan.

Kaum pedagang membawa kain sutra, sarung, permata dan perhiasan lainnya. Dan para nelayan berlabuh untuk beristirahat maupun memperbaiki kapal. Meskipun saat itu Pantai Pabean masih berupa semak belukar yang tak berpenghuni.

Dikarenakan kondisi saat itu para nelayan dan pedagang kesulitan mencari bahan makanan, mengharuskan mereka untuk tinggal lebih lama. Hal ini kemudian diketahui oleh prajurit Kerajaan Ubud, dan dilaporkan kepada Cokorda (Raja Ubud). Hingga Raja mengutus para punggawa untuk melakukan negosiasi agar pedagang dan nelayan Bugis tersebut membantu Kerajaan Ubud melawan kolonial Belanda.

Kemudian pedagang dan nelayan Bugis tersebut bersedia untuk membantu Kerajaan Ubud menghadapi Kolonial Belanda dan musuh – musuh Kerajaan Ubud. Alhasil, Kerajaan Ubud memperoleh kemenangan gemilang. Raja Ubud pun senang dan bangga atas perjuangan mereka. Sehingga pedagang dan nelayan Bugis tersebut diberi hadiah untuk menempati Pantai Pabean dengan syarat tetap membantu Kerajaan Ubud.

Mimbar Imam Masjid Al Abror, Ketewel, Gianyar saat ini (dok. Takmir)

Namun perjalanan kehidupan di masa Kolonial Belanda tidaklah mudah, Belanda terus menggempur Kerajaan Ubud. Belanda pun mengadu domba kerajaan – kerajaan lain di Bali untuk turut menggempur kerajaan Ubud. Namun kuatnya persatuan antara Kerajaan Ubud, rakyat Ubud dan ummat Islam yang merupakan para pedagang dan nelayan dari Bugis tersebut dapat mematahkan serangan – serangan musuh hingga tetes darah penghabisan.

Seiring waktu, dengan bermukimnya pedagang dan nelayan Bugis yang beragama Islam tersebut, maka berkembang dan beranak pinak. Serta turut pula dibangun Masjid sebagai sarana ibadah yang masih eksis hingga saat ini.

Pasca kemerdekaan ummat Islam tersebut tetap harmonis dengan warga sekitar dengan gotong royong yang kental. Tahun 1950, Masjid ini direnovasi dan diberi nama Masjid Daun Pisang Ketewel. Dan tahun 1980 kembali di renovasi dan berganti nama menjadi Masjid Al – Abror.

Narasumber: Syamsul Ma’arif (Ketua Takmir Masjid Al – Abror Ketewel) | Editor: Agus Surya

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »