Tuesday 25th February 2020,

Orang Mati Tak Bisa Berkomunikasi dengan Orang Hidup, Itu Anggapannya Orang Goblok

Orang Mati Tak Bisa Berkomunikasi dengan Orang Hidup, Itu Anggapannya Orang Goblok
Share it

ASWAJADEWATA.COM- Ada kelompok yang beranggapan bahwa orang yang sudah mati tidak bisa melakukan apapun, termasuk berkomunikasi dengan orang yang hidup. Karena keyakinan mereka ini, orang yang mati sudah menjadi tanah.

Anggapan mereka tidak hanya menjadi keyakinan yang dipilihnya dalam beragama, ternyata mereka mengampanyekan anggapan mereka itu dengan cara menyalahkan orang-orang yang tidak mengikuti keyakinan mereka.

Tidak segan-segan mereka menuduh orang yang berbeda dengan mereka, dengan tuduhan sesat, khurofat, kufur dan ahli neraka. Seolah anggapan mereka yang paling benar, keyakinan mereka sudah sesuai dengan ajaran Islam, dan pendapat orang lain dianggap salah.

Berbeda pendapat itu wajar, bahkan berbeda meyakini sesuatu yang ada dalam ajaran Islam juga menjadi fitrah. Namun, jika perbedaan itu dijadikan alasan untuk menuduh orang lain salah dan menganggap dirinya yang paling benar, hal ini bukan yang diajarkan Nabi Muhammad saw.

Padahal mereka sendiri tidak menyadari bahwa anggapan dan keyakinan mereka itu salah besar. Semisal terkait orang yang mati diyakini tidak bisa melakukan apapun, karena orang yang mati sudah rata menjadi tanah. Sebagaimana yang dijelaskan secara tegas dalam kitab Mafahim Yajibu Antushahhah,

أما دعوى أن الميت لا يقدر على شيء فهي باطلـة لأنـه إن كان ذلك لكونهم يعتقدون أن الميت صار ترابـاً فهذا عين الجهل بما ورد عن نبينـا بل  عن ربنا جل جلاله من ثبوت حياة الأرواح وبقائها بعد مفارقة الأجسام ومناداة النبي لها يوم بدر : ((يا عمرو بن هشام ويا عتبة بن ربيعة ويا فلان ابن فلان إنا وجدنا ما وعدنا ربنا حقاً فهل وجدتم ما وعد ربكم حقاً))

“Adapun klaim bahwa orang mati tidak mampu melakukan apapun, maka hal ini adalah klaim yang salah. Karena jika pandangan ini dikarenakan golongan Wahabi meyakini bahwa orang mati telah menjadi tanah, berarti pandangan ini adalah kebodohan yang nyata terhadapn hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan firman Allah yang menetapkan adanya kehidupan arwah dan kekekalannya setelah berpisah dari jasad, dan panggilan Nabi terhadap arwah pada perang Badar,  “Wahai Amr bin Hisyam ! Wahai Uthbah bin Rabi’ah, Wahai Fulan bin Fulan ! Sungguh kami menemukan janji Tuhan kami benar adanya. Apakah kalian menemukan janji Tuhan kalian benar adanya ?” tanya Nabi. Seseorang bertanya : “Mengapa engkau memanggil-manggil orang yang telah mati?” “Kalian tidak lebih mendengar terhadap ucapanku daripada mereka”, jawab Nabi.”

Fakta lain bahwa adanya kehidupan arwah adalah Nabi selalu memberi salam pada penghuni kubur, adanya siksa dan kenikmatan kubur, dalil tentang kehidupan arwah telah dibuktikan berdasarkan hadits-hadits qath’i.

Lebih tegas, dalam kitab Mafahim dinyatakan, jika kelompok Wahabi tidak meyakini bahwa orang-orang yang mati syahid hidup di sisi Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam Alqur’an, maka sudah jelas mereka memiliki keyakinan yang mendustakan ayat tentang hidupnya orang yang mati syahid.

أيعتقدون أن الشهداء أحياء عند ربهم كما نطق القرآن بذلك أم لا ؟ فإن لم يعتقدوا فلا كلام لنا معهم لأنهم كذبوا القرآن حيث يقول

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Baqarh: 154)

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gurur di jalan Allah itu mati. Bahkan, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki” (QS. Ali Imran: 169)

إن الاستغاثة والتوسل إن كان المصحح لطلبها هو الحياة كما يقولون فالأنبياء أحياء في قبورهم وغيرهم من عباد الله المرضيين

Sesungguhnya para Nabi, orang-orang saleh atau orang-orang yang mendapat rido Allah senantiasa hidup.

Kesimpulannya, berbeda pendapat boleh-boleh saja, asalkan jangan sampai menuduh dan mengklaim orang yang berbeda pendapat dengan kata-kata yang jauh dari ajaran Nabi Muhammad saw. seperti caci maki atau kata kotor. Karena dalam ajaran Islam dan dakwah Nabi, tidak ada kata yang seperti itu kecuali dari orang-orang munafiq dan goblok.

Leave A Response


Translate »