Tuesday 01st December 2020,

Pemuda Tanah Air (Syubbanul Wathon)

Dadie W Prasetyoadi October 19, 2019 Kebangsaan No Comments on Pemuda Tanah Air (Syubbanul Wathon)
Pemuda Tanah Air (Syubbanul Wathon)
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Kegundahan Kiai Abdul Wahab Hasbullah sekembalinya dari belajar di Kota Mekkah (1914) terpicu oleh kendurnya semangat nasionalisme pemuda di daerah asalnya, Jombang, Jawa Timur.

Putra KH. Hasbullah Said pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang ini lalu mendirikan organisasi kepemudaan  bernama Nahdlatul Wathon pada tahun 1916. Organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan dengan sasaran para pemuda.

Semangat nasionalisme Kiai Wahab muda yang membara berusaha terus diwujudkan melalui nafas pendidikan yang kemudian melahirkan forum diskusi seperti Tashwirul Afkar bersama KH Ahmad Dahlan Ahyad dan KH. Mas Mansyur di tahun 1918. Karena saat itu pemerintah kolonial Belanda mempersulit pendirian organisasi-organisasi kepemudaan baru, maka bergabunglah Tashwirul Afkar dengan perkumpulan Suryo Sumirat yang didirikan oleh anggota perhimpunan Organisasi nasionalis Budi Utomo pimpinan Dr. Soetomo di Surabaya yang lebih dulu eksis dan memiliki legitimasi kuat di mata rakyat.

Dikarenakan tertarik dengan kecemerlangan pola pikir para ulama-ulama muda yang tergabung dalam tashwirul Afkar, membuat Dr. Soetomo akhirnya justru banyak bergaul dengan mereka. Menurut Ensiklopedi NU, pada tahun 1919, Tashwirul Afkar berkembang menjadi sebuah madrasah yang bertempat di Ampel dengan KH. Ahmad Dahlan Ahyad ditunjuk sebagai kepala sekolahnya.

pada tahun 1920-an, Tashwirul Afkar merupakan satu-satunya madrasah yang didirikan kalangan pesantren di Kota Surabaya yang menggunakan sistem berjenjang. Perkembangan ini merupakan prestasi awal dari para kiai yang kelak bakal mendirikan NU di kota yang sama pada 1926.

Disinilah benang merah karakter Nasionalis Religius terajut erat dalam semangat para pemuda (santri) untuk memperjuangkan kemerdekaan Bangsa, dibarengi dengan gerakan pembangunan intelektual masyarakat pesantren lewat lembaga pendidikan.

Hebatnya lagi, kiprah Kiai Wahab Hasbullah tidak hanya disini. Kiai muda jenius itu sebelumnya telah menciptakan lagu berlirik bahasa Arab dan Melayu dengan judul ‘Ya Lal Wathon’ pada tahun 1916 yang sangat menginspirasi kaum muda dan membangkitkan semangat perjuangan kemerdekaan. Diriwayatkan bahwa lagu ini menjadi lagu wajib para santri sebelum memulai pelajaran setiap hari pada masa itu.

Gerakan KH. Abdul Wahab Hasbullah berlanjut dengan membentuk ‘Syubbanul Wathon’ (Pemuda Tanah Air) sebagai wadah gerakan perjuangan santri di tahun 1924 sebagai akibat konfliknya dengan KH. Mas Mansyur karena berbeda pandangan. Berawal dari Syubbanul Wathon inilah yang akhirnya menjadi embrio lahirnya Laskar Hizbullah, Ansor, dan bahkan beberapa anggotanya turut berperan dalam pendirian Nahdlatul Ulama.

Berikut syair lagu Ya Lal Wathon ciptaan Sang Ketua Komite Hijaz yang kini masyhur dinyanyikan oleh warga Nahdliyin itu;

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”

(dad)

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »